SOLOBALAPAN.COM - Valentine Day merupakan salah satu perayaan kasih sayang yang diberikan kepada orang terkasih.
Perayaan Valentine Day diperingati setiap satu tahun sekali, tepatnya di tanggal 14 Februari, sehingga moment ini banyak dimanfaatkan untuk mengungkapkan kasih sayang.
Kasih sayang dalam Valentine Day bukan hanya untuk pasangan, melainkan juga bagi orang tua, keluarga, sahabat dan lain sebagainya.
Namun, Valentine Day ini mendapatkan pro kontra di masyarakat karena merupakan kebudayaan barat yang dibawa ke Indonesia.
Biasanya beberapa hadiah sangat identik dengan Valentine Day, diantaranya cokelat, bunga, snack, boneka, dan kado lainnya.
Dilansir dari ppid.serangkota.go.id, ternyata Valentine Day diambil dari kisah orang suci yang beragama kristen.
Orang itu bernama St. Valentine yang diceritakan memiliki kisah percintaan namun harus berakhir dengan tragis.
Saat itu St. Valentine dianggap menentang kebijakan seorang kaisar yaitu Claudius II. Maka dari itu St. Valentine dipukuli, diancung, hingga di eksekusi pada 14 Februari 278 masehi.
Sejarah lain terkait Valentine Day yaitu asal-usul kartu Valentine yang berasal dari seorang pria bernama Charles Of Orleans yang menulis dan dianggap jadi kartu Valentine.
Diketahui, surat cinta yang ditulis itu untuk istrinya yang kini disimpan di British Library.
Sejarah itulah yang akhirnya menjadi awal mula masyarakat untuk ikut menyampaikan rasa kasih sayangnya saat Valentine Day.
Mereka memberikan ungkapan kasih sayang melalui tulisan dan memberikan sebuah kado untuk orang terkasihnya.
Namun, pereyaan ini pro kontra dengan masyarakat di Indonesia, apalagi bagi umat muslim yang tidak boleh meyakini budaya ini.
Selain merupakan budaya barat, Valentine Day juga tidak pernah ada dalam Islam. Apalagi memberikan beberapa benda atau hadiah yang tidak ada kaitannya dengan Islam.
Pro kontra inilah yang akhrnya sebabkan beberapa spekulasi dari masyarakat. Namun, sebenarnya semua hanyalah sebuah kepercayaan, menghargai untuk penganutnya dan menjalankan bagi yang mempercayainya. (nda)
Editor : Nindia Aprilia