SOLOBALAPAN.COM - Tren Sarkem Date nyatanya mampu memberikan dampak positif meskipun awalnya dianggap aneh.
Sarkem Date sendiri merupakan adaptasi dari tren date ideas yang sedang viral di TikTok.
Tren ini memberi chalange berupa mencari tempat-tempat romantis di kota masing-masing.
Di Kota Bengawan, Pasar Kembang (Sarkem) Solo dianggap beberapa orang sebagai tempat yang memenuhi kriteria tersebut.
Para generasi milenial di Solo menjadikan Pasar Kembang sebagai lokasi nge-date.
Entah kapan dan siapa yang mengawali, namun kawasan pasar pusat bunga di Jalan Honggowongso, Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan ini selalu ramai tiap sore menjelang malam.
Seperti dilakukan Arka Rafansyah, 17, yang datang bersama sang pujaan hati Stevanni Hardika Sari, 17. Dua sejoli ini sengaja datang ke Pasar Kembang untuk ikut-ikutan tren date ideas.
“Malah yang tahu (tren ini) pacar saya. Katanya ana-anak satu sekolah sudah pada ke sini semua. Ya sudah saya ikut saja,” ungkap Arka kepada Jawa Pos Radar Solo.
Remaja asal Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan ini mengaku deretan penjual bunga di Pasar Kembang menambah suasana kian romantis.
Mereka berkhayal sedang berada di tengah-tengah taman bunga.
“Menurut saya tren ini bisa menjadi destinasi wisata baru di Kota Solo. Tapi harus dibersihkan dulu pasarnya.
"Karena masih ada sampah berserakan. Kalau bisa bisa ditambah lagi tempat sampahnya,” imbuhnya.
Tak hanya pelajar, mahasiswa juga ikut-ikutan tren Sarkem Date. Seperti dilakukan Rachel Putri Lestari, 21.
Dara manis asal Bandung, Jawa Barat ini juga mengaku tertarik datang ke Pasar Kembang.
“Ke sini otomatis beli (bunga) ya. Tidak mungkin cuma pinjam bunganya, terus buat foto-foto, kemudian dikembalikan ke pedagangnya," katanya.
"Jadi tren ini bisa meningatkan pendapatan pedagang,” beber mahasiswa salah satu kampus swasta di Solo ini.
Di Pasar Kembang, Rachel mengajak teman-teman sekelasnya. Sayangnya, sejawatnya yang mayoritas asli Solo justru mengaggap tren ini aneh.
Pasalnya, mereka menganggap Pasar Kembang hanya menjual bunga tabur untuk pemakaman.
“Sempat diketawain saat mengajak ke sini. Dibilang mau nabur bunga di makam siapa. Akhirnya saya perlihatkan tren di TikTok. Eh..sekarang mereka ikut-ikutan,” ujar Rachel.
Di sisi lain, tren Sarkem Date memberi keuntungan bagi para pedagang bunga.
Omzet mereka melonjak tajam dan bisa menyentuh ratusan ribu hingga jutaan rupiah sehari.
“Sudah dua pekan ini ramai. Padahal biasanya ramai hanya saat hari Valentine, hari ibu, wisuda, dan yang lainya," kata pedagang di Pasar Kembang yang bernama Subroto.
Kebanyakan anak-anak muda,” tandasnya.
Omzet dalam sehari yang diraup Subroto di kisaran Rp 3 juta-Rp 5 juta. Rata-rata yang datang antara 30-40 remaja per hari.
“Biasanya yang beli bunga itu 20 orang dalam seminggu. Paling ramai Jumat dan Sabtu," katanya.
"Biasanya mulai datang pukul 15.00 itu yang anak-anak sekolah. Terus pukul 17.00 sampai malam yang datang anak-anak kuliahan,” ujar Subroto.
Tak hanya omzet yang meroket, usahanya juga kian dikenal masyarakat luas.
Soalnya, setelah membeli bunga, pelaku Sarkem Date selalu mem-posting di medsos.
“Jujur saya sudah tua, tidak tahu soal medsos. Jadi ya sangat terbantu sama anak-anak muda ini dari segi promosi,” paparnya.
Ditanya harga bunga, per buket dibanderol belasan hingga puluhan ribu rupiah. Dari sederet jenis bunga, paling jadi primadona adalah mawar putih.
“Saya ambil (bunga) dari Jawa Barat. Dulu pesan seminggu sekali. Sekarang tiga hari stoknya sudah habis,” bebernya lagi.
Sementara itu, tren Sarkem Date membuat para pedagang bunga lebih melek teknologi.
Sebagian pedagang yang usianya masih muda, lebih aktif lagi promosi di medsos.
Seperti dilakukan penjual yang berusia 24 tahun, Larasati.
Dia merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha jualan bunga di Pasar Kembang.
“Saya tanya sama yang beli, kok sering buat video? Ternyata mereka buat konten di TikTok. Ya sudah saya sekalian buat akun sendiri buat promosi,” ungkapnya.
Setelah promosi di medsos, efeknya sangat terasa.
Kiosnya yang berada di sisi selatan pasar selalu ramai dikunjungi pembeli.
Dia berharap tren bertahan lama. Sehingga seluruh pedagang di Pasar Kembang terkerek omzetnya setelah beberapa sempat ambruk sejak pandemi Covid-19. (atn/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro