SOLOBALAPAN.COM - Batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga sesak napas sering dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa. Namun, ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Indonesia, keluhan tersebut perlu mendapat perhatian lebih.
Kabut asap yang menyelimuti udara bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat membawa partikel berbahaya yang mengancam kesehatan, terutama sistem pernapasan. Salah satu masalah kesehatan yang kerap menjadi perhatian saat ini adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Penyakit ini dapat dialami siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Risikonya menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar asap.
Baca Juga: Kondisi Mencekam! Kualitas Udara di 12 Wilayah Karhutla Masuk Kategori Berbahaya, Kalteng Terparah
Apa Itu ISPA?
Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh virus, meskipun beberapa kasus dapat disebabkan oleh bakteri.
Gejala ISPA dapat berupa batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, bersin, hingga tubuh terasa lemas. Pada kondisi yang lebih serius, penderita dapat mengalami napas cepat atau sesak napas sehingga membutuhkan penanganan medis.
Meski demikian, tidak semua gangguan pernapasan saat kabut asap otomatis merupakan ISPA. Paparan asap juga dapat menimbulkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta memperburuk kondisi seperti asma.
Baca Juga: Dimasak dalam Balutan Daun Pisang, Kenali Keunikan Garang Asem Kudus dan Ragam Daerah Lainnya
Menurut Kementerian Kesehatan RI, penurunan kualitas udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Karena itu, gejala yang muncul ketika kualitas udara memburuk perlu diperhatikan, terutama apabila berlangsung terus-menerus atau semakin berat.
Bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung perlu mendapatkan perhatian khusus. Daya tahan tubuh dan kondisi kesehatan yang mendasari dapat memengaruhi kemampuan seseorang menghadapi infeksi maupun paparan polusi udara.
Jika tanda-tanda gejala ISPA muncul, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu hingga kondisi semakin memburuk.
Baca Juga: Dulu Digunakan untuk Menulis Naskah Kuno, Daluang Kini Masi Bisa Dilestarikan
Kebakaran Hutan di Sejumlah Provinsi Indonesia
Ancaman gangguan pernapasan menjadi semakin nyata ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam laporan tertanggal 21 Agustus 2026, Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa lebih dari tiga juta penduduk di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap.
Selanjutnya, laporan Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026 mencatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif yang dilaporkan dari 63 kabupaten/kota dari provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi perhatian serius dalam bidang kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Reaksi Menohok Mahfud MD Soal OTT KPK di BNPB: Bangsa Kita Betul-betul Sakit!
Bagaimana Asap Kebakaran Memengaruhi Saluran Pernapasan?
Asap kebakaran hutan mengandung campuran gas dan partikel kecil yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi serta bahan lainnya. Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, hingga sesak napas. Pada orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung, paparan tersebut dapat memperburuk gejala dan dalam kondisi tertentu memerlukan perawatan di rumah sakit.
Baca Juga: Stok Pertalite dan Pertamax Kosong di Bali, Pengamat Desak Usut Dugaan Permainan Oknum SPBU
Artinya, bahaya asap tidak hanya dirasakan oleh orang yang tinggal dekat dengan titik kebakaran. Asap dapat terbawa angin menuju wilayah lain, sehingga masyarakat yang jauh dari lokasi api pun berpotensi terdampak.
Meski asap bukan penyebab langsung semua kasus ISPA, polusi udara dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko masalah kesehatan. Karena itu, perlindungan terhadap paparan asap tetap penting dilakukan selama kebakaran berlangsung.
Lebih baik mencegah daripada mengobati
Di tengah kondisi udara yang tercemar, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah untuk mengurangi paparan asap dan menjaga kesehatan.
Pertama, pantau informasi kualitas udara melalui sumber resmi. Kedua, gunakan masker yang sesuai ketika harus keluar rumah. Masker respirator yang pas di wajah, seperti N95, KN95, atau KF94 yang memenuhi standar, dapat membantu menyaring partikel halus lebih baik dibandingkan masker kain biasa.
Baca Juga: Deretan Buku Pramoedya Ananta Toer yang Lahir dari Pengasingan di Pulau Buru
Ketiga, tutup pintu dan jendela ketika asap berada di luar rumah. Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan. Hindari pula menambah polusi di dalam rumah melalui aktivitas seperti merokok atau membakar sampah.
Keempat, perhatikan kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat asma atau penyakit jantung dan paru-paru. Jika mengalami keluhan yang tidak membaik atau semakin berat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu mengurangi paparan asap, tetapi bukan jaminan bahwa seseorang sepenuhnya terhindar dari ISPA. Pencegahan infeksi juga tetap memerlukan kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan menerapkan perilaku hidup sehat. (Adhima Aulia)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : https://kemenkes.go.id, https://www.who.int