Bahaya di Balik Nikmatnya Teh Tarik: Efek Kebiasaan Mencampur Susu dan Teh Bagi Kesehatan

tim solobalapan • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 18:35 WIB
Bahaya susu campur teh.(Google).
Bahaya susu campur teh.(Google).

SOLOBALAPAN.COM- Siapa yang bisa menolak kenikmatan segelas teh tarik hangat atau es teh susu kekinian di tengah cuaca terik? Kombinasi rasa pahit khas teh yang berpadu sempurna dengan tekstur gurih dan manis dari susu telah membuat minuman ini menjadi favorit jutaan masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Mulai dari kedai kopi modern hingga warung makan pinggir jalan, varian teh susu selalu menduduki peringkat teratas menu yang paling sering dipesan.

Baca Juga: 8 Surga Kuliner Legendaris di Pasar Nongko Solo: Dari Gendar Pecel hingga Es Buah Jumbo yang Menyegarkan

Namun, di balik cita rasanya yang memanjakan lidah, kebiasaan mengonsumsi teh yang dicampur dengan susu secara berlebihan menyimpan sisi gelap bagi kesehatan tubuh. Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa memadukan kedua bahan ini sebenarnya dapat saling menetralkan manfaat nutrisi masing-masing, bahkan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan jangka panjang.

Penyerapan Antioksidan Teh yang Terhambat

Teh, khususnya teh hitam dan teh hijau, secara alami kaya akan senyawa antioksidan kuat bernama katekin dan flavonoid. Senyawa ini sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah, menurunkan tekanan darah, melancarkan sirkulasi darah, serta melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Benarkah Minum Air Pecahan Genteng Saat Haid Pertama Sembuhkan Nyeri?

Ketika susu ditambahkan ke dalam seduhan teh, protein utama di dalam susu yang disebut kasein akan berikatan langsung dengan senyawa katekin pada teh. Ikatan kimia ini membentuk kompleks molekul baru yang sulit dicerna oleh tubuh. Akibatnya, kandungan antioksidan berharga di dalam teh mengalami penurunan fungsi secara drastis, sehingga manfaat perlindungan jantung dan pembuluh darah dari teh menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali.

Penghambatan Penyerapan Kalsium dan Zat Besi

Susu dikenal sebagai sumber kalsium yang sangat baik untuk menjaga kepadatan tulang dan gigi, sementara teh merupakan minuman segar yang sering mendampingi menu makan harian. Sayangnya, memadukan keduanya justru memicu masalah penyerapan nutrisi ganda.

Susu mengandung kalsium, tetapi teh juga memiliki kandungan asam oksalat. Ketika asam oksalat bertemu dengan kalsium di dalam saluran pencernaan, keduanya akan mengikat satu sama lain dan membentuk senyawa kalsium oksalat yang tidak dapat diserap oleh tubuh. Hal ini membuat kalsium dari susu terbuang sia-sia melalui proses ekskresi. Lebih lanjut, kandungan tanin yang pekat di dalam teh juga dikenal dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan yang kita konsumsi, sehingga kebiasaan meminum teh susu setelah makan dapat meningkatkan risiko anemia atau kekurangan sel darah merah.

Baca Juga: “Saya Toprak Makan Ketoprak”, Momen Kocak Rider Yamaha Jelang MotoGP Mandalika

Ancaman Diabetes dan Obesitas dari Gula Tambahan

Salah satu tantangan terbesar dari sajian teh tarik atau teh susu komersial adalah penggunaan jenis susu dan kadar gula yang sangat tinggi. Sebagian besar olahan teh tarik menggunakan susu kental manis atau krimer kental manis untuk menghasilkan cita rasa gurih yang pekat dan tekstur yang creamy.

Susu kental manis pada dasarnya mengandung kadar gula murni dan lemak jenuh yang tinggi dengan kandungan protein yang sangat sedikit. Kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula secara rutin dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara mendadak. Jika dilakukan terus-menerus, resistensi insulin dapat terjadi dan meningkatkan risiko penyakit diabetes melitus tipe 2, kenaikan berat badan berlebih (obesitas), serta gangguan metabolisme tubuh.

Masalah Pencernaan dan Risiko Batu Ginjal

Efek samping lain yang sering dirasakan setelah meminum teh susu adalah gangguan pada sistem pencernaan. Kandungan laktosa pada susu dapat memicu rasa kembung, begah, hingga diare bagi individu yang memiliki intoleransi laktosa. Selain itu, gabungan antara kafein dari teh dan lemak dari susu dapat merangsang produksi asam lambung berlebih, yang memicu rasa tidak nyaman atau nyeri ulu hati bagi penderita asam lambung.

Dalam jangka panjang, ikatan kalsium oksalat yang terbentuk dari campuran teh dan susu juga berpotensi mengendap di dalam ginjal. Jika kebiasaan ini tidak diimbangi dengan konsumsi air putih yang cukup, endapan kristal tersebut dapat menumpuk dan berisiko berkembang menjadi penyakit batu ginjal.

Baca Juga: Hemat Berujung Penyakit? Ini Fakta Mengejutkan di Balik Kebersihan Air Isi Ulang

Langkah Bijak Menikmati Teh dan Susu

Meskipun kebiasaan meminum teh campur susu memiliki berbagai dampak kurang menguntungkan bagi tubuh, bukan berarti Anda harus memangkas minuman ini sepenuhnya dari kehidupan sehari-hari. Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan mengatur pola konsumsi yang lebih sehat:

Pisahkan Waktu Konsumsi: Nikmati teh dan susu secara terpisah pada waktu yang berbeda agar tubuh dapat menyerap nutrisi dari masing-masing bahan secara maksimal.

Gunakan Susu Rendah Lemak: Jika ingin membuat teh susu di rumah, gunakan susu segar cair atau susu rendah lemak daripada menggunakan susu kental manis atau krimer buatan.

Batasi Penggunaan Gula: Kurangi atau hindari penambahan gula pasir berlebih agar tidak memicu lonjakan kalori harian.

Batasi Frekuensi: Jadikan teh tarik atau teh susu sebagai sajian sesekali, bukan sebagai minuman harian utama pengganti air putih.

Baca Juga: Keuntungan Juara Super League 2025/2026! Persib Bandung Langsung Lolos Perempat Final League Cup 2026/2027

Menjaga pola hidup sehat tidak selalu berarti membuang semua kenikmatan kuliner, melainkan memahami dampak dari apa yang kita konsumsi dan menyikapinya secara bijak demi kesehatan jangka panjang.(cindy amelia putri)

Editor : Kabun Triyatno
teh minuman obesitas diabetes susu