SOLOBALAPAN.COM - Setiap 29 September diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia. Momentum ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan jantung tidak harus menunggu sampai muncul keluhan atau memasuki usia lanjut.
World Heart Federation melalui kampanye Hari Jantung Sedunia 2026 mengajak masyarakat lebih aktif bergerak. Salah satu kampanyenya mendorong masyarakat meluangkan sekitar 20 menit untuk bergerak setiap hari, baik dengan berjalan kaki, bersepeda, berlari, menari, maupun aktivitas fisik lainnya.
Baca Juga: Dulu Menganggap Mr. Incredible Tak Pernah Puas, Setelah Dewasa Kita Mulai Paham Alasannya
Jantung sendiri bekerja tanpa henti untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Ketika kesehatan jantung dan pembuluh darah terganggu, risikonya dapat berkembang menjadi berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner dan stroke.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Sejumlah faktor risikonya sebenarnya berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, serta konsumsi alkohol yang berlebihan.
Lantas, apa saja yang bisa dilakukan untuk merawat jantung?
Baca Juga: Jejak Keprajuritan di Lereng Merbabu: Menelusuri Semangat dan Gerak Dinamis Kesenian Soreng Magelang
Rutin bergerak dan jangan terlalu lama duduk
Tidak harus selalu olahraga berat untuk menjaga tubuh tetap aktif. Jalan kaki, bersepeda, berenang, menari, atau melakukan aktivitas fisik yang disukai juga bisa menjadi pilihan.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang dalam satu minggu atau 75 menit aktivitas dengan intensitas tinggi. Aktivitas penguatan otot juga dianjurkan setidaknya dua hari dalam seminggu.
Bagi yang belum terbiasa berolahraga, tidak perlu langsung memasang target tinggi. Memulai dari jalan kaki secara rutin dan mengurangi waktu duduk sudah bisa menjadi langkah awal.
Perbanyak sayur dan buah
Pola makan juga berpengaruh terhadap kesehatan jantung. WHO merekomendasikan pola makan yang banyak mengandung sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sumber karbohidrat utuh.
Baca Juga: Ada Apa dengan 29 September? Menyingkap Peristiwa Besar yang Terlupakan
Sebaliknya, konsumsi garam, gula bebas, lemak jenuh, dan lemak trans sebaiknya dibatasi. WHO merekomendasikan asupan natrium kurang dari 2 gram per hari, atau setara dengan kurang dari 5 gram garam.
Artinya, menjaga jantung bukan berarti harus menghilangkan semua makanan favorit. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola makan secara keseluruhan dan tidak berlebihan mengonsumsi makanan tinggi garam, gula, maupun lemak tidak sehat.
Berhenti merokok dan hindari asap rokok
Rokok bukan hanya berkaitan dengan kesehatan paru-paru. WHO menyebut penggunaan tembakau merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.
Paparan asap rokok bagi orang yang tidak merokok juga memiliki risiko kesehatan. Karena itu, berhenti merokok dan mengurangi paparan asap rokok dapat menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga jantung.
Perhatikan tekanan darah
Tekanan darah tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang bisa merasa sehat meskipun tekanan darahnya berada di atas batas normal.
WHO menyebut satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang mengalami hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara berkala penting dilakukan, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko tertentu.
Tekanan darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Jaga berat badan dan pola makan tetap seimbang
Berat badan berlebih atau obesitas merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.
Namun, menjaga berat badan bukan berarti harus mengikuti diet ekstrem. Pola makan yang beragam, aktivitas fisik yang cukup, serta menyesuaikan asupan makanan dengan kebutuhan tubuh merupakan bagian dari gaya hidup yang lebih sehat.
Kelola stres dan berikan tubuh waktu untuk beristirahat
Menjaga jantung bukan cuma soal makanan dan olahraga. Kondisi psikologis dan kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan.
Stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi berbagai kebiasaan yang berkaitan dengan kesehatan, misalnya pola tidur, aktivitas fisik, dan pola makan. Karena itu, mencari waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta menjaga rutinitas tidur juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Jangan menunggu sakit untuk melakukan pemeriksaan
Merasa sehat tidak selalu berarti semua faktor risiko berada dalam kondisi baik. Tekanan darah tinggi, misalnya, sering tidak menunjukkan gejala.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mengetahui kondisi seperti tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Jika ditemukan masalah, tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah berikutnya.
Hari Jantung Sedunia bukan sekadar peringatan satu hari dalam setahun. Momentum ini bisa menjadi pengingat untuk melihat kembali kebiasaan sehari-hari yang selama ini dilakukan.
Mulai dari berjalan kaki lebih rutin, mengurangi makanan terlalu asin, memperbanyak sayur dan buah, berhenti merokok, hingga memeriksa tekanan darah secara berkala.
Tidak perlu menunggu tubuh memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang salah. Merawat jantung justru lebih baik dimulai ketika tubuh masih terasa sehat.(lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : World Health Organization (WHO)