Kenapa kita ikut menguap saat melihat orang menguap?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 07:15 WIB
Melihat orang lain menguap ternyata bisa membuat kita ikut menguap. Fenomena ini dikenal sebagai contagious yawning dan masih terus diteliti untuk memahami kaitannya dengan respons sosial manusia.(Pinterest)
Melihat orang lain menguap ternyata bisa membuat kita ikut menguap. Fenomena ini dikenal sebagai contagious yawning dan masih terus diteliti untuk memahami kaitannya dengan respons sosial manusia.(Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah tidak, awalnya sama sekali tidak mengantuk, tetapi tiba-tiba ingin menguap setelah melihat orang lain menguap? Bahkan membaca kata “menguap” saja kadang bisa membuat mulut terasa ingin terbuka lebar.

Fenomena ini memang nyata dan dalam penelitian dikenal sebagai contagious yawning atau menguap yang menular. Seseorang dapat mulai menguap setelah melihat orang lain melakukannya, tetapi pemicunya tidak selalu harus berupa penglihatan.

Penelitian juga mencatat bahwa respons tersebut dapat muncul ketika seseorang mendengar, membaca, bahkan memikirkan tentang orang lain yang menguap.

Baca Juga: Ice Bear Sering Masak Sendiri, 5 Keterampilan Rumah Tangga yang Bisa Dipelajari dari Karakter We Bare Bears

Lantas, kenapa tubuh seolah-olah ikut melakukan hal yang sama?

Menguap biasa dan menguap karena melihat orang lain sebenarnya tidak sepenuhnya sama. Menguap spontan dapat berkaitan dengan perubahan tingkat kewaspadaan atau kondisi fisiologis seseorang. Sementara itu, contagious yawning lebih berkaitan dengan bagaimana otak merespons tindakan yang dilakukan orang lain.

Salah satu penelitian menggunakan pemindaian otak ketika peserta melihat video orang menguap. Hasilnya menunjukkan adanya aktivitas pada bagian superior temporal sulcus atau STS, wilayah otak yang berkaitan dengan pemrosesan isyarat sosial.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketika melihat orang lain menguap, otak tidak sekadar mengenali gerakan mulut, tetapi juga memprosesnya sebagai sebuah tindakan sosial.

Karena itulah menguap bisa terasa seperti “menular”. Otak menangkap tindakan yang dilakukan orang lain dan pada sebagian orang respons tersebut kemudian muncul secara otomatis.

Namun, ada satu teori yang selama ini cukup populer: orang yang mudah ikut menguap dianggap memiliki empati lebih tinggi.

Baca Juga: 7 Keterampilan yang Dulu Sering Dipakai, Kini Mulai Tergantikan Teknologi

Hubungan tersebut memang pernah ditemukan dalam penelitian. Studi yang melibatkan ratusan mahasiswa menemukan adanya hubungan antara kecenderungan menguap setelah melihat orang lain menguap dan skor empati. Peserta yang mengalami contagious yawning menunjukkan nilai empati yang lebih tinggi dalam penelitian tersebut.

Tetapi bukan berarti orang yang tidak pernah ikut menguap otomatis kurang empati.

Penelitian lain justru menemukan bahwa hubungan antara contagious yawning dan empati belum konsisten. Sebuah tinjauan penelitian menyebut bukti mengenai hubungan tersebut masih lemah dan tidak meyakinkan, dengan sejumlah faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil, termasuk perhatian seseorang terhadap stimulus sosial dan kecenderungan menahan respons.

Dengan kata lain, kalau teman menguap lalu kita tidak ikut menguap, bukan berarti kita lebih cuek.

Baca Juga: Benarkah Teh Chamomile Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Kemampuan seseorang untuk mengalami contagious yawning memang berbeda-beda. Penelitian terhadap 328 orang menemukan bahwa kecenderungan seseorang untuk ikut menguap relatif stabil, tetapi sebagian besar variasi antarindividu masih belum dapat dijelaskan.

Usia hanya menjelaskan sebagian kecil dari perbedaan tersebut, sementara penelitian itu tidak menemukan pengaruh yang berarti dari empati, waktu dalam sehari, kecerdasan, maupun rasa kantuk setelah faktor usia diperhitungkan.

Menariknya lagi, kedekatan sosial juga pernah dikaitkan dengan fenomena ini. Salah satu penelitian menemukan bahwa respons menguap lebih sering muncul ketika seseorang melihat anggota keluarga atau teman menguap dibandingkan ketika melihat orang yang tidak terlalu dikenal.

Hasil tersebut mengarah pada kemungkinan bahwa kedekatan emosional dapat memengaruhi seberapa mudah menguap “menular”.

Jadi, sebenarnya apa yang terjadi ketika kita melihat seseorang menguap?

Kemungkinan besar bukan karena tubuh kita sekadar meniru gerakan orang tersebut seperti menyalin sebuah aksi. Penelitian pencitraan otak menunjukkan adanya aktivitas di wilayah yang berkaitan dengan pemrosesan isyarat sosial ketika seseorang melihat orang lain menguap.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa contagious yawning merupakan respons otomatis yang dipengaruhi oleh bagaimana seseorang mempersepsikan tindakan orang lain.

Itulah sebabnya fenomena sederhana seperti menguap ternyata cukup rumit untuk dijelaskan.

Jadi, lain kali ketika seseorang di sebelahmu menguap lalu beberapa detik kemudian kamu ikut membuka mulut lebar-lebar, itu bukan berarti tubuhmu sedang “ketularan ngantuk” begitu saja. Otakmu sedang merespons tindakan orang lain, dan pada sebagian orang respons sosial tersebut bisa berujung pada satu hal sederhana: ikut menguap.

Dan kalau setelah membaca artikel ini kamu tiba-tiba ingin menguap, ya... mungkin itu juga bagian dari fenomenanya.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
menguap fenomena