Bahaya Abu Vulkanik Bagi Tubuh,dan Cara Membersihkannya

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 11:12 WIB
p
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi berulang dalam kurun waktu Jumat (4/9) hingga Sabtu (5/9) di Selat Sunda. 

SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian menyusul aktivitas letusan yang meningkat pada awal September 2026. Selain berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan, sebaran abu vulkanik juga perlu diwaspadai karena dapat berdampak terhadap kesehatan.

Abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Partikel abu dapat mengandung material batuan dan mineral berukuran sangat kecil yang dapat mengiritasi mata, kulit, hidung, tenggorokan hingga saluran pernapasan jika terhirup. Paparan abu juga berpotensi memperburuk keluhan pada orang yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma atau penyakit paru kronis.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah serta mengurangi paparan langsung terhadap abu vulkanik.

Abu Vulkanik Bisa Mengiritasi Mata

Salah satu bagian tubuh yang rentan terkena dampak abu vulkanik adalah mata.

Baca Juga: BOYNEXTDOOR Comeback dengan HOME: DELUXE, Apa yang Bikin Boy Group Ini Begitu Relate dengan Gen Z?

Partikel abu dapat menyebabkan mata menjadi merah, perih, berair dan lebih sensitif terhadap cahaya. Partikel yang lebih kasar juga berpotensi menggores permukaan kornea, sementara partikel halus dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada konjungtiva.

Jika mata terkena abu, jangan menggosoknya. Segera bilas menggunakan air bersih. Jika rasa nyeri, kemerahan, gangguan penglihatan atau sensitif terhadap cahaya terus berlanjut, segera periksakan ke fasilitas kesehatan.

Gangguan pada Saluran Pernapasan

Abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi hidung, tenggorokan dan saluran pernapasan. Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas hingga kesulitan bernapas.

Risiko tersebut perlu lebih diperhatikan oleh kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia serta orang dengan asma, penyakit paru kronis atau penyakit jantung. Paparan abu dan gas vulkanik dapat memperburuk gejala pada penderita penyakit pernapasan.

Saat konsentrasi abu di udara tinggi, masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas berat di luar ruangan. Aktivitas fisik dapat membuat frekuensi pernapasan meningkat sehingga lebih banyak partikel abu berpotensi masuk ke saluran pernapasan.

Gunakan Masker N95 Saat Harus Keluar

Jika harus berada di luar ruangan atau membersihkan abu, masyarakat disarankan menggunakan respirator N95 yang terpasang rapat menutupi hidung dan mulut.

CDC merekomendasikan respirator N95 untuk membantu melindungi paru-paru dari partikel abu vulkanik. Masker tersebut harus digunakan dengan benar agar membentuk penutup yang rapat pada wajah.

Baca Juga: Mengenal Koaʻe Kea, Burung yang Terekam Terbang di Atas Semburan Lava Kīlauea

Selain masker, gunakan kacamata pelindung untuk mengurangi risiko abu masuk ke mata serta pakaian berlengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi kontak dengan kulit.

Tutup Pintu dan Jendela

Ketika abu vulkanik mulai masuk ke suatu wilayah, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan selama kondisi tersebut belum dinyatakan aman.

Tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah. Sistem pendingin udara dan kipas yang menarik udara dari luar juga sebaiknya dimatikan apabila berpotensi memasukkan abu ke dalam ruangan.

Masyarakat juga perlu mengikuti informasi mengenai kualitas udara, kondisi jalan, dan potensi bahaya lain yang dikeluarkan otoritas setempat.

Jangan Menggosok atau Mengibas Abu

Abu yang menempel pada tubuh, pakaian maupun permukaan rumah sebaiknya dibersihkan dengan hati-hati.

Hindari menggosok abu dalam kondisi kering atau mengibas pakaian karena tindakan tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.

Baca Juga: One Piece Masih Jadi Anime Favorit, Apa yang Bikin Ceritanya Nggak Bosen Ditonton?

Untuk membersihkan permukaan yang terkena abu, pembasahan dapat membantu mengurangi abu beterbangan. Saat melakukan pembersihan, gunakan respirator N95, kacamata pelindung, pakaian tertutup dan sarung tangan.

Jika abu mengenai kulit, bersihkan dengan air dan hindari menggosok secara berlebihan. Abu yang masuk ke mata juga harus segera dibilas menggunakan air bersih.

Segera ke Fasilitas Kesehatan Jika Muncul Keluhan

Masyarakat perlu segera mendapatkan pertolongan medis apabila setelah terpapar abu vulkanik mengalami sesak napas, nyeri dada, kesulitan bernapas, atau gangguan mata yang menetap.

Kelompok dengan penyakit pernapasan seperti asma juga perlu lebih waspada karena paparan abu dapat memperburuk gejala yang sudah ada.

Yang tak kalah penting, masyarakat diminta tidak panik dan terus mengikuti informasi dari sumber resmi pemerintah, termasuk mengenai arah sebaran abu dan rekomendasi keselamatan.

Baca Juga: Dragon Ball Super: Beerus Bukan Sekadar Remake, Apa yang Bikin Cerita Lama Ini Layak Ditonton Lagi?

Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda mengalami peningkatan aktivitas erupsi pada awal September 2026. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena material vulkanik yang dilepaskan dapat terbawa angin dan berdampak terhadap wilayah lain.

Masyarakat yang berada di daerah berpotensi terdampak sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi dari media sosial, tetapi mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait.

Intinya, abu vulkanik jangan diperlakukan seperti debu biasa. Lindungi saluran pernapasan dengan respirator yang sesuai, gunakan pelindung mata, tutup akses abu ke dalam rumah, dan bersihkan abu dengan cara yang tidak membuatnya kembali beterbangan. (cindy amelia putri).

 

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
gunung berapi krakatau bahaya abu