Sering Jadi Teman Makan,Benarkah Kebiasaan Minum Es Teh Setelah Makan Bisa Berdampak bagi Kesehatan?

Anmer Jilvandis • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:11 WIB
Ilustrasi minuman es teh.(AI Generated)
Ilustrasi minuman es teh.(AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM- Es teh menjadi salah satu minuman yang kerap dipilih untuk menemani waktu makan. Sensasi dinginnya terasa menyegarkan, terlebih setelah menyantap makanan yang gurih atau pedas.

Namun, kebiasaan langsung minum teh setelah makan ternyata perlu diperhatikan, terutama jika dilakukan terus-menerus.

Teh mengandung tanin dan polifenol yang dapat memengaruhi penyerapan zat besi dari makanan. Senyawa tersebut terutama dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme, yakni jenis zat besi yang banyak ditemukan pada sumber pangan nabati.

Jika kebiasaan ini dilakukan terlalu sering, asupan zat besi dari makanan bisa tidak terserap secara optimal. Kondisi tersebut menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi kelompok yang membutuhkan asupan zat besi lebih tinggi.

Baca Juga: Maximum Blazz Kembali Hadir Di Lokananta Solo, Panggung Bagi Musisi Musik Keras

Bukan soal suhu dinginnya

Selama ini, es teh setelah makan sering dianggap kurang baik karena suhunya yang dingin. Padahal, perhatian utama justru lebih berkaitan dengan kandungan teh dan waktu konsumsinya.

Teh memiliki senyawa aktif yang dapat berinteraksi dengan zat gizi dalam makanan. Karena itu, mengonsumsi teh berdekatan dengan waktu makan dapat membuat penyerapan zat besi menjadi kurang maksimal.

Berbeda dengan teh, air putih tidak mengandung tanin maupun polifenol yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Air putih pun bisa menjadi pilihan minuman yang lebih tepat untuk menemani atau diminum setelah makan.

Lalu, bagaimana jika es teh ditambah gula?

Masalahnya bisa bertambah ketika es teh diberi banyak gula. Minuman manis dapat membuat asupan gula dan kalori harian meningkat, sementara minuman tersebut tidak memberikan rasa kenyang seperti makanan.

Mengonsumsi minuman tinggi gula juga dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat lebih cepat. Jika menjadi kebiasaan dalam jangka panjang, pola konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen dari total energi harian. Untuk manfaat kesehatan tambahan, jumlah tersebut dianjurkan ditekan hingga sekitar 25 gram per hari.

Bukan berarti harus berhenti minum teh

Baca Juga: Agnez Mo Tembus 3 Besar Bintang AlloCiné Prancis Berkat Peran Lila di Reacher Season 4

Kebiasaan minum teh sebenarnya tidak perlu dihilangkan sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memperhatikan waktu konsumsinya, terutama bagi orang yang ingin mengoptimalkan penyerapan zat besi dari makanan.

Sebagai pilihan, air putih dapat diminum setelah makan. Sementara itu, teh bisa dikonsumsi dengan memberi jeda dari waktu makan, misalnya sekitar 30–60 menit.

Jika tetap ingin menikmati es teh, memilih teh tanpa tambahan gula atau mengurangi jumlah gula juga dapat membantu mengontrol asupan gula harian.

Jadi, es teh bukan berarti menjadi minuman yang harus dihindari. Namun, kebiasaan meminumnya tepat setelah makan, terlebih dalam versi manis dan dilakukan setiap hari, sebaiknya mulai diperhatikan agar pola konsumsi tetap lebih seimbang. (Anmer Jilvandis)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Anmer Jilvandis menemani waktu makan kesehatan minuman es teh