SOLOBALAPAN.COM – Nasi hangat dengan rendang, ayam goreng, sambal, lalu ditambah gorengan. Bagi pencinta kuliner, menu seperti ini tentu sulit ditolak.
Namun, bagi orang yang sedang menjaga kadar kolesterol, makan enak kadang disertai rasa waswas. Ingin menikmati makanan kesukaan, tetapi khawatir kadar kolesterol ikut meningkat.
Haruskah semua makanan favorit ditinggalkan?
Tidak perlu. Menjaga kolesterol tidak harus membuat meja makan kehilangan makanan kesukaan. Kebiasaan makan sehari-hari justru yang perlu diperhatikan, termasuk jenis makanan, porsi, dan seberapa sering makanan tertentu dikonsumsi.
Kolesterol sebenarnya tetap dibutuhkan tubuh. Zat ini memiliki sejumlah fungsi penting, termasuk membantu pembentukan sel dan hormon.
Baca Juga: 55 Jam di Balik Kue Batik Jumbo Tasyi Athasyia yang Pecahkan Rekor MURI
Masalahnya muncul ketika kadar LDL terlalu tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Karena itu, memperbaiki pola makan bisa menjadi salah satu langkah yang dilakukan. Tidak perlu langsung mengubah semua menu dalam satu waktu.
Rendang Boleh, Asal Tahu Porsinya
Makanan yang tinggi lemak jenuh memang perlu lebih dibatasi. Lemak ini antara lain terdapat pada daging berlemak, kulit ayam, mentega, dan produk susu tinggi lemak.
Contohnya gampang ditemui saat makan di warung.
Rendang masih bisa dipilih sebagai lauk. Namun, setelah mengambil rendang, tidak perlu lagi menambah ayam goreng, kulit ayam, dan beberapa gorengan sekaligus.
Baca Juga: Suara Anna Kembali, Kristen Bell Bersiap Membuka Babak Baru Frozen
Satu piring makan bisa dibuat lebih beragam. Lauk yang sudah cukup berlemak dapat ditemani sayuran atau lauk dengan kandungan lemak yang lebih rendah.
Sayur Jangan Cuma Jadi Hiasan
Sayur sering kali hanya diambil sedikit, sekadar menemani lauk. Padahal, makanan kaya serat juga punya tempat penting dalam pola makan sehari-hari.
Buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian merupakan sumber serat yang baik. Serat larut juga dapat membantu mengurangi penyerapan kolesterol di saluran pencernaan.
Tidak perlu mencari menu yang aneh-aneh.
Saat makan nasi dan lauk, tambahkan sayur bening, tumis kangkung, capcay, atau lalapan. Ketika sore mulai lapar, buah bisa menjadi pilihan camilan.
Langkah kecil seperti itu cukup mudah dimasukkan ke kebiasaan makan sehari-hari.
Baca Juga: Nadine Chandrawinata Ungkap Cara Asuh Dua Putrinya, Terapkan Prinsip “Dengar dan Didengar”
Cara Memasak Juga Berpengaruh
Bahan makanan yang sama bisa menghasilkan sajian berbeda tergantung cara mengolahnya.
Ayam, misalnya, bisa digoreng sampai garing. Bisa juga dibuat sup atau dipanggang dengan sedikit minyak.
Ikan pun tidak harus selalu digoreng. Pepes, ikan bakar, atau ikan kukus bisa menjadi pilihan lain.
Merebus, mengukus, dan memanggang dapat membantu mengurangi tambahan lemak dari proses memasak. WHO juga menganjurkan lebih sering memilih cara tersebut dan membatasi makanan yang digoreng.
Gorengan tidak harus langsung dicoret.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Iblis, "Munafik: Melawan Iblis” Angkat Luka dan Pergulatan Batin
Tahu isi, bakwan, atau pisang goreng masih bisa dinikmati sesekali. Hanya saja, jangan sampai gorengan menjadi teman makan hampir setiap hari atau selalu dicari ketika ingin ngemil.
Tidak Semua Lemak Harus Dihindari
Saat mendengar kata kolesterol, banyak orang langsung berpikir untuk menjauhi semua makanan berlemak. Padahal, tubuh tetap membutuhkan lemak.
Yang penting adalah memilih jenis lemak yang lebih baik. Lemak tak jenuh dari ikan, alpukat, kacang-kacangan, dan sejumlah minyak nabati dapat menjadi pilihan dibandingkan lemak jenuh.
Pilihan seperti ini sebenarnya sudah dekat dengan makanan sehari-hari.
Tahu, tempe, ikan, dan kacang-kacangan bisa lebih sering masuk ke menu. Daging berlemak tidak harus selalu menjadi pilihan utama setiap kali makan.
Baca Juga: Banyak Orang Masih Salah Mengartikan, Kata Skena Mengalami Pergeseran Makna?
Camilan pun bisa diganti perlahan. Saat biasanya mengambil kerupuk atau gorengan, cobalah memilih buah atau kacang pada kesempatan berikutnya.
Jangan Lupa Bergerak
Menjaga kolesterol tidak hanya soal apa yang ada di piring. Aktivitas fisik juga ikut berperan dalam menjaga kesehatan jantung.
Jalan kaki, bersepeda, berenang, atau aktivitas fisik lain bisa dilakukan sesuai kemampuan. Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu memperbaiki profil kolesterol, termasuk menurunkan LDL dan meningkatkan HDL.
Bagi yang sehari-hari lebih banyak duduk di depan komputer, berdiri dan berjalan sebentar di sela pekerjaan bisa menjadi kebiasaan sederhana.
Baca Juga: Sudah Dilamar di Sumba, Kenapa Hana Malasan dan Sean Gelael Kembali Gelar Lamaran?
Tidak perlu menunggu punya waktu khusus untuk mulai bergerak. Aktivitas kecil yang dilakukan secara rutin tetap berarti.
Menjaga kolesterol tidak berarti harus mengucapkan selamat tinggal pada rendang, ayam goreng, atau gorengan.
Makanan favorit masih bisa masuk ke menu. Yang perlu dijaga adalah porsinya dan seberapa sering makanan tersebut disantap.
Sisakan ruang untuk sayur dan buah, pilih cara masak yang lebih ringan, lalu tetap aktif bergerak.
Jadi, makan enak tetap bisa. Hanya saja, jangan biarkan satu makanan memenuhi seluruh pola makan sehari-hari. (Rahma Azra Calista)
Editor : Adi Pras