Tak Harus Terus Menahan Makan, Mengenal Mindful Eating agar Lebih Berdamai dengan Makanan

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Ilustrasi mindful eating mengajak seseorang lebih sadar saat makan, termasuk memperhatikan rasa lapar, kenyang, dan menikmati makanan tanpa terburu-buru. (AI Generated)
Ilustrasi mindful eating mengajak seseorang lebih sadar saat makan, termasuk memperhatikan rasa lapar, kenyang, dan menikmati makanan tanpa terburu-buru. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Ada hari ketika seseorang sengaja melewatkan sarapan karena ingin mengurangi makan. Siangnya, porsi nasi dibuat sedikit. Sore mulai lapar, tetapi masih berusaha menahan diri.

Malam datang dengan rasa lapar yang lebih kuat.

Akhirnya makan lebih banyak dari rencana. Setelahnya muncul rasa bersalah dan keinginan untuk kembali mengetatkan pola makan keesokan hari.

Siklus seperti itu bisa membuat makanan terasa seperti sesuatu yang harus terus dikendalikan. Ada yang boleh dimakan, ada yang harus dihindari. Ketika aturan tersebut tidak terpenuhi, muncul perasaan seolah-olah sudah gagal.

Baca Juga: Bukan Soal Mahal, Kenapa Hadiah Lomba 17 Agustus Tetap Dinanti?

Padahal, menjaga pola makan tidak selalu harus dilakukan dengan semakin banyak larangan.

Ada cara yang mengajak seseorang memperhatikan kembali bagaimana ia makan. Bukan hanya soal isi piring, tetapi juga tentang apa yang dirasakan tubuh dan pikiran ketika makanan disantap.

Cara ini dikenal sebagai mindful eating.

Gagasannya sebenarnya cukup sederhana. Ketika makan, seseorang berusaha benar-benar hadir dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga: Harus Selalu Cepat Balas Chat? Saatnya Belajar Set Boundaries

Rasa, aroma, tekstur, kecepatan makan, hingga rasa lapar dan kenyang diperhatikan. Bukan untuk membuat waktu makan menjadi rumit, tetapi supaya makanan tidak sekadar habis tanpa benar-benar disadari.

Kebiasaan sehari-hari sering membuat hal sederhana itu terlewat.

Sarapan sambil mengecek ponsel. Makan siang di depan laptop. Malam hari ngemil sambil menonton.

Makanan terus masuk, sementara perhatian justru tertuju pada layar.

Sesekali melakukan hal tersebut tentu bukan masalah besar. Namun, makan dengan banyak distraksi dapat membuat seseorang kurang memperhatikan proses makan dan rasa kenyang yang muncul.

Baca Juga: Throwback ke Era 2016, Fashion Swag Kembali Hadir dengan Gaya Playful dan Penuh Warna

Memberi perhatian lebih pada makanan serta mengurangi gangguan saat makan menjadi salah satu bagian dari mindful eating.

Tidak perlu langsung mengubah semua kebiasaan.

Saat makan siang, misalnya, ponsel bisa diletakkan sebentar. Nikmati makanan tanpa terburu-buru. Perhatikan rasa yang muncul ketika makanan dikunyah.

Setelah beberapa suapan, coba rasakan kembali kondisi tubuh.

Masih lapar atau sudah cukup?

Pertanyaan sederhana itu bisa membantu kita tidak selalu makan hanya karena makanan masih ada di depan mata.

Baca Juga: Cuci Muka dengan Air Hangat, Bikin Kulit Kering atau Justru Lebih Bersih? Ini Faktanya

Mindful eating juga bukan berarti makanan favorit harus masuk daftar larangan.

Gorengan sepulang kerja, mi instan ketika sedang ingin sesuatu yang praktis, atau sepotong kue saat berkumpul bersama teman tidak otomatis menjadikan pola makan seseorang buruk.

Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Makanan tidak perlu langsung diberi label sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Kita tetap bisa menikmatinya sambil memperhatikan kebutuhan tubuh.

Misalnya, ketika ingin mengambil camilan sore, berhenti sebentar dan tanyakan pada diri sendiri: memang sedang lapar atau hanya ingin ngemil karena bosan?

Baca Juga: Willy Dozan dan Betharia Sonata Sambut Cucu Pertama, Resmi Jadi Kakek-Nenek

Bisa juga karena hari itu melelahkan. Atau karena makanan tersebut memang terlihat menggoda.

Tidak semua jawaban harus berakhir dengan larangan.

Kalau lapar, makan tetap diperlukan. Kalau ingin menikmati camilan, tidak perlu langsung menganggap diri sendiri gagal.

Kesadaran justru memberi ruang untuk memahami kebiasaan makan tanpa buru-buru menyalahkan diri sendiri. Dalam mindful eating, perhatian terhadap rasa lapar, kenyang, emosi, dan pengalaman saat makan menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Di titik ini, mindful eating berbeda dari pola diet yang terlalu penuh aturan.

Baca Juga: Kombinasi Ciput Kontras dengan Warna Hijab Kembali Hits, Tren Lama yang Kini Hadir dengan Gaya Baru

Bagi sebagian orang, banyaknya larangan justru membuat makanan semakin memenuhi pikiran. Setiap kali makan, yang dipikirkan bukan hanya rasa lapar, tetapi juga apakah makanan tersebut “boleh” atau “tidak boleh”.

Ketika aturan dilanggar, rasa bersalah pun muncul.

Padahal, satu kali makan tidak menentukan keseluruhan pola makan seseorang.

Mindful eating juga bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan tubuh atau makan tanpa pertimbangan. Pendekatan ini lebih mengajak seseorang untuk mengenali kebiasaan makannya sendiri dan membuat keputusan dengan lebih sadar.

Baca Juga: Setahun Setelah Bertunangan, Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodríguez Resmi Menikah

Tidak harus sempurna.

Ada hari ketika makan siang memang harus dilakukan dengan cepat karena pekerjaan. Ada waktu ketika kita makan sambil mengobrol dengan keluarga. Sesekali menikmati makanan favorit juga tetap menjadi bagian dari kehidupan.

Karena itu, mindful eating sebaiknya tidak berubah menjadi aturan baru yang justru membuat kita merasa bersalah ketika tidak berhasil melakukannya.

Cukup mulai dari hal kecil.

Makan tanpa membuka ponsel. Menikmati beberapa suapan dengan lebih tenang. Atau berhenti sebentar sebelum mengambil porsi tambahan untuk melihat apakah tubuh masih membutuhkannya.

Baca Juga: Kombinasi Ciput Kontras dengan Warna Hijab Kembali Hits, Tren Lama yang Kini Hadir dengan Gaya Baru

Dari situ, kita bisa mulai mengenali kebiasaan yang selama ini berjalan otomatis.

Bisa jadi kita terbiasa ngemil setiap kali menonton. Bisa juga kita sering makan terlalu cepat karena sejak awal terbiasa mengejar waktu.

Hal-hal seperti itu sering baru terlihat ketika kita mulai memberi perhatian.

Menjaga pola makan memang berkaitan dengan apa yang kita konsumsi. Namun, cara kita memperlakukan makanan juga tidak kalah penting.

Makan tidak perlu selalu berakhir dengan rasa bersalah.

Baca Juga: Batik Sekar Jagat Madura Jadi Pameran Imersif Ivan Gunawan, NUSANOVA 2.0 Raih Rekor MURI

Kadang, langkah kecilnya justru sederhana: duduk, menikmati makanan, dan memberi kesempatan pada tubuh untuk berbicara.

Bukan untuk membuat setiap waktu makan sempurna, melainkan agar kita tidak terus-menerus merasa harus memusuhi makanan. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Rahma Azra Calista Mindful Eating kesehatan pola makan diet