SOLOBALAPAN.COM - Pernah duduk sambil bekerja, menonton televisi, mengobrol, atau menunggu sesuatu, lalu tiba-tiba sadar kalau kaki sedang bergerak sendiri?
Kaki digoyangkan naik turun, ujung sepatu mengetuk lantai, atau lutut bergerak tanpa benar-benar disadari.
Bagi sebagian orang, kebiasaan ini sudah seperti gerakan otomatis yang muncul ketika sedang duduk.
Karena itu, orang yang suka menggoyangkan kaki kadang langsung dianggap sedang gugup, tidak sabaran, atau sedang gelisah.
Padahal, goyang kaki tidak selalu punya arti psikologis seperti itu.
Gerakan tersebut bisa menjadi bagian dari perilaku fidgeting, yaitu gerakan kecil yang dilakukan seseorang ketika duduk atau berada dalam kondisi relatif diam. Bentuknya tidak hanya menggoyangkan kaki, tetapi juga bisa berupa memainkan pulpen, mengetuk-ngetukkan jari, menggerakkan tangan, atau mengubah posisi duduk berulang kali.
Salah satu alasan sederhananya adalah tubuh memang tidak selalu nyaman berada dalam posisi diam terlalu lama.
Ketika seseorang duduk selama beberapa waktu, bergerak sedikit dapat menjadi cara alami untuk mengubah posisi dan membuat tubuh terasa lebih nyaman.
Karena dilakukan berulang kali, gerakan tersebut bahkan bisa berlangsung tanpa benar-benar disadari.
Bisa juga muncul ketika bosan
Goyang kaki juga dapat menjadi salah satu bentuk gerakan kecil ketika seseorang merasa bosan atau harus menunggu.
Bayangkan sedang duduk dalam rapat panjang, menunggu antrean, mengikuti kelas, atau mengerjakan sesuatu yang monoton.
Tubuh tetap berada dalam posisi duduk, tetapi seseorang mungkin secara tidak sadar melakukan gerakan kecil agar tidak sepenuhnya pasif.
Itulah sebabnya seseorang bisa menggoyangkan kaki meskipun sebenarnya tidak sedang marah, takut, ataupun gugup.
Lalu bagaimana dengan stres dan kecemasan?
Di sisi lain, memang ada kondisi ketika seseorang menjadi lebih banyak melakukan gerakan kecil saat sedang tegang atau cemas.
Ketika seseorang mengalami kecemasan, tubuh dapat menunjukkan respons fisik seperti gelisah atau sulit diam.
Dalam situasi seperti itu, menggoyangkan kaki bisa menjadi salah satu bentuk gerakan yang muncul.
Namun, satu kebiasaan saja tidak cukup untuk menentukan kondisi psikologis seseorang.
Orang yang menggoyangkan kaki belum tentu sedang cemas. Begitu pula orang yang duduk diam belum tentu sedang tenang.
Kebiasaan tersebut bisa dipengaruhi banyak hal, mulai dari karakter pribadi, situasi, tingkat kebosanan, kenyamanan tubuh, hingga kebiasaan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun.
Ada juga yang berkaitan dengan kondisi tertentu
Goyang kaki perlu dibedakan dengan restless legs syndrome (RLS) atau sindrom kaki gelisah.
Pada RLS, seseorang biasanya mengalami dorongan kuat untuk menggerakkan kaki yang disertai sensasi tidak nyaman pada kaki.
Keluhan tersebut cenderung muncul atau memburuk ketika sedang beristirahat, misalnya ketika duduk atau berbaring, dan dapat terasa lebih berat pada malam hari.
Jadi, seseorang yang sekadar memiliki kebiasaan menggoyangkan kaki saat duduk tidak otomatis mengalami RLS.
Pada akhirnya, kebiasaan menggoyangkan kaki adalah salah satu contoh bahwa tubuh manusia tidak selalu benar-benar diam ketika sedang duduk.
Jadi, lain kali melihat seseorang menggoyangkan kaki, tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa ia sedang gugup atau tidak sabaran.
Bisa saja dia hanya bosan, sedang mencari posisi yang nyaman, atau memang kakinya sudah terbiasa bergerak sendiri. (Rastri Rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto