SOLOBALAPAN.COM - Ada masa ketika seseorang tidak ingin bertemu siapa pun.
Pesan masuk dibiarkan terbaca, telepon tidak diangkat, ajakan bertemu ditolak, bahkan grup percakapan yang biasanya ramai terasa seperti sesuatu yang melelahkan.
Anehnya, orang tersebut mungkin tetap aktif di media sosial.
Masih membuka Instagram, menonton TikTok, atau sekadar menggulir layar tanpa benar-benar ingin berbicara dengan siapa pun.
Baca Juga: Tantri Kotak Rayakan Usia 37 Tahun, Arda Naff Tulis Pesan Menyentuh
Di kalangan Gen Z, menarik diri seperti ini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan selalu karena membenci orang lain, melainkan karena ada saat ketika berinteraksi terasa seperti pekerjaan tambahan yang tidak sanggup dilakukan.
Fenomena Social Withdrawal sering kali terlalu cepat diterjemahkan sebagai sikap Antisosial, Cuek, atau tidak peduli.
Padahal, kebutuhan untuk mengambil jarak tidak selalu berarti seseorang sedang bermasalah.
Ada kalanya manusia memang membutuhkan ruang untuk mengatur kembali pikirannya setelah terlalu banyak berhadapan dengan tuntutan Sosial.
Terlalu banyak percakapan, notifikasi, pekerjaan, pertemuan, bahkan tuntutan untuk selalu merespons dapat membuat seseorang merasa penuh.
Dalam kondisi tertentu, memilih diam bukan berarti menolak dunia. Bisa jadi, seseorang hanya sedang mencoba mengembalikan energinya.
Baca Juga: Jejak Proklamasi Kemerdekaan di Kota Solo
Masalahnya, Gen Z hidup dalam lingkungan yang hampir tidak mengenal kata tidak tersedia.
Pesan dapat masuk kapan saja, pekerjaan bisa berlanjut setelah jam kantor, teman dapat melihat kita sedang aktif, dan media sosial membuat keberadaan seseorang seolah selalu bisa dipantau.
Bahkan ketika tidak ingin berbicara, status online dapat menciptakan ekspektasi bahwa kita seharusnya membalas.
Akhirnya, muncul tekanan yang aneh yaitu kita merasa harus menjelaskan mengapa tidak ingin berkomunikasi.
Kalimat “aku sedang ingin sendiri” terkadang dianggap sebagai penolakan, padahal kebutuhan untuk sendiri juga merupakan bagian dari menjaga batas diri.
Namun, mengambil jarak juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan.
Jika menarik diri berlangsung terlalu lama, membuat seseorang kehilangan hubungan yang penting, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau justru membuat kesepian semakin dalam, maka persoalannya tidak lagi sesederhana membutuhkan waktu sendiri.
Di sinilah kita perlu berhenti menganggap semua bentuk menghilang sebagai Self-care. Tidak semua keheningan adalah ketenangan.
Ada keheningan yang memang memberi ruang untuk pulih, tetapi ada pula keheningan yang perlahan membuat seseorang semakin terisolasi.
Ironisnya, media sosial membuat kesepian menjadi semakin sulit dikenali.
Seseorang bisa memiliki ratusan pengikut, aktif melihat kehidupan orang lain, dan tetap merasa tidak memiliki tempat untuk benar-benar berbicara.
Kita dapat menyaksikan kehidupan orang lain selama berjam-jam tanpa melakukan satu percakapan yang benar-benar bermakna.
Kita merasa terhubung karena terus melihat wajah dan cerita orang lain, tetapi koneksi digital tidak selalu memberikan rasa ditemani.
Karena itu, Social Withdrawal di era digital tidak selalu terlihat seperti seseorang yang sepenuhnya menghilang. Kadang ia justru terlihat seperti seseorang yang selalu online, tetapi tidak benar-benar hadir.
Baca Juga: Dari London ke Como 1907! Trevoh Chalobah Pamit dari Chelsea Usai Hampir 2 Dekade Mengabdi
Mungkin karena itu, yang dibutuhkan Gen Z bukan tuntutan untuk selalu bersosialisasi, melainkan pemahaman bahwa mengambil jarak dan memutus hubungan adalah dua hal yang berbeda. Kita berhak tidak membalas pesan seketika.
Kita berhak membatalkan pertemuan ketika sedang membutuhkan waktu untuk diri sendiri.
Kita juga berhak mengatakan bahwa hari ini kita tidak punya energi untuk berbicara. Tetapi pada saat yang sama, kita perlu tetap memiliki ruang untuk kembali terhubung.
Mengambil jarak seharusnya menjadi tempat untuk bernapas, bukan tempat untuk menetap sendirian tanpa batas.
Pada akhirnya, mungkin kalimat “aku sedang ingin sendiri” tidak perlu selalu dicurigai sebagai tanda seseorang sedang menjauh dari dunia.
Terkadang, itu hanyalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa pikiran sedang terlalu ramai dan membutuhkan sedikit ruang.
Tetapi jika seseorang terus menghilang karena tidak tahu bagaimana menghadapi hidupnya, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar waktu sendiri, melainkan seseorang yang bersedia datang tanpa memaksa.
Sebab tidak semua orang yang menjauh ingin ditinggalkan. Ada yang hanya berharap ketika mereka siap kembali, masih ada seseorang yang bersedia membuka pintu. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto