Loss Aversion, Saat Sedang Bahagia Tapi Otak Malah Sibuk Bayangkan Hal Buruk

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 17:00 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami loss aversion. (AI generated)
Ilustrasi seseorang yang mengalami loss aversion. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah sedang menikmati sesuatu yang menyenangkan, tetapi tiba-tiba muncul pikiran buruk.

“Nanti kalau ini berakhir bagaimana?”, atau “Jangan-jangan setelah ini ada sesuatu yang buruk terjadi, padahal tidak ada masalah apa pun".

Hari sedang berjalan baik, hubungan terasa menyenangkan, pekerjaan tidak sedang bermasalah, bahkan mungkin baru saja mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkan. 

Namun, di tengah rasa bahagia itu, otak justru mulai membuat skenario yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Ini Dia Ulasan Kontroversi Wasit Khalfan Al-Amouri di Laga Singapura vs Indonesia pada Piala AFF 2026, Skuad Garuda Gagal ke Semifinal

Bagaimana kalau orang yang disayangi pergi?

Bagaimana kalau kebahagiaan ini hanya sementara?

Bagaimana kalau sesuatu yang baik tiba-tiba berubah menjadi buruk?

Pikiran seperti ini sebenarnya cukup mudah dipahami.

Ketika seseorang memiliki sesuatu yang dianggap berharga, muncul pula kekhawatiran untuk kehilangannya.

Dalam psikologi, ada konsep loss aversion, yaitu kecenderungan manusia merasakan dampak kehilangan lebih kuat dibandingkan rasa senang ketika mendapatkan sesuatu dengan nilai yang setara.

Namun, istilah ini tidak secara khusus berarti takut kehilangan sesuatu yang belum terjadi.

Ketika seseorang mulai memikirkan berbagai kemungkinan buruk di masa depan, fenomenanya juga dapat berkaitan dengan anticipatory anxiety atau kecemasan antisipatif.

Sederhananya, seseorang mengalami kecemasan terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Itulah mengapa sebagian orang justru sulit menikmati kebahagiaan sepenuhnya.

Bukan karena mereka tidak bersyukur, melainkan karena pikiran mereka sudah melompat jauh ke depan.

Misalnya, seseorang baru saja menemukan hubungan yang membuatnya bahagia.

Baca Juga: Dihuni 11 Pemain Naturalisasi Tapi Gagal Lolos Semifinal! Erick Thohir Buka Suara Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Bukannya hanya menikmati waktu bersama pasangan, pikirannya mulai bertanya: “Bagaimana kalau suatu hari dia berubah?” atau “Bagaimana kalau hubungan ini tidak bertahan?”.

Seseorang yang akhirnya mendapatkan pekerjaan impiannya pun bisa mengalami hal serupa.

Di tengah rasa senang, muncul kekhawatiran, “Bagaimana kalau aku kehilangan pekerjaan ini?”.

Bahkan ketika belum ada tanda-tanda bahwa sesuatu akan terjadi.

Ada paradoks di dalamnya. Semakin berharga sesuatu bagi kita, semakin besar pula kemungkinan kita takut kehilangannya.

Kebahagiaan justru bisa membuat kita sadar bahwa ada sesuatu yang kini memiliki arti besar dalam hidup.

Masalahnya, ketika pikiran terlalu sibuk mengantisipasi kehilangan, seseorang akhirnya mengalami kehilangan yang sebenarnya belum terjadi.

Hari ini belum berakhir, tetapi sudah dibuat sedih oleh kemungkinan tentang hari esok.

Tentu, memikirkan kemungkinan buruk tidak selalu berarti sesuatu yang salah.

Baca Juga: Tak Lagi Jadi Pasangan, Tetap Jadi Orang Tua: Mengenal Co-Parenting

Dalam batas tertentu, mengantisipasi risiko justru membantu seseorang mempersiapkan diri.

Persoalannya adalah ketika kemungkinan tersebut terus dipikirkan, sampai mengganggu kemampuan menikmati apa yang sedang terjadi sekarang.

Karena pada akhirnya, tidak semua hal baik harus dijamin bertahan selamanya agar layak dinikmati.

Hubungan bisa berubah. Pekerjaan bisa berganti.

Orang-orang bisa datang dan pergi. Bahkan fase hidup yang paling menyenangkan sekalipun suatu hari akan berlalu.

Tetapi mengetahui bahwa sesuatu mungkin berakhir tidak harus membuat kita buru-buru bersedih ketika semuanya masih baik-baik saja.

Kadang-kadang, kebahagiaan memang tidak membutuhkan jaminan bahwa ia akan berlangsung selamanya.

Kita hanya perlu benar-benar berada di dalamnya ketika kebahagiaan itu sedang terjadi. (Rastri Rafiarum)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Rastri Rafiarum los aversion axienty kebahagiaan