SOLOBALAPAN.COM - Istilah fatherless semakin sering muncul dalam percakapan tentang keluarga dan kesehatan mental anak.
Namun, di tengah popularitas istilah tersebut, maknanya kerap disederhanakan menjadi satu kondisi: anak yang tidak memiliki atau tidak tinggal bersama ayah.
Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks. Seorang anak bisa saja tinggal satu rumah dengan ayahnya setiap hari, tetapi tetap mengalami kekosongan hubungan apabila sang ayah tidak terlibat dalam percakapan, pengambilan keputusan, pendidikan, maupun kehidupan emosional anak.
Dengan kata lain, ketiadaan ayah tidak selalu berbentuk kursi kosong di ruang makan.
Kadang, sosoknya ada di sana, tetapi hubungan emosionalnya yang tidak hadir.
Baca Juga: Ketika Gaya Hidup Dibayar Dengan Utang: Gen Z Dan Jebakan Paylater
Pembahasan tentang fatherless menjadi semakin relevan ketika persoalan kesehatan mental anak dan remaja mendapat perhatian lebih besar.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, bahwa sekitar 34,9 persen atau 15,5 juta remaja Indonesia mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Pemerintah juga menekankan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membangun resiliensi dan kesehatan mental anak (Ministry of Women's Empowerment RI).
Angka tersebut tentu tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai akibat dari ketidakhadiran ayah.
Namun, data itu menunjukkan bahwa kualitas lingkungan pengasuhan merupakan persoalan yang tidak bisa lagi ditempatkan sebagai urusan domestik semata.
Di sinilah kesalahpahaman mengenai fatherless perlu dibongkar.
Ketiadaan ayah secara fisik dan ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan merupakan dua persoalan yang dapat berbeda.
Seorang ayah mungkin bekerja sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi anak tetap membutuhkan bentuk kehadiran lain: percakapan, perhatian, pendampingan, dan kesempatan untuk merasa didengar.
Kementerian PPPA pada 2026 bahkan menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga emosional, termasuk dalam pendidikan, pengasuhan, pengambilan keputusan, dan menjadi teladan bagi anak.
Masalahnya, budaya keluarga masih sering menempatkan ayah terutama sebagai pencari nafkah.
Ukuran keberhasilan seorang ayah kemudian berhenti pada pertanyaan: apakah kebutuhan rumah sudah terpenuhi?
Padahal, kebutuhan anak tidak seluruhnya dapat dibayar dengan uang.
Anak mungkin membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan cerita tentang sekolahnya, memahami kegagalannya, menemaninya ketika menghadapi masalah pertemanan, atau sekadar bertanya bagaimana harinya.
UNICEF menekankan bahwa pola pengasuhan yang penuh kasih dan perhatian menjadi fondasi penting bagi perkembangan keterampilan sosial dan emosional anak.
Baca Juga: Tampil Gelap Dengan Gaya, Kenali Beragam Aliran Fashion Dark Aesthetic
Ketika komunikasi semacam itu tidak terbentuk, anak dapat belajar menyimpan masalahnya sendiri.
Bukan karena ia tidak memiliki sesuatu untuk diceritakan, tetapi karena tidak menemukan ruang yang cukup aman untuk bercerita.
Remaja yang menghadapi tekanan akademik, konflik pertemanan, persoalan percintaan, perundungan, atau kebingungan mengenai masa depan mungkin akhirnya lebih memilih berbicara kepada teman, internet, atau bahkan tidak berbicara kepada siapa pun.
UNICEF menyarankan orang tua untuk secara aktif membuka percakapan dan mendorong remaja mengungkapkan perasaannya sebagai bagian dari dukungan terhadap kesehatan mental.
Namun, membicarakan fatherless juga tidak seharusnya berubah menjadi upaya mencari kambing hitam.
Tidak semua anak yang tidak tinggal bersama ayah mengalami persoalan psikologis, dan tidak semua anak yang tinggal bersama ayah otomatis tumbuh dengan kondisi emosional yang baik.
Kesehatan mental anak dibentuk oleh banyak faktor, termasuk kualitas hubungan keluarga, lingkungan sosial, pengalaman hidup, kondisi ekonomi, pendidikan, serta dukungan yang tersedia.
Bahkan istilah fatherless sendiri sebaiknya tidak digunakan sebagai label untuk menghakimi keluarga tertentu. Yang lebih penting adalah melihat apakah kebutuhan anak untuk dicintai, dilindungi, didengar, dan didampingi benar-benar terpenuhi.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Apakah seorang anak memiliki ayah?” melainkan “Seberapa hadir ayah tersebut dalam kehidupan anak?”.
Hadir berarti mengetahui apa yang sedang dirasakan anak, bukan hanya mengetahui nilai rapornya.
Hadir berarti bersedia mendengarkan, bukan hanya memberikan nasihat.
Hadir berarti ikut mengambil bagian dalam pengasuhan, bukan menyerahkannya sepenuhnya kepada ibu.
Kementerian PPPA juga menekankan pentingnya pembagian peran yang seimbang antara ayah dan ibu dalam pengasuhan, sementara UNICEF menempatkan orang tua sebagai bagian penting dalam membangun kesejahteraan emosional dan sosial anak.
Pada akhirnya, fatherless bukan sekadar tentang seorang ayah yang tidak berada di rumah. Ia adalah pengingat bahwa kehadiran dalam keluarga memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar keberadaan fisik.
Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna, tetapi membutuhkan sosok yang mau hadir, belajar memahami, dan bersedia terlibat dalam perjalanan tumbuhnya.
Sebab mungkin, yang paling diingat seorang anak kelak bukan berapa banyak uang yang diberikan ayahnya, melainkan siapa yang duduk di sampingnya ketika ia gagal, siapa yang mendengarkan ketika ia takut, dan siapa yang tetap mengatakan: “Tidak apa-apa, kita coba lagi,” ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto