Sudah Ngantuk tapi Masih Scrolling, Kenapa Sering Sengaja Tidur Malam?

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 18:16 WIB
Kebiasaan scrolling hingga larut malam bisa membuat waktu tidur terus tertunda. (AI Generated)
Kebiasaan scrolling hingga larut malam bisa membuat waktu tidur terus tertunda. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Rasa kantuk sebenarnya sudah datang. Mata mulai berat, tetapi ponsel masih berada di tangan.

Besok pagi harus bangun untuk kuliah atau bekerja, tetapi malam terasa belum selesai sebelum sempat scrolling media sosial, menonton drama, atau sekadar menikmati waktu sendirian.

Niatnya hanya sebentar. Namun, satu video berganti video lain. Satu episode berlanjut ke episode berikutnya. Tanpa terasa, waktu tidur yang seharusnya sudah dimulai justru mundur semakin malam.

Kebiasaan sengaja menunda tidur meski sudah mengantuk ini dikenal sebagai revenge bedtime procrastination.

Baca Juga: Dupe Kultur Kian Diminati, Produk Mirip Bukan Berarti Barang KW

Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang memilih mengurangi waktu tidurnya demi mendapatkan waktu luang setelah seharian menjalani aktivitas yang padat.

Dikutip dari penelitian jurnal berjudul “Gambaran Revenge Bedtime Procrastination pada Mahasiswa”, kebiasaan tersebut berkaitan dengan keinginan mendapatkan kembali waktu untuk diri sendiri setelah menjalani berbagai tuntutan sepanjang hari.

Hal ini cukup mudah ditemui dalam keseharian. Seorang mahasiswa, misalnya, bisa menghabiskan pagi hingga sore untuk kuliah dan kegiatan kampus, lalu malamnya masih harus mengerjakan tugas.

Ketika semua kewajiban selesai, waktu sudah menunjukkan malam. Tidur memang menjadi pilihan yang paling masuk akal, tetapi ada perasaan belum sempat melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Baca Juga: Asal Usul Lampu Merah Panggung Solo, Dari Pos Berburu Bangsawan Keraton hingga Simpang Tersibuk

Akhirnya, waktu yang tersisa digunakan untuk hal-hal yang sebenarnya sederhana. Menonton satu episode drama, bermain gim, mendengarkan musik, atau membuka media sosial sebelum tidur.

Aktivitas tersebut menjadi semacam waktu istirahat setelah seharian mengikuti jadwal yang sudah ditentukan.

Fenomena ini bukan hanya terjadi pada satu-dua orang. Penelitian tersebut terhadap 321 mahasiswa di Indonesia menemukan 59,5 persen responden berada pada tingkat bedtime procrastination yang tinggi.

Alasan yang muncul juga cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebanyak 93,8 persen responden mengatakan jadwal harian yang padat membuat mereka menunda tidur demi mendapatkan waktu luang.

Baca Juga: People Pleasing: Tak Selalu Ingin Menyenangkan, Hanya Takut Mengecewakan

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menunda tidur tidak selalu berkaitan dengan ketidakmampuan untuk tidur.

Seseorang bisa saja sudah mengantuk dan tahu bahwa dirinya membutuhkan istirahat, tetapi tetap memilih terjaga karena merasa belum memiliki cukup waktu untuk dirinya sendiri.

Persoalannya, waktu yang diambil biasanya adalah waktu tidur.

Padahal, tidur memiliki fungsi penting bagi tubuh. Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, tidur berperan dalam konsolidasi memori, pengaturan emosi, konsentrasi, dan fokus.

Orang dewasa berusia 18 - 64 tahun dianjurkan mendapatkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

Baca Juga: Indonesia vs Vietnam di Pakansari: Shayne Pattynama Soroti Evaluasi Skuad Garuda Usai Laga Timor Leste

Ketika waktu tidur terus berkurang, dampaknya bisa terasa pada aktivitas keesokan harinya. Bangun dalam keadaan mengantuk membuat kuliah atau pekerjaan terasa lebih berat. Konsentrasi juga dapat terganggu, sementara suasana hati lebih mudah berubah.

Kebiasaan membawa ponsel ke tempat tidur membuat waktu tidur semakin mudah mundur. Setelah seharian tidak sempat membuka media sosial dengan leluasa, malam menjadi kesempatan untuk mengejar berbagai konten yang terlewat. Begitu membuka satu aplikasi, sulit menentukan kapan harus berhenti.

Dalam penelitian yang sama, bermain gadget juga tercatat sebagai salah satu alasan mahasiswa menunda waktu tidur.

Kementerian Kesehatan pun menganjurkan menghindari paparan cahaya dari perangkat elektronik menjelang waktu tidur.

Baca Juga: On This Day: 10 Hal yang Terjadi pada 2 Agustus, dari Invasi Kuwait hingga Emas Olimpiade Indonesia

Karena itu, mengurangi kebiasaan tersebut bukan berarti harus berhenti menikmati waktu sendiri. Justru, waktu untuk bersantai tetap perlu disediakan.

Hanya saja, jangan sampai seluruh waktu tersebut baru diberikan setelah semua aktivitas selesai dan akhirnya mengambil jatah tidur.

Menonton drama bisa dilakukan dengan menentukan batas episode. Scrolling media sosial juga bisa dihentikan pada waktu tertentu, bukan menunggu sampai rasa kantuk benar-benar hilang.

Baca Juga: Six Nine Padel Punya Siapa? Lapangan Padel Premium di Bandung Disegel Wali Kota Muhammad Farhan Gegara Penebangan Pohon Trotoar

Jika memungkinkan, waktu bersantai dapat dimulai lebih awal sehingga malam tidak menjadi satu-satunya kesempatan untuk menikmati waktu sendiri.

Tidur memang sering terasa seperti aktivitas yang bisa ditunda ketika masih ada hal lain yang ingin dilakukan.

Namun, tubuh tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat. Memiliki waktu untuk diri sendiri penting, tetapi mendapatkan tidur yang cukup juga bagian dari menjaga diri sendiri.

Editor : Adi Pras
pola tidur revenge bedtime kesehatan tidur gadget