WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM – Dokter spesialis paru RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri, dr. Bimo Nugroho, Sp.P, menjelaskan bahwa superflu termasuk dalam kelompok influenza tipe A (H3N2).
Meski masih satu golongan dengan flu pada umumnya, superflu memiliki gejala yang dirasakan lebih berat oleh penderitanya.
“Gejalanya mirip flu biasa, tetapi lebih berat. Demam tinggi, meriang cukup hebat, dan rasa tidak enak badan yang lebih intens dibanding flu pada umumnya,” ujar dr. Bimo, Jumat (23/1/2026).
Meski demikian, dr. Bimo menegaskan bahwa tingkat kegawatan superflu tidak seberbahaya penyakit infeksi saluran pernapasan seperti Covid-19 atau SARS.
Baca Juga: Gurihnya Soto Balungan Kin-Kin Boyolali, Sarapan Murah Meriah dengan Kuah Kuning Menggoda
Namun di negara-negara subtropis, influenza dapat menjadi masalah kesehatan yang serius. Sementara di negara tropis seperti Indonesia, flu kerap dianggap penyakit ringan sehingga sering diabaikan.
Ia juga mengaku mendapat informasi dari Kementerian Kesehatan terkait adanya sejumlah kasus di Indonesia yang dicurigai sebagai superflu. Namun, untuk memastikan diagnosis tersebut, diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa swab hidung.
“Intinya, superflu ini memiliki gejala yang lebih berat dari flu biasa. Tapi penanganannya sama seperti flu lainnya,” jelasnya.
Penanganan superflu, lanjut dr. Bimo, bersifat simptomatik atau berdasarkan gejala yang muncul. Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan superflu secara spesifik.
“Pasien cukup istirahat, makan makanan bergizi, dan minum vitamin jika diperlukan. Obat yang diberikan juga hanya untuk meredakan gejala seperti demam atau batuk,” paparnya.
Terkait pencegahan, dr. Bimo menekankan pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, faktor eksternal seperti cuaca dan iklim memang sulit dikendalikan, sehingga yang perlu diperkuat adalah daya tahan tubuh.
“Kalau faktor eksternal seperti cuaca tidak bisa kita atur, maka yang harus diperkuat adalah faktor internal. Daya tahan tubuh harus dijaga, PHBS wajib diterapkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penularan superflu terjadi melalui droplet atau percikan dahak, sama seperti flu pada umumnya. Oleh karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah pencegahan yang efektif, terutama saat berada di lingkungan dengan orang yang sedang flu.
“Penyebarannya lewat droplet. Pakai masker bisa membantu mencegah penularan. Masker medis biasa sudah cukup, ditambah kebiasaan cuci tangan dengan sabun dan menjaga PHBS,” pungkas dr. Bimo. (al/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto