SOLOBALAPAN.COM, SRAGEN — Stroke yang selama ini identik dengan usia lanjut perlahan bergeser wajah.
Kini, penyakit mematikan ini semakin sering menyerang kelompok usia produktif, bahkan di bawah 40 tahun.
Fenomena ini menjadi alarm serius di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh tekanan.
Dokter spesialis saraf RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, dr. Fred Septo Arityiawan, Sp.N., mengungkapkan perubahan pola pasien stroke yang kian mengkhawatirkan.
Jika sebelumnya mayoritas pasien berusia di atas 50 tahun, kini bangsal perawatan mulai diisi oleh pasien usia muda yang masih aktif bekerja dan berkeluarga.
Gaya hidup instan disebut menjadi faktor dominan.
Tekanan pekerjaan, kurang aktivitas fisik, hingga pola makan tinggi gula dan lemak perlahan merusak kesehatan pembuluh darah otak tanpa disadari.
"Stroke adalah masalah waktu. Semakin lama kita menunda, semakin banyak sel otak yang mati," ujar dr. Fred.
Kesalahan Fatal: Menunda Penanganan Awal
Menurut dr. Fred, masih banyak masyarakat terjebak pada kebiasaan menunda penanganan medis.
Mulai dari anggapan cukup dipijat hingga menunggu kondisi membaik sendiri. Padahal, stroke memiliki golden period yang sangat terbatas.
Ia menjelaskan bahwa waktu emas penanganan stroke hanya berkisar 3,5 hingga 4,5 jam sejak gejala awal muncul. Lewat dari itu, risiko kecacatan permanen meningkat drastis.
Kenali Gejala dengan Rumus FAST
Untuk memudahkan deteksi dini, dr. Fred membagikan metode sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, yakni FAST.
F (Face): Perhatikan wajah, apakah sudut bibir tampak miring atau tidak simetris saat tersenyum.
A (Arms): Minta mengangkat kedua tangan, perhatikan jika salah satu terasa lebih lemah.
S (Speech): Ajak berbicara, dengarkan apakah ucapan terdengar pelo atau sulit dimengerti.
"Terakhir T (Time), Jika satu saja tanda ini muncul, jangan berpikir dua kali. Segera bawa ke UGD," terangnya.
Langkah cepat ini dinilai krusial untuk menyelamatkan fungsi otak dan mencegah dampak jangka panjang.
Dukungan Keluarga Menentukan Pemulihan
Penanganan stroke tidak berhenti di ruang gawat darurat.
dr. Fred menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan pasien.
Pasien stroke kerap mengalami tekanan mental akibat perubahan kondisi fisik yang mendadak.
Peran keluarga dibutuhkan untuk menjaga semangat pasien agar tetap menjalani terapi dan tidak larut dalam depresi.
Tanpa dukungan lingkungan terdekat, pengobatan medis tidak akan memberikan hasil optimal.
Stroke memang datang tanpa peringatan, namun dampaknya bisa ditekan dengan kesadaran sejak dini. Mengenali gejala, mengubah gaya hidup, dan bertindak cepat menjadi kunci utama.
Dalam kasus stroke, kecepatan bertindak adalah batas tipis antara pemulihan dan kecacatan seumur hidup. (din/lz)
Editor : Laila Zakiya