Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Remaja Sudah Mulai Merokok? Begini Cara Bijak Orang Tua Menghadapinya Menurut Psikolog UNS

Iwan Kawul • Jumat, 7 November 2025 | 23:06 WIB
Ilustrasi merokok.
Ilustrasi merokok.

SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM — Bagi orang tua, mengetahui anak remajanya mulai merokok bisa menjadi momen yang menimbulkan rasa khawatir, kecewa, sekaligus panik.

Namun menurut para ahli, langkah paling bijak bukanlah dengan marah atau menghukum, melainkan dengan memahami alasan di balik perilaku tersebut.

Fenomena remaja yang mulai merokok memang bukan hal baru.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 80 persen perokok di Indonesia mulai merokok sejak usia di bawah 19 tahun.

Kelompok usia 15–19 tahun menjadi yang terbanyak, disusul anak-anak berusia 10–14 tahun.

Artinya, kebiasaan merokok sering kali dimulai saat seseorang masih berada di usia pencarian jati diri.

Remaja Merokok: Bukan Karena Nakal, Tapi Karena Ingin Diterima

Psikolog anak sekaligus Kaprodi Pendidikan Guru PAUD FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Anayanti Rahmawati, S.Psi, Psi, MA, menjelaskan bahwa dorongan remaja untuk merokok biasanya lahir dari rasa ingin tahu dan kebutuhan akan penerimaan sosial.

“Alasan pertama kali merokok yang paling dominan adalah karena coba-coba, ingin kelihatan gagah, serta faktor teman dan lingkungan,” ungkap Anayanti Rahmawati.

Rasa ingin terlihat “dewasa” dan diterima dalam kelompok teman sebaya sering kali menjadi pemicu utama. P

adahal, dalam sebatang rokok terkandung lebih dari 4.000 zat kimia berbahaya, termasuk 43 zat karsinogenik yang dapat memicu kanker.

Nikotin menyebabkan kecanduan, tar bersifat karsinogenik, dan karbon monoksida (CO) menurunkan kadar oksigen dalam darah.

Jangan Langsung Marah, Ini Cara Komunikasi yang Lebih Efektif

Saat mengetahui anaknya mulai merokok, banyak orang tua bereaksi spontan dengan kemarahan atau ancaman.

Namun, reaksi keras justru dapat membuat anak berontak dan semakin menutup diri.

“Yang utama, ajak anak untuk bicara baik-baik. Jangan dikekang, nanti justru berontak. Cari tahu dulu alasannya kenapa dia merokok,” jelas Ana.

Ia menegaskan, komunikasi yang hangat dan terbuka jauh lebih efektif dibanding larangan keras.

Dengan berdialog, orang tua bisa memahami apa yang sebenarnya dirasakan dan diinginkan anak, lalu mencari solusi bersama tanpa menimbulkan jarak emosional.

Lingkungan dan Circle Positif Jadi Kunci

Remaja cenderung ingin diterima dalam kelompoknya, bahkan jika kelompok tersebut membawa pengaruh buruk.

Karena itu, peran orang tua bukan hanya melarang, tapi juga membantu anak menemukan lingkungan yang lebih sehat.

“Remaja sangat membutuhkan penerimaan dari lingkungannya. Saat dia merokok bersama teman-teman, ada rasa diakui dan diterima. Karena itu, bantu anak mencari lingkungan baru yang lebih sehat, misalnya komunitas olahraga,” imbuh Ana.

Kegiatan positif seperti olahraga, musik, atau kegiatan sosial bisa menjadi pengganti lingkungan berisiko, karena di komunitas semacam ini, anak diajak berprestasi dan menjaga kesehatan. Dengan begitu, kebiasaan merokok pun perlahan dapat digantikan oleh aktivitas yang lebih bermakna.

Rokok Bisa Jadi Pintu Masuk ke Perilaku Berisiko Lain

Ana juga mengingatkan bahwa rokok sering kali menjadi gerbang awal ke kebiasaan berbahaya lainnya, seperti alkohol dan narkoba.

Karena itu, edukasi soal bahaya rokok tidak bisa dilakukan sekali, melainkan harus berkelanjutan.

“Orang tua perlu mengingatkan bahwa merokok bukan hanya soal gaya hidup, tapi juga soal tanggung jawab terhadap diri sendiri. Ingatkan dengan bijak, bukan dengan ancaman,” pungkas Ana.

Teladan dari Orang Tua Adalah Pendidikan Terbaik

Anak remaja belajar dari contoh, bukan hanya dari nasihat.

Maka, orang tua yang ingin anaknya menjauhi rokok juga harus memberi teladan nyata.

Jika keluarga menerapkan gaya hidup sehat dan terbuka dalam komunikasi, anak akan lebih mudah meniru hal positif tersebut.

Dengan pendekatan penuh kasih, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional yang konsisten, orang tua bisa menjadi benteng utama untuk melindungi anak dari bahaya rokok dan perilaku berisiko lainnya. (KWL/LZ)

Editor : Laila Zakiya
#viral #parenting #merokok #psikolog