SOLOBALAPAN.COM -Sebelum serius menekuni olahraga, terutama lari jarak jauh, ada baiknya melakukan skrining kesehatan terlebih dahulu. Langkah ini penting sebagai upaya preventif, mengingat banyaknya kasus henti jantung mendadak yang berujung pada kematian.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultasi Prevensi & Rehabilitasi Kardiovaskular RSUD Dr. Moewardi Solo dr. Astri Kurniati Martiana, SpJP, Subsp.P.RKv (K), FIHA merekomendasikan lari marathon dilakukan maksimal dua kali dalam setahun.
“Durasi minimal pemulihan dari lari maraton dengan kondisi otot sehat dan tubuh fit adalah empat minggu. Bahkan, bisa mencapai 12 minggu untuk kembali ke performa terbaik sebelum maraton berikutnya,” ujarnya.
Menurut dr. Astri, pemeriksaan skrining kardiovaskular cukup dilakukan di awal sebelum mulai berolahraga. Dari hasil pemeriksaan itu, bisa diketahui apakah diperlukan intervensi lebih lanjut terhadap risiko atau kelainan yang ditemukan.
dr. Astri memaparkan tiga skrining kardiovaskular yang dapat ditempuh sebelum seseorang serius berolahraga. Yakni, elektrokardiografi (EKG) atau perekaman sinyal listrik pada jantung, mengecek tekanan darah, dan pemeriksaan echocardiography atau pemeriksaan dokter untuk menilai fungsi dan struktur jantung.
"Beberapa event lari itu harus menyertai surat keterangan sehat, salah satunya pengukuran tekanan darah. Jadi ada baiknya tekanan darah diukur betulan. Kalaupun tidak MCU (medical check-up), bisa dilakukan di rumah," jelasnya.
Kelainan yang ditemukan saat skrining, menurutnya, dapat mempengaruhi hasil EKG atau bahkan menyebabkan pompa jantung tidak optimal saat berolahraga. Selain skrining kardiovaskular, dr. Astri menekankan pentingnya pemeriksaan diabetes, kadar lipid, dan riwayat keluarga.
“Kadar lipid yang tinggi bisa jadi indikasi pembuluh darah yang buruk. Riwayat keluarga seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, atau hipertensi juga harus diperhatikan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Untuk mengukur kapasitas individu berolahraga, dr. Astri menyarankan Treadmill Stress Test (TST). Pemeriksaan ini mengestimasikan VO2Max, yaitu jumlah maksimum oksigen yang digunakan tubuh saat berolahraga.
“VO2Max aman untuk marathon berbeda-beda. Untuk pelari top-class pria, angkanya 70-85 mL/kg/min. Sementara pelari rekreasional cukup di kisaran 51-58 mL/kg/min,” jelasnya.
TST lebih unggul dibandingkan penggunaan smartwatch karena dilakukan di bawah pengawasan dokter dengan rekaman jantung yang lebih intensif. “Preparticipation screening disarankan untuk semua jenis olahraga, terutama bagi mereka yang berusia 35 tahun ke atas. Idealnya, skrining dilakukan 3-6 bulan sebelum mulai program maraton,” pungkas dr. Astri. (zia/nik)
Editor : Andi Aris Widiyanto