SOLOBALAPAN.COM - Dinas Kesehatan Kota Surakarta terus mengintensifkan giat pemantauan jentik nyamuk seiring tingginya angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam beberapa waktu terkhir.
Ini penting dilakukan mengingat pemantauan jentik Nyamuk dipandang lebih efektif ketimbang melakukan fogging.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Retno Erawati Wulandari mengungkapakan, pihaknya tengah gencar-gencarnya melakukan sosialisasi tentang pentingnya pemantauan jentik nyamuk di masyarakat.
Hal itu dilakukan dalam rangka mengoptimalkan giat Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan di tengah lingkungan masyarakat.
“Upaya pemberantasan sarang nyamuk harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan, juga secara serentak. Jadi tidak hanya dilakukan di satu lokasi saja,” terang dia, Kamis (23/5).
Menimbang pola perkembangan nyamuk, giat PSN penting dilakukan. DKK menilai langkah pencegahan itu tidak bisa hanya dilakukan secara parsial.
Misalnya saat seorang rajin melakikan PSN, namun diwaktu bersamaan tetangganya tidak melakukan. Maka upaya pencegahan akan kurang maksimal.
Oleh sebab itu tim kesehatan dari puskesmas dan kader jumantik atau juru pemantau jentik, harus rutin melakukan pemantauan dengan melibatkan petugas kesehatan.
“PSN ini lebih efektif daripada fogging. Jadi sejak ada jentik atau telur bisa terbasmi, beda dengan fogging yang hanya membunuh nyamuk dewasa.
Kalau jentiknya tidak terbasmi bisa menularkan DBD,” terang Kepala DKK Surakarta itu.
Berdasarkan catatan kasus DBD sepanjang 2024, DKK mencatat sedikitnya ada 103 kasus DBD dengan delapan orang meninggal dunia.
Meski menunjukkan tren penurunan angka kasus dalam beberapa pekan terakhir, upaya PSN tetap harus dilakukan guna antisipasi kedepan.
“Beberapa minggu terakhir ada penurunan dibandingkan saat puncak. Puncaknya terjadi di pekan ke-17 dengan 10 kasus baru dalam sepekan, kalau diminggu-minggu terkahir sudah turun jadi tujuh kasus dalam sepekan,” papar dia.
(ves/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo