SOLOBALAPAN.COM - Memasuki awal tahun 2000 an, muncul istilah generasi terbaru yang disebut Gen-Z. Gen-Z berhasil membuat generasi-generasi terdahulunya geleng-geleng kepala.
Pasalnya gaya dan sikap yang dianut mereka sangat berbeda dan cukup unik tentunya.
Gen-Z memang cenderung melek dengan isu-isu self development, salah satunya mental health.
Maka tidak heran jika sebagai orang tua Gen-Z sangat berhati-hati dalam mendidik anaknya.
Dilansir dari laman theAsianparent, Fase parenthood Gen-Z sudah nampak, yang membuat menarik dibahas tentang Gaya parenting ala Gen-Z. yuk simak!!
1. Peduli dengan Kesehatan Mental menjadi Gaya Parenting Khas Gen-Z
Baca Juga: Bukan Cuma Demam Tinggi, Ada Berbagai Gejala Demam Berdarah pada Anak, Bunda Wajib Tahu
Gen-Z adalah generasi yang melek dengan isu-isu kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya.
Mereka menyadari bahwa kesehatan mental adalah kunci dari kesehatan secara keseluruhan.
Hal ini ternyata membantu Gen-Z menyadari akan ketidaksempurnaan yang mereka miliki sebagai orangtua.
Mereka pun lebih terbuka terhadap hal-hal yang kiranya bisa meningkatkan kesejahteraan, baik sebagai orangtua maupun sebagai individu.
2. Memiliki kesadaran Gender dan mengedepankan Co-parenting
Besar dalam dinamika keluarga yang menganut gagasan bahwa suami harus bekerja mencari nafkah dan istri bertanggung jawab terhadap urusan rumah dan anak, membuat mereka punya keinginan besar mendobrak gaya pengasuhan ini.
Gen-Z menolak mempertahan gaya lama ini karena bagi mereka, baik suami maupun istri memiliiki tanggung jawab yang sama besarnya soal urusan rumah tangga dan pengasuhan anak.
Itu sebabnya mereka berbagi tanggung jawab dengan cara yang adil dan setara untuk urusan rumah.
Gen-Z mengedepankan co-parenting dalam pengasuhan anak.
3. Mendahulukan Logika ketimbang mitos
“Taruh gunting di dekat kasur supaya bayi tidak diganggu makhluk halus”
“jangan makan es krim nanti pilek”
Gaya parenting berlandaskan mitos seperti di atas bukanlah gaya mereka.
Baginya penalaran dan logi lebih penting ketimbang mitos yang kebenarannya sulit dibuktikan.
4. Cenderung terapkan pola asuh demokratis
Gen-Z adalah tipikal orangtua yang menggunakan pendekatan ‘puts themselves in their children’s shoes’.
Sebagai orangtua, mereka berkomitmen untuk mendegarkan kebutuhan dan keinginan anak-anaknya.
Bagi mereka, tugas orangtua adalah untuk mengarahkan dan memandu, bukan memutuskan soal apa-apa yang dikehendaki anak.
5. Terlibat penuh dalam pengasuhan anak tapi dengan ‘catatan’
Gen-Z paham betul betapa penting keterlibatan orangtua dalam pengasuhan anak.
Lebih baik punya ART daripada nanny, pernyataan ini rasanya sangat tepat menggambarkan pola hubungan mereka dengan anak-anaknya.
Mereka sadar betul kalau mereka butuh bantuan, tapi anak adalah prioritas. Maka begitu, ada yang unik dari karakter Gen-Z sebagai orangtua.
Meski menganggap keluarga adalah prioritas, mereka tidak bersedia ‘melepaskan identitasnya’.
6. Gaya parenting ala Gen-Z, Mendisiplinkan anak lewat kepercayaan
Sama halnya dengan orangtua terdahulu, Gen-Z juga punya kekhawatiran soal masa depan anak yang serba tak pasti.
Tidak ingin menutup-nutupi pahitnya kehidupan, Gen-Z justru ingin anak-anaknya bersiap.
Dengan pendekatan ini mereka berharap pintu komunikasi tetap terbuka.
Sehingga anak-anaknya akan merasa nyaman datang kepada mereka ketika menghadapi bahaya dan hal-hal yang tidak terduga.
7. Tutup telinga, fokus pada diri
Tidak sedikit Gen-Z yang merasa dihakimi dengan stigma kekanak-kanakan dan perilaku yang tidak bertanggung jawab.
Tak ingin membiarkan hal itu terus berlanjut, sebagai orangtua, Gen-Z bertekad untuk tune out the noise dan memusatkan perhatian mereka pada keluarga dan anak-anak mereka.
Bagi Bunda yang beda generasi dengan Gen-Z maka penjelasan di atas bisa menjadi jawabannya. (Mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia