SOLOBALAPAN.COM - Grup musik "Efek Rumah Kaca" (ERK) kembali menyuarakan keresahan sosial melalui unggahan terbaru mereka di akun resmi laman YouTube mereka.
ERK menghadirkan "Sebelum Bara Padam", video semi-dokumenter untuk lagu "Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapiital".
Video musik tersebut dirilis pada 16 Oktober 2026 melalui kolaborasi ERK dengan Kelas Pagi Indonesia. Karya ini mengangkat kisah Iam Murda dan Miki Wuka dari Art Movement yang meemperkenalkan tradisi bakar batu masyarakat Dani di wilayah Hubula, Wamena, Papua.
Bakar Batu, Tradisi yang Lebih dari Sekedar Memasak
Bagi Masyarakat Papua, tradisi tersebut bukan hanya kegiatan memasak makanan menggunakan batu yang dipanaskan.
Tradisi ini juga menjadi ruang untuk berkumpul , berbagi makanan, memepererat persaudaraan, serta menjaga hubungan sosial dan spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sayangnya keberlangsungan tradisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
Perubahan ekosistem, eksploitasi alam serta urbanisasi turut mempengaruhi sumber pangan dan praktik yang selama ini dijalankan.
Baca Juga: Brendan Fraser dan Rachel Weisz Reuni di The Mummy: Book of the Dead, Ini Detail Filmnya
Melalui karya semi-dokumenter "Sebelum Bara Padam" menghadirkan kisah untuk penonton agar dapat melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang masyarakat yang mengalaminya secara langsung.
Ancaman terhadap alam bukan sekedar persoalan hilangnya hutan atau rusaknya tanah, tetapi juga menyangkut pengetahuan, kebiasaan, dan identitas budaya.
Kritik terhadap Kapitalisme dan Eksploitasi Alam
Dari judul lagu "Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital" mengundang perhatian melalui kritik sosial yang tajam.
Frasa tersebut dapat dibaca sebagai sindiran terhadap keadaan ketika modal dan kepentingan ekonomi seolah-olah menjadi hal yang paling berkuasa dalam menentukan arah kehidupan.
Vokalis ERK, Cholil Mahmud berharap kolaborasi ini dapat memperluas pembicaraan mengenai dampak eksploitasi alam yang berlebihan terhadap kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, lagu tersebut tidak berhenti sebagai kritik melalui lirik, tetapi juga dipertemukan dengan pengalaman nyata komunitas yang menghadapi perubahan lingkungan.
Musik Bertemu Dokumenter
Dalam proses penggarapannya, "Sebelum Bara Padam" disutradarai oleh Joey Christian dari Kelas Pagi Indonesia.
Alih-alih hanya menampilkan visual yang mengikuti suasana lagu, video ini membawa cerita masyarakat sebagai bagian utama dari penyampaian pesan.
Baca Juga: Forgotten K-Pop Song, Nostalgia Lagu-Lagu yang Pernah Viral dan Menemani Masa Pandemi COVID-19
Pendekatan semi-dokumenter tersebut membuat musik dan cerita sosial saling melengkapi. Lagu menjadi medium untuk menyampaikan keresahan, sementara visual menghadirkan konteks mengenai kehidupan masyarakat dan tradisi yang sedang dihadapkan pada berbagai perubahan.
Karya ini juga menjadi bagian dari proyek musik Sonic Panic, yang diinisiasi IKLIM bersama Alarm Records untuk menyuarakan keresahan terhadap krisis iklim melalui musik.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana musisi dan pekerja kreatif dapat menggunakan karya seni untuk membuka ruang diskusi tentang persoalan lingkungan.
Menjaga Alam Berarti Menjaga Kebudayaan
Kehadiran "Sebelum Bara Padam" mengingatkan bahwa krisis lingkungan memiliki dampak yang lebih luas daripada yang terlihat.
Kerusakan alam dapat mengubah sumber pangan, membatasi ruang hidup, dan mengancam keberlanjutan tradisi yang bergantung pada hubungan manusia dengan lingkungannya.
Baca Juga: Rangkayo Khailan Syamsu, Perempuan Indonesia yang Memimpin Gerakan Bahasa Internasional pada 1950-an
Melalui kolaborasi ini, Efek Rumah Kaca tidak hanya menghadirkan kritik terhadap eksploitasi alam, tetapi juga membawa perhatian publik kepada masyarakat yang berusaha mempertahankan pengetahuan dan kebudayaannya.
Pada akhirnya, bara dalam "Sebelum Bara Padam" dapat menjadi pengingat tentang sesuatu yang perlu dijaga agar tidak hilang: hubungan manusia dengan alam, kebersamaan dalam masyarakat, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Sebab, ketika lingkungan rusak, yang terancam padam bukan hanya kehidupan alam, melainkan juga cerita dan pengetahuan yang tumbuh bersamanya. (adhima aulia)
Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber