SOLOBALAPAN.COM – Pernah merasa takut memikirkan masa depan, padahal belum tentu hal-hal buruk yang dibayangkan benar-benar terjadi? Mulai dari khawatir belum mendapatkan pekerjaan, takut salah memilih jalan hidup, sampai merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya sudah mencapai banyak hal. Perasaan seperti ini ternyata tergambarkan melalui karakter Anxiety dalam film animasi Inside Out 2.
Film produksi Pixar Animation Studios tersebut menghadirkan Anxiety sebagai salah satu emosi baru yang muncul ketika Riley memasuki masa remaja. Kehadirannya membawa perubahan besar dalam ruang kendali emosi Riley. Berbeda dari Joy yang berusaha menjaga Riley tetap bahagia, Anxiety sibuk memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi dan berusaha mempersiapkan Riley menghadapi masa depan.
Meski kisahnya berpusat pada seorang remaja, perilaku Anxiety terasa dekat dengan kehidupan orang dewasa. Sebab, semakin bertambah usia, semakin banyak pula hal yang terasa harus dipikirkan. Masa depan yang sebelumnya terlihat jauh perlahan berubah menjadi sesuatu yang menuntut keputusan nyata.
Baca Juga: The Lament of Autumn, Kisah Cinta Panglima Muda dan Mahasiswi di Tengah Gejolak Perang
1. Takut Tertinggal dari Orang Lain
Salah satu hal yang membuat Anxiety terasa relate adalah keinginannya memastikan Riley dapat diterima di lingkungan barunya. Riley mulai memikirkan bagaimana teman-temannya memandang dirinya dan berusaha menyesuaikan diri agar bisa menjadi bagian dari kelompok yang diinginkannya.
Situasi tersebut bisa mengingatkan kita pada kehidupan setelah lulus sekolah atau kuliah. Ketika membuka media sosial, seseorang mungkin melihat teman-temannya sudah bekerja, melanjutkan pendidikan, menikah, atau memiliki pencapaian yang selama ini diinginkan.
Tanpa disadari, pencapaian orang lain dapat berubah menjadi tolok ukur untuk menilai kehidupan sendiri. Muncul perasaan bahwa diri sendiri berjalan terlalu lambat, padahal setiap orang memiliki perjalanan dan kondisi yang berbeda.
Baca Juga: Siap Sapa Bioskop November Ini, Bisakah 'Hexed' Jawab Ekspektasi Publik di Era AI?
Film ini mengingatkan bahwa keinginan untuk diterima dan diakui orang lain bisa membuat seseorang terlalu sibuk membandingkan diri. Padahal, hidup bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang mencapai garis akhir pada waktu yang sama.
2. Memikirkan Kemungkinan Terburuk sebelum Sesuatu Terjadi
Anxiety berusaha melindungi Riley dengan memprediksi berbagai kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. Ia membuat rencana dan berusaha mengendalikan situasi agar Riley tidak mengalami kegagalan atau penolakan.
Dalam kehidupan orang dewasa, pola ini bisa muncul ketika seseorang terus membayangkan kemungkinan buruk sebelum mengambil keputusan. Misalnya, takut melamar pekerjaan karena khawatir ditolak, ragu memulai usaha karena takut rugi, atau terus mempertanyakan pilihan karier karena takut menyesal di kemudian hari.
Mempersiapkan diri menghadapi risiko sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, masalah muncul ketika pikiran dipenuhi berbagai skenario buruk sampai seseorang kesulitan mengambil langkah pertama.
Alih-alih membantu menyelesaikan masalah, kekhawatiran justru menghabiskan energi untuk menghadapi sesuatu yang belum tentu terjadi. Kita akhirnya merasa lelah bahkan sebelum benar-benar memulai.
3. Merasa Harus Memiliki Rencana Hidup yang Sempurna
Anxiety tidak ingin Riley mengalami kesulitan. Karena itu, ia berusaha mengatur banyak hal agar Riley dapat menghadapi masa depan dengan aman. Namun, keinginannya untuk mengendalikan keadaan justru membuat situasi semakin rumit.
Hal tersebut terasa dekat dengan tekanan yang dialami banyak orang dewasa. Ada anggapan bahwa pada usia tertentu, seseorang seharusnya sudah mengetahui pekerjaan yang ingin ditekuni, memiliki penghasilan stabil, atau memahami arah hidupnya dengan jelas.
Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Seseorang bisa saja berganti pekerjaan, mengubah tujuan, mencoba bidang baru, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan hal yang benar-benar sesuai dengan dirinya.
Tidak memiliki semua jawaban sekarang bukan berarti seseorang gagal menjalani hidup. Terkadang, kita memang perlu menjalani prosesnya terlebih dahulu sebelum memahami apa yang sebenarnya diinginkan.
4. Ingin Mengendalikan Masa Depan agar Tidak Merasa Takut
Hal yang membuat Anxiety menarik bukan semata-mata karena ia menimbulkan masalah bagi Riley, melainkan karena niatnya berasal dari keinginan untuk melindungi. Ia ingin mencegah Riley terluka, ditolak, atau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Dalam kehidupan nyata, orang dewasa juga bisa berusaha mengendalikan banyak hal karena takut menghadapi ketidakpastian. Kita ingin memastikan bahwa pilihan hari ini akan menghasilkan masa depan yang baik. Ketika hasilnya belum terlihat, pikiran pun mulai dipenuhi pertanyaan.
Namun, tidak semua hal dapat dipastikan sejak awal. Kita bisa merencanakan masa depan, tetapi tetap ada faktor di luar kendali yang mungkin mengubah arah perjalanan.
Menerima ketidakpastian bukan berarti berhenti berusaha. Sebaliknya, kita belajar membedakan hal-hal yang bisa diperbaiki sekarang dengan hal-hal yang memang belum memiliki jawaban.
5. Tidak Harus Menyelesaikan Seluruh Hidup Hari Ini
Melalui Anxiety, Inside Out 2 memperlihatkan bahwa emosi yang ingin melindungi kita pun bisa menjadi terlalu dominan. Keinginan untuk menghindari kegagalan dan memastikan semuanya berjalan baik justru dapat membuat seseorang kewalahan.
Film ini bukan berarti mengajarkan kita untuk mengabaikan masa depan. Rasa khawatir tetap memiliki fungsi, misalnya mendorong kita belajar sebelum ujian atau mempersiapkan diri sebelum wawancara kerja. Namun, kita juga perlu menyadari kapan kekhawatiran mulai menghambat kehidupan sehari-hari.
Ketika pikiran tentang masa depan terasa berat, kita bisa mencoba memecah persoalan menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan saat ini. Daripada memikirkan seluruh perjalanan karier sekaligus, misalnya, kita dapat mulai dengan memperbarui CV, mencari informasi pekerjaan, atau mempelajari keterampilan baru.
Pada akhirnya, karakter Anxiety mengingatkan bahwa tidak semua ketakutan harus dijawab hari ini. Kita boleh memiliki rencana, merasa khawatir, dan belum mengetahui arah hidup sepenuhnya. Sebab, bertumbuh bukan berarti selalu merasa yakin, melainkan tetap belajar melangkah meskipun masa depan belum sepenuhnya jelas.
Editor : Inayah Choirunisa