SOLOBALAPAN.COM - Menjadi penggemar sebuah band biasanya identik dengan hafal lagu, mengikuti konser, membeli merchandise, atau aktif membicarakan karya terbaru mereka. Namun, belakangan muncul kecenderungan menarik di kalangan penikmat musik, yaitu ketertarikan terhadap band-band yang belum terlalu dikenal banyak orang atau berada di lingkup musik yang sangat spesifik. Fenomena ini sering disebut sebagai niche
Secara sederhana, niche dalam musik dapat dipahami sebagai ruang kecil yang memiliki minat dan penggemar tersendiri. Misalnya, seseorang tidak hanya menyukai musik rock, tetapi secara khusus mencari band dari subgenre tertentu yang hanya memiliki komunitas pendengar terbatas.
Baca Juga: Shoegaze, Dari Kebiasaan Gitaris Menatap Ke Bawah Saat Bermusik Menjadi Sebuah Genre Musik.
Ada pula penggemar yang justru merasa senang ketika menemukan band yang belum banyak dikenal oleh orang lain. Fenomena tersebut semakin menarik karena perkembangan platform digital membuat batas antara musik mainstream dan musik niche menjadi semakin tipis.
Menemukan Band Kecil Justru Jadi Pengalaman Menyenangkan
Dahulu, menemukan band yang tidak terkenal mungkin membutuhkan usaha lebih. Penggemar harus datang ke toko musik, mencari rekomendasi dari teman, membaca majalah musik, atau menghadiri pertunjukan di tempat-tempat kecil.
Baca Juga: Mengenal Dreampop, Genre Musik dengan Nuansa Mengawang serta Vokalnya yang Lembut
Sekarang, situasinya berbeda. Platform seperti Spotify, YouTube, TikTok, hingga Bandcamp memberikan banyak jalan bagi pendengar untuk menemukan musisi baru. Penelitian Spotify terhadap pola konsumsi musik menunjukkan bahwa pengguna memiliki kebiasaan mengeksplorasi genre dan musik baru dengan cara yang berbeda-beda.
Dalam penelitian terhadap 100 ribu pengguna, Spotify bahkan menemukan bahwa mendengarkan genre baru dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan selera musik seseorang.
Baca Juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Dream Pop dengan Shoegaze
Artinya, seseorang tidak harus terus mendengarkan artis yang sudah dikenal. Ada kemungkinan mereka justru berpindah dari satu genre ke genre lain dan akhirnya menemukan band yang jauh lebih kecil atau spesifik.
Menariknya, fenomena niche ini tidak selalu berlawanan dengan perkembangan teknologi. Justru algoritma rekomendasi dapat membantu pendengar masuk lebih jauh ke dalam suatu genre.
Baca Juga: Surf Rock, Musik yang Membawa Debur Ombak Lewat Gitar yang Penuh Gema.
Ketika seseorang berkali-kali mendengarkan satu band, platform musik dapat memberikan rekomendasi musisi lain yang memiliki karakter serupa. Dari satu band, pendengar bisa menemukan band lain, kemudian menemukan label, genre, hingga komunitas baru.
Dengan kata lain, seseorang yang awalnya hanya mendengarkan satu band populer bisa saja berakhir menemukan beberapa band yang jauh lebih niche karena rekomendasi digital.
Ada Sensasi “Aku Menemukan Ini Duluan”
Salah satu hal yang membuat musik niche menarik adalah adanya rasa penemuan.
Ketika seseorang menemukan sebuah band dengan jumlah pendengar yang belum terlalu besar, ada perasaan yang muncul seperti menemukan sesuatu yang belum diketahui banyak orang. Apalagi jika band tersebut kemudian menjadi salah satu musisi favoritnya.
Baca Juga: White Chorus, Duo Asal Bandung yang Eksploratif Dari Tri-Hop Hingga Electro Pop
Hal ini juga dapat membuat hubungan antara penggemar dan musik terasa lebih personal. Penggemar tidak hanya menikmati lagu, tetapi merasa menjadi bagian dari perjalanan sebuah band yang sedang berkembang.
Namun, bukan berarti semua penggemar musik niche ingin menjaga musik tersebut agar tetap eksklusif. Banyak yang justru membagikan lagu, membuat playlist, mengunggah rekomendasi di media sosial, hingga mengajak teman untuk mendengarkannya.
Niche Tidak Selalu Berarti “Tidak Terkenal”
Satu hal yang perlu dipahami, niche tidak selalu berarti sebuah band sama sekali tidak dikenal. Sebuah band dapat memiliki penggemar yang cukup banyak, tetapi tetap berada dalam ruang musik yang spesifik.
Misalnya, sebuah band mungkin populer di kalangan penggemar shoegaze, dream pop, post-punk, hardcore, atau genre tertentu lainnya, tetapi belum tentu dikenal oleh pendengar musik secara umum.
Baca Juga: TheMilo, Band Asal Bandung yang Menjadi Bagian Perjalanan Dream pop dan Shoegaze di Indonesia.
Dapat juga seorang penikmat musik menemukan sebuah band sebelum band tersebut viral, pada saat band tersebut viral mungkin terdapat beberapa penikmat musik yang berkomentar tentang klaimnya karena telah mengetahui band tersebut sebelum viral bukan setelah viral yang biasa disebut dengan istilah “fomo”.
“Maaf kalau terlalu niche”
Kalimat tersebut merupakan salah satu guyonan yang sekarang sedang sering disinggung oleh kalangan penikmat musik di sosial media instagram maupun tiktok. Dimana saat seseorang sedang berkenalan lalu membahas selera musik, kemudian diberi jawaban dengan nama-nama band yang memiliki pendengar dalam lingkup komunitas yang kecil.
Baca Juga: “Mabuk Laut” di Jantung Kota: Menyelami Gelombang Surf Rock The Panturas yang Tak Pernah Surut
Atau menyebutkan jika ia mengetahui band tersebut sebelum viral atau bahkan sejak debut, yang diakhiri dengan kalimat “maaf kalau terlalu niche”.Hal itu menunjukan jika ia ingin dianggap berbeda dari orang lain, walaupun kita tidak bisa memaknai hal tersebut hanya dalam sudut pandang negatif.
Memiliki ciri khas yang membedakan dengan orang lain juga bukan hal yang buruk, kita semua tetap sesama manusia namun kita harus tetap menjadi diri kita sendiri bahkan tidak salah jika kita tidak mengikuti seluruh arus keviralan di sosial media. (Adhima Aulia)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com, Spotify, Instagram, TikTok