5 Film Romance Anak SMA Indonesia Favorit, Ada AADC hingga Dilan 1990

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 07:16 WIB
Lima film romance SMA Indonesia terfavorit menyajikan dinamika remaja yang beragam.
Mulai dari nostalgia AADC dan Dilan 1990 hingga isu toxic relationship di Posesif, kisah cinta sekolah ini sarat makna.

SOLOBALAPAN.COM – Film romance anak SMA punya daya tarik tersendiri. Ceritanya dekat dengan pengalaman masa remaja, mulai dari pertama kali jatuh cinta, patah hati, seru-seruan bersama teman, sampai momen ketika seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang, masa SMA bahkan dianggap sebagai salah satu periode paling menyenangkan dalam hidup. Tidak heran jika kisah cinta remaja cukup sering diangkat ke layar lebar Indonesia.

Beberapa film bahkan tidak hanya membahas hubungan romantis, tetapi juga memasukkan persoalan persahabatan, keluarga, pencarian jati diri, hingga tekanan dari lingkungan sekitar.

Berikut lima film romance anak SMA Indonesia yang menarik untuk ditonton kembali.

Baca Juga: 5 Fakta Hujan Meteor Draconids Oktober 2026, Puncaknya Segera Terjadi

1. Ada Apa dengan Cinta?

Kalau membicarakan film romance remaja Indonesia, Ada Apa dengan Cinta? atau AADC tentu sulit dilewatkan. Film yang dirilis pada 2002 ini mempertemukan Cinta dan Rangga dalam kisah cinta yang kemudian menjadi salah satu cerita remaja paling ikonik di Indonesia.

Namun, daya tarik AADC tidak hanya terletak pada kisah cinta keduanya. Film ini juga memperlihatkan remaja sebagai individu yang memiliki pemikiran, mimpi, persahabatan, konflik keluarga, dan kegelisahan sendiri.

Puisi, geng persahabatan Cinta, sampai pencarian identitas membuat cerita AADC terasa lebih luas daripada sekadar kisah cinta anak sekolah.

Baca Juga: 5 Prompt AI untuk Melatih Critical Thinking, Jangan Cuma Bilang Tolong Rangkum

Menariknya, buku Aku karya Suman Jaya yang dibawa Rangga dalam film juga sempat ikut populer setelah AADC dirilis. Film ini kemudian mendapatkan kelanjutan melalui Ada Apa dengan Cinta? 2 dan pada 2025 kisahnya kembali diadaptasi dalam film musikal Rangga & Cinta.

2. Posesif

Film Posesif menjadi pilihan yang berbeda karena berani membicarakan hubungan yang tidak sehat di lingkungan remaja.

Film debut Putri Marino ini bercerita tentang Lala, seorang atlet loncat indah, yang menjalin hubungan dengan Yudhis, siswa populer di sekolahnya. Pada awalnya hubungan mereka terlihat seperti kisah cinta remaja biasa.

Namun, perlahan muncul perilaku mengontrol yang membuat hubungan tersebut semakin tidak sehat.

Baca Juga: Apa Arti “Stop the Wedding!” yang Viral di TikTok? Ternyata Bukan Cuma Soal Pernikahan

Posesif menarik karena hadir ketika perilaku posesif masih sering dianggap sebagai bentuk perhatian atau bukti kasih sayang. Film ini justru mengajak penonton mempertanyakan kembali anggapan tersebut.

Dengan skenario Gina S. Noer dan penyutradaraan Edwin, cerita cinta remaja dalam film ini terasa lebih psikologis. Tidak ada karakter yang sekadar dibuat sebagai “monster”, karena hubungan yang tidak sehat juga dapat muncul dari luka dan persoalan masing-masing orang.

3. Di Bawah Umur

Selanjutnya ada Di Bawah Umur yang mengangkat kehidupan Aryo, Lana, dan teman-teman SMA mereka.

Film ini membawa persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan remaja, seperti percintaan, persahabatan, tekanan pergaulan, kenakalan remaja, hubungan dengan orang tua, hingga pencarian jati diri.

Alih-alih hanya berfokus pada kisah cinta, Di Bawah Umur memperlihatkan bagaimana keputusan yang dibuat ketika remaja bisa membawa konsekuensi yang harus dihadapi.

Film ini ditulis oleh Erisca Febriani, penulis novel Dear Nathan, bersama Alim Sudio dan disutradarai oleh Emil Heradi.

4. Dilan 1990

Kalau AADC punya Rangga dan Cinta, generasi berikutnya punya Dilan dan Milea.

Dilan 1990 bercerita tentang Milea yang pindah sekolah ke Bandung dan kemudian bertemu Dilan, siswa dengan cara pendekatan yang tidak biasa. Berlatar Bandung pada 1990, film ini menawarkan kisah cinta remaja dengan nuansa nostalgia.

Dilan tidak digambarkan sebagai sosok romantis dengan cara konvensional. Justru kalimat-kalimat gombal dan tingkahnya yang tidak biasa menjadi bagian dari daya tarik cerita.

Film yang diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq ini juga memperlihatkan kehidupan sekolah, persahabatan, dan suasana remaja pada era 1990-an.

5. Dear Nathan

Terakhir ada Dear Nathan, film yang mempertemukan Salma dengan Nathan, siswa yang dikenal sebagai anak bermasalah di sekolah.

Salma yang berusaha menjaga reputasinya kemudian justru semakin dekat dengan Nathan. Dari hubungan tersebut, cerita berkembang menjadi kisah tentang cinta, persahabatan, keluarga, dan masa lalu yang membentuk seseorang.

Dear Nathan juga menarik karena tidak hanya menjadikan kisah romantis sebagai tujuan akhir. Penonton diajak melihat bagaimana dua remaja dengan karakter berbeda dapat saling memengaruhi ketika mereka mulai mengenal kehidupan satu sama lain.

Kelima film tersebut menunjukkan bahwa romance anak SMA Indonesia tidak selalu harus berkutat pada kisah “cowok suka cewek”. Ada cerita tentang persahabatan, keluarga, tekanan sosial, kesehatan hubungan, sampai pencarian jati diri.

Mungkin itu juga yang membuat film-film romance remaja terasa dekat. Sebab, di balik kisah cintanya, selalu ada cerita tentang bagaimana seseorang belajar mengenal dirinya sendiri.

Editor : Inayah Choirunisa
cinta hubungan film remaja