SOLOBALAPAN.COM - Tidak semua perpisahan langsung membuat seseorang mampu melupakan. Ada kalanya waktu terus berjalan, tetapi perasaan justru masih tertinggal pada seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup.
Perasaan tersebut menjadi inti dari lagu “Sway” milik COLORCODE yang berkolaborasi dengan Sekar Agny. “Sway” menjadi salah satu lagu dalam album debut COLORCODE bertajuk “Constant Change” yang dirilis pada 4 September 2026 melalui Eclipse Time Records.
Lagu berdurasi sekitar empat menit ini menjadi track kelima dalam album yang berisi 10 lagu tersebut.
Baca Juga: Filsummer: Band Asal Bandung Yang Memadukan Alat Musik Tradisional Sunda Kedalam MusiK Genre Midwest
Mengisahkan Seseorang yang Belum Bisa Melupakan
“Sway” membawa cerita tentang seseorang yang masih terjebak dalam kenangan setelah hubungannya berakhir.
Waktu yang telah berlalu ternyata tidak cukup untuk menghapus perasaan yang masih tersisa. Bahkan setelah lebih dari satu tahun berpisah, sosok tersebut masih terasa dekat melalui ingatan dan kebiasaan yang ditinggalkan.
Hal tersebut terlihat dari gambaran tentang sebuah ruang yang terasa kosong setelah kepergian seseorang.
Ruang tersebut bukan hanya tempat secara fisik, tetapi dapat dimaknai sebagai gambaran keadaan hati yang masih kehilangan. Keberadaan seseorang memang sudah tidak ada, tetapi kenangannya masih memenuhi ruang tersebut.
Baca Juga: Memaknai lagu Putih – Efek Rumah Kaca sebagai Ruang Kontemplasi di Tengah Bisingnya Dunia Digital
Salah satu hal yang menarik dari “Sway” adalah keinginan untuk menghapus jejak masa lalu yang berjalan beriringan dengan ketidakmampuan untuk benar-benar melakukannya.
Ada usaha untuk meninggalkan tempat, menghapus kenangan, dan melanjutkan kehidupan. Namun, semakin berusaha melupakan, ingatan tentang hubungan tersebut justru masih muncul.
Kenangan tidak selalu muncul karena seseorang sengaja mengingatnya, hal-hal sederhana seperti tempat, kebiasaan, atau suara tertentu dapat menjadi pemicu munculnya kembali ingatan tentang seseorang.
“Sway” menangkap keadaan tersebut melalui cerita tentang seseorang yang masih merasa seolah-olah orang yang telah pergi itu belum benar-benar meninggalkan hidupnya.
Masih Berharap Perasaan yang Sama
Rasa kehilangan dalam lagu ini juga disertai dengan harapan. Tokoh dalam lagu masih membayangkan kemungkinan bahwa orang yang dirindukannya memiliki perasaan yang sama.
Harapan tersebut membuat proses melupakan menjadi semakin sulit. Di satu sisi, ada kesadaran bahwa hubungan telah berakhir. Namun di sisi lain, masih ada keinginan untuk kembali ke masa ketika keduanya masih bersama.
Baca Juga: SEEN Boy Group Indonesia Punya Konsep 4 Waktu, Kenapa Membernya Diperkenalkan Berbeda?
Bagian ini membuat “Sway” tidak hanya berbicara tentang kehilangan, tetapi juga tentang ketidakpastian setelah perpisahan.
Seseorang mungkin tidak lagi mengetahui bagaimana keadaan orang yang dirindukannya, tetapi pikirannya masih terus kembali kepada sosok tersebut.
Tema “Sway” juga dapat dikaitkan dengan judul album yang menaunginya, yaitu Constant Change. Album debut COLORCODE tersebut hadir setelah band asal Yogyakarta itu melewati masa hiatus hampir satu tahun.
Dalam konteks tersebut, “Sway” dapat dilihat sebagai gambaran bahwa perubahan tidak selalu berarti seseorang langsung meninggalkan masa lalu.
Perubahan dapat berlangsung secara perlahan, seseorang mungkin sudah berada dalam kehidupan yang baru, tetapi masih membutuhkan waktu untuk berdamai dengan hal-hal yang pernah terjadi.
Baca Juga: Shoegaze, Dari Kebiasaan Gitaris Menatap Ke Bawah Saat Bermusik Menjadi Sebuah Genre Musik.
Hal tersebut membuat lagu ini terasa cukup relevan dengan keseluruhan gagasan “Constant Change”. Kehidupan terus bergerak dan manusia pun berubah, tetapi tidak semua perasaan dapat mengikuti perubahan tersebut dengan kecepatan yang sama.
Kolaborasi COLORCODE dan Sekar Agny
Kehadiran Sekar Agny sebagai kolaborator juga menjadi bagian penting dari “Sway”. Dalam kredit resmi lagu, COLORCODE tetap menjadi artis utama, sementara Sekar Agny tercatat sebagai featured artist.
Lagu ini ditulis oleh Ichsan Alfandiansyah, dengan komposisi yang melibatkan Amjad Hibatullah, Galang Gumilang, Hanindra Yusrizal, dan Muhammad Iqbal Razzaqi P.
Produksinya ditangani Galang Gumilang dan Hanindra Yusrizal. Kolaborasi tersebut memberikan warna vokal yang berbeda dalam lagu, kehadiran Sekar Agny terutama terasa pada bagian akhir lagu.
Baca Juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Dream Pop dengan Shoegaze
Ketika cerita tentang kerinduan semakin mengarah pada pengakuan bahwa perasaan tersebut belum sepenuhnya hilang. Dengan format kolaborasi tersebut, “Sway” terasa seperti percakapan dengan masa lalu.
Ada keinginan untuk kembali, ada pertanyaan yang belum terjawab, tetapi juga ada kesadaran bahwa keadaan tidak mungkin sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.
Bukan tentang Kembali, tetapi Berdamai
Jika dimaknai lebih jauh, “Sway” tidak harus dipahami sebagai lagu tentang keinginan untuk mendapatkan kembali seseorang.
Lagu ini juga dapat dibaca sebagai gambaran tentang proses seseorang dalam menghadapi rasa kehilangan.
Masih merindukan seseorang setelah hubungan berakhir bukan berarti seseorang gagal untuk melanjutkan hidup. Pada akhirnya, perubahan tetap berjalan.
Baca Juga: Efek Rumah Kaca, Indonesian Rock Indie Band Pengisi OST Film Laut Bercerita bersama Knogg
Orang-orang dapat pergi, hubungan dapat berakhir, dan kehidupan terus bergerak. Namun, beberapa kenangan mungkin tetap tinggal sebagai bagian dari perjalanan seseorang.
“Sway” kemudian menjadi gambaran sederhana tentang fase tersebut: ketika seseorang tahu bahwa ia harus melanjutkan hidup, tetapi pada beberapa malam masih teringat pada orang yang pernah menjadi rumah.
Di tengah perubahan yang terus terjadi, ada perasaan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar ikut berubah. (adhima aulia)
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber