SOLOBALAPAN.COM - Bagi penikmat musik alternatif, istilah dream pop dan shoegaze mungkin sudah tidak asing lagi. Keduanya sama-sama dikenal melalui suara gitar yang menggunakan berbagai efek, vokal yang lembut atau samar, serta suasana musik yang terasa mengawang. Karena memiliki banyak kesamaan, kedua genre ini terkadang sulit dibedakan.
Meski demikian, dream pop dan shoegaze sebenarnya memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari cara masing-masing genre menggunakan gitar, vokal, melodi, hingga membangun suasana dalam sebuah lagu.
Baca Juga: TheMilo, Band Asal Bandung yang Menjadi Bagian Perjalanan Dream pop dan Shoegaze di Indonesia.
Dream Pop yang Mengutamakan Atmosfer
Dream pop merupakan subgenre dari alternative rock yang banyak menekankan atmosfer dan tekstur suara, selain melodi. Musik ini sering menggunakan vokal yang lembut, gitar dengan efek echo dan reverb, serta synthesizer untuk menciptakan kesan luas dan mengambang.
Karakter tersebut membuat dream pop terdengar lebih lembut dan tenang. Melodi dan vokal masih memiliki ruang yang cukup jelas sehingga pendengar dapat mengikuti lagu sekaligus menikmati suasana yang dibangun melalui berbagai lapisan suara.
Baca Juga: Drizzly, Band Dream Pop Asal Sidoarjo yang Beranggotakan Empat Perempuan.
Salah satu kelompok yang sering dikaitkan dengan perkembangan dream pop adalah Cocteau Twins. Musik mereka dikenal melalui perpaduan vokal yang khas dengan lanskap suara yang luas. Selain Cocteau Twins, beberapa nama seperti Galaxie 500 dan Mazzy Star juga sering masuk dalam pembahasan mengenai dream pop.
Shoegaze dengan Suara Gitar yang Lebih Padat
Berbeda dengan dream pop, shoegaze lebih banyak menonjolkan lapisan gitar yang tebal, distorsi, feedback, dan suara yang keras. Shoegaze sebagai genre yang berkembang dari skena indie rock Inggris pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Salah satu cirinya adalah penggunaan riff yang panjang, distorsi, serta feedback yang menciptakan semacam dinding suara.
Dalam musik shoegaze, suara vokal sering kali dibuat samar dan menyatu dengan instrumen. Hal tersebut membuat lirik tidak selalu menjadi bagian yang paling menonjol. Gitar dan berbagai efek suara justru menjadi bagian penting dalam membentuk karakter lagu.
Baca Juga: Mengenal Dreampop, Genre Musik dengan Nuansa Mengawang serta Vokalnya yang Lembut
Salah satu nama yang sangat erat dengan perkembangan shoegaze adalah My Bloody Valentine. Album Loveless yang dirilis pada 1991 sering dianggap sebagai salah satu karya penting dalam perkembangan genre tersebut. Selain My Bloody Valentine, terdapat Slowdive, Ride, Lush, dan Chapterhouse yang juga menjadi bagian dari perkembangan shoegaze.
Perbedaan Genre Dream Pop dengan Shoegaze yang kerap dianggap sama.
-
Dari unsur Dream pop lebih berfokus pada atmosfer, tekstur, dan melodi. Dibandingkan dengan Shoegaze yang lebih menonjolkan tekstur gitar, distorsi, dan feedback
-
Pada gitar dream pop cenderung menggunakan reverb, echo, dan efek yang menghasilkan suara mengambang. Jika shoegaze gitarnya dibuat lebih tebal, terdistorsi, dan berlapis.
-
Vokal pada shoegaze sering dibuat samar, dan menyatu dengan musik, pada dream pop pada umumnya vokal terasa lebih lembut dan atmosferik.
-
Suasana pada kedua genre ini cukup berbeda pada dream pop membawakan suasana mengawang, lembut, tenang atau melankolis. Sedangkan pada shoegaze suasananya lebih padat, bising, intens, tetapi tetap atmosferik.
-
Karakter suara pada dream pop lebih lapang dan ringan, sedangkan pada shoegaze lebih penuh dan menyerupai wall of sound.
Baca Juga: Romantic Echoes Berkarya Bersama Lirik-lirik Puitisnya
Meski begitu, tabel tersebut bukan batas mutlak. Beberapa musisi dapat menggunakan unsur dari kedua genre dalam satu karya. AllMusic bahkan memasukkan My Bloody Valentine dalam pembahasan dream pop, sementara mereka juga merupakan salah satu nama penting dalam shoegaze. Hal ini menunjukkan adanya persinggungan yang cukup kuat di antara kedua genre. (Adhima Aulia)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber