SOLOBALAPAN.COM – Dulu, standar cowok idaman mungkin sesederhana: ganteng, misterius, bisa melindungi, dan diam-diam ternyata sayang banget sama tokoh utama.
Makanya, nggak heran kalau beberapa karakter cowok dari film, serial, sampai anime pernah menjadi childhood crush banyak orang.
Edward Cullen dari Twilight? Dulu kelihatannya romantis karena selalu ada untuk Bella. Gu Jun-pyo dari Boys Over Flowers? Cowok kaya yang galak ke semua orang, tetapi lembut kepada perempuan yang disukainya.
Baca Juga: Gyaru Itu Apa Sih Sebenarnya? Makeup Baddie, Leopard, atau Apa Sih?
Tapi kalau ditonton lagi sekarang, beberapa karakter tersebut justru membuat kita berpikir, “Sebentar, kok dulu gue menganggap ini boyfriend goals?”
Bukan berarti semua karakter ini sepenuhnya buruk. Beberapa memang berkembang dan belajar dari kesalahannya. Namun, kalau perilakunya dilihat menggunakan standar hubungan yang lebih sehat sekarang, ada beberapa hal yang ternyata cukup red flag.
1. Edward Cullen – Twilight
Edward Cullen mungkin menjadi salah satu definisi cowok romantis bagi penonton Twilight pada masanya.
Dia tampan, misterius, sangat protektif terhadap Bella, dan rela melakukan apa saja untuk menjaga perempuan yang dicintainya.
Baca Juga: Bukan Cuma Model, I Gede Aiswarya Juara 3 Mister International 2026 Ternyata Insinyur dan Inovator
Masalahnya, kalau diperhatikan lagi, beberapa perilakunya sebenarnya cukup mengganggu.
Edward diam-diam mengikuti Bella dan bahkan masuk ke kamar Bella ketika ia sedang tidur. Dalam cerita, tindakan tersebut memang dibingkai sebagai bagian dari rasa cintanya dan keinginannya melindungi Bella. Namun, kalau dibawa ke kehidupan nyata, masuk ke kamar seseorang tanpa izin ketika orang tersebut sedang tidur jelas merupakan pelanggaran batas pribadi.
Belum lagi kecenderungannya mengambil keputusan berdasarkan apa yang menurutnya paling aman bagi Bella, meskipun Bella sendiri memiliki keinginan berbeda.
Dulu disebut protektif. Sekarang mungkin lebih tepat disebut terlalu mengontrol.
Baca Juga: Apa Kantong Ajaib Doraemon Bisa Kalah Sama AI? Dulu Khayalan, Kini Jadi Kenyataan
2. Troy Bolton – High School Musical
Troy sebenarnya bukan karakter yang sepenuhnya red flag.
Justru, ia termasuk contoh green flag in progress.
Masalahnya muncul ketika Troy terlalu mudah dipengaruhi teman dan ekspektasi lingkungan. Dalam High School Musical, tekanan dari Chad dan teman-temannya membuat Troy menjauh dari Gabriella dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa menyanyi bukan bagian dari dirinya.
Ia bahkan mengatakan hal-hal yang membuat Gabriella terluka.
Bedanya dengan beberapa karakter lain dalam daftar ini, Troy kemudian menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf kepada Gabriella dan berusaha memperbaiki keadaan.
Jadi, kalau Edward perlu belajar soal batasan, Troy justru memperlihatkan bahwa seseorang bisa melakukan kesalahan dalam hubungan tanpa harus selamanya menjadi red flag—asal mau mengakui dan memperbaikinya.
3. Draco Malfoy – Harry Potter
Kalau dulu rambut pirang, seragam Slytherin, dan sikap jutek Draco Malfoy terasa charming, menonton Harry Potter ketika sudah dewasa memberikan pengalaman yang sedikit berbeda.
Karena sebenarnya Draco adalah bully.
Ia sering merendahkan Harry, Ron, Hermione, Neville, dan siswa lain. Ia juga tumbuh dengan keyakinan bahwa status keluarga dan darah murninya membuat dirinya lebih unggul daripada orang lain.
Bahkan situs resmi Harry Potter menggambarkan Draco sebagai anak yang sejak kecil meyakini dirinya istimewa karena berasal dari keluarga pure-blood dan memiliki nama besar Malfoy. Sikap superior tersebut kemudian terlihat dalam caranya memperlakukan orang lain.
Jadi, mungkin yang dulu kita anggap sebagai bad boy attitude sebenarnya adalah kombinasi antara kesombongan, privilese, dan kebiasaan merendahkan orang lain.
Untungnya, karakter Draco juga berkembang. Namun, Draco versi masa sekolah jelas bukan tipe cowok yang sehat untuk dijadikan relationship goals.
4. Gu Jun-pyo – Boys Over Flowers
Kalau ada karakter yang mungkin paling sulit dijelaskan menggunakan standar hubungan masa kini, Gu Jun-pyo adalah salah satunya.
Dulu, sikap galak Jun-pyo kepada semua orang terasa seperti trope klasik: cowok kaya dan kasar yang ternyata punya sisi lembut hanya untuk perempuan yang dicintainya.
Masalahnya, target dari sikap buruk tersebut juga termasuk Jan-di.
Jun-pyo merupakan pemimpin F4 dan terlibat dalam budaya bullying di sekolah. Jan-di bahkan menjadi sasaran perundungan setelah berkonflik dengannya. Kekayaan dan status keluarganya juga membuat Jun-pyo memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan di sekitarnya.
Memang, Jun-pyo kemudian berkembang dan belajar memperlakukan Jan-di dengan lebih baik.
Tetapi kalau melihat perilaku awalnya dengan standar sekarang, “galak tapi soft ke pacar” tidak otomatis berarti romantis kalau dia tetap merendahkan dan menyakiti orang lain.
5. Sasuke Uchiha – Naruto
Sasuke mungkin adalah definisi cowok cool bagi banyak penggemar Naruto.
Pendiam, jago bertarung, tampan, dan punya aura misterius. Paket lengkap untuk menjadi crush karakter anime.
Tapi Sasuke juga punya persoalan yang cukup besar: ego dan obsesinya terhadap balas dendam.
Sejak awal, ia sangat fokus untuk menjadi lebih kuat dan membalas dendam kepada Itachi. Hubungannya dengan Naruto pun sempat dipengaruhi keinginannya untuk tidak kalah dari rivalnya tersebut.
Situs resmi Naruto bahkan menggambarkan bagaimana Sasuke melihat ikatan dengan orang lain sebagai kelemahan dan awalnya tidak tertarik berteman dengan Naruto.
Hubungannya dengan Sakura juga rumit. Perasaan Sakura kepadanya sudah ada sejak lama, tetapi Sasuke pada sebagian besar cerita tidak berada dalam kondisi emosional untuk membangun hubungan romantis yang sehat.
Jadi, cool dan misterius ternyata tidak selalu sama dengan emotionally available.
6. Jess Mariano – Gilmore Girls
Jess Mariano adalah tipe karakter yang dulu mudah membuat penonton berkata, “Dia cuma butuh seseorang yang benar-benar memahami dia.”
Dengan sikap cuek, sarkastis, dan aura anak nakal, Jess memang punya daya tarik tersendiri.
Namun, kalau dilihat dari hubungan Jess dan Rory, masalah komunikasinya cukup jelas. Jess cenderung tertutup, sulit mengungkapkan perasaan, dan beberapa kali menghilang ketika menghadapi masalah.
Daya tarik karakter seperti Jess memang terletak pada kesan bahwa ada sisi lembut yang hanya terlihat oleh orang tertentu.
Tapi dalam hubungan nyata, pasangan bukan proyek untuk “memperbaiki” seseorang.
Seseorang yang menarik bukan berarti otomatis menjadi pasangan yang komunikatif.
7. Damon Salvatore – The Vampire Diaries
Damon adalah contoh lain dari trope bad boy yang ternyata punya sisi lembut.
Ia sarkastis, percaya diri, berani, dan sering menunjukkan bahwa di balik sikap kasarnya ada rasa sayang kepada orang-orang tertentu.
Tetapi kalau beberapa perilakunya ditonton lagi sekarang, daya tarik tersebut mulai terasa berbeda.
Damon kerap menggunakan intimidasi, manipulasi, dan kekerasan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Hubungannya dengan Elena juga beberapa kali diwarnai keputusan sepihak dan tindakan yang mengabaikan batasan orang lain.
Dulu, karakter seperti Damon mungkin dianggap menarik karena punya sisi “aku cuma lembut sama kamu”.
Sekarang, mungkin pertanyaannya berubah menjadi: kalau dia memperlakukan semua orang dengan buruk, apakah menjadi lembut kepada pacarnya saja sudah cukup?
Ternyata Standar Boyfriend Goals Kita Ikut Berubah
Menariknya, bukan cuma karakternya yang berubah. Cara kita melihat karakter tersebut juga ikut berubah.
Saat masih kecil atau remaja, sifat posesif bisa terlihat seperti perhatian. Sikap misterius bisa terasa romantis. Cowok yang cemburuan dianggap berarti sayang. Bahkan karakter yang kasar kepada semua orang bisa dianggap punya daya tarik selama ia memperlakukan tokoh utama secara berbeda.
Setelah dewasa, kita mungkin mulai melihat hal yang berbeda: batasan pribadi, komunikasi, rasa hormat, kemampuan mengelola emosi, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Itulah mengapa childhood crush yang dulu terasa seperti boyfriend goals sekarang bisa berubah menjadi bahan evaluasi.
Bukan berarti kita harus membenci karakter-karakter tersebut atau menghapus kenangan masa kecil. Justru lucu juga ketika kita menyadari bahwa standar “cowok idaman” kita ternyata ikut tumbuh bersama usia.
Editor : Inayah Choirunisa