5 Pelajaran tentang Perjuangan Perempuan yang Bisa Dipetik dari Film Agensi Rumah Tangga

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 07:21 WIB
Film Agensi Rumah Tangga karya Naya Anindita menghadirkan 5 pelajaran penting perjuangan perempuan.
Film Agensi Rumah Tangga karya Naya Anindita menghadirkan 5 pelajaran penting perjuangan perempuan.

SOLOBALAPAN.COM – Kadang, perempuan tidak sedang mencari pekerjaan impian. Mereka hanya sedang mencari pekerjaan yang bisa membuat keluarga tetap makan, cicilan tetap dibayar, dan hidup tetap berjalan.

Hal itu menjadi salah satu gambaran yang terasa kuat dalam film Agensi Rumah Tangga. Film arahan Naya Anindita yang dibintangi Enzy Storia ini memang dikemas sebagai drama komedi, tetapi di balik berbagai adegan lucunya ada cerita tentang perempuan, pekerjaan, keluarga, dan pilihan hidup. Film tersebut tayang di bioskop Indonesia sejak 10 September 2026.

Lewat Katia dan para perempuan yang ditemuinya, ada beberapa hal yang menarik untuk direnungkan.

Baca Juga: Mengenal Dreampop, Genre Musik dengan Nuansa Mengawang serta Vokalnya yang Lembut

1. Mengejar Keinginan Sendiri Tidak Selalu Berarti Melawan Orang Tua

Katia (Enzy Storia) berada dalam situasi yang mungkin cukup familiar bagi banyak anak muda.

Setelah terkena PHK dari perusahaan rintisan dan masih harus membayar cicilan rumah, Katia didorong ibunya, Titin (Unique Priscilla), untuk mencari pekerjaan yang dianggap lebih aman, termasuk menjadi PNS.

Bagi sang ibu, pekerjaan yang stabil berarti masa depan yang lebih terjamin. Sementara bagi Katia, menjadi PNS bukan jalan yang ia inginkan.

Baca Juga: “Veronika Bluetooth” Viral sampai Malaysia, Siapa Verry Klau dan dari Mana Lagu Ini Berasal?

Di sinilah dilema muncul. Kadang kita ingin mengejar sesuatu yang benar-benar kita sukai, tetapi di saat bersamaan ada keinginan untuk membuat orang tua bangga.

Film ini memperlihatkan bahwa perbedaan pilihan tersebut tidak selalu selesai dalam satu percakapan. Katia tetap harus melalui proses sebelum ibunya memahami jalan yang ia pilih.

2. Perempuan Sering Kali Tidak Punya Kemewahan untuk Pilih-Pilih Pekerjaan

Salah satu hal menarik dari film ini adalah bagaimana pekerjaan perempuan digambarkan begitu beragam.

Ada yang menjadi ART, bekerja di sektor lain, hingga mengambil pekerjaan yang mungkin selama ini dianggap tidak biasa dilakukan perempuan. Namun, bagi mereka, pertanyaannya bukan lagi soal pekerjaan itu terlihat keren atau tidak.

Yang penting adalah bisa menghasilkan uang.

Baca Juga: Cidro Asmoro Tayang Oktober, Campursari Jadi Bagian Penting dalam Ceritanya

Ketika kebutuhan keluarga harus dipenuhi, pekerjaan apa pun bisa menjadi jalan untuk bertahan.

Hal ini juga terlihat dari latar Katia sendiri. Ia membangun Agensi Rumah Tangga bukan karena semuanya sudah siap, melainkan karena sedang menghadapi PHK, cicilan KPR, dan kebutuhan untuk kembali memiliki penghasilan.

3. Menjadi ART Bukan Berarti Pekerjaannya Sederhana

Dari luar, pekerjaan ART mungkin terlihat seperti pekerjaan rumah biasa.

Padahal, film ini memperlihatkan bahwa pekerja rumah tangga harus berhadapan dengan banyak hal sekaligus, mulai dari kebutuhan majikan, tuntutan pekerjaan, persoalan upah, hingga perlakuan yang diterima selama bekerja.

Bahkan ketika pekerjaan dilakukan di dalam rumah orang lain, bukan berarti pekerjanya kehilangan hak sebagai manusia dan pekerja.

Film Agensi Rumah Tangga memasukkan persoalan kekerasan yang dialami salah satu ART sekaligus menunjukkan bahwa pekerja domestik membutuhkan perlindungan.

Persoalan tersebut kini juga memiliki payung hukum yang lebih jelas. UU Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga mengatur hak PRT atas upah, waktu kerja, cuti, THR keagamaan, jaminan sosial, serta lingkungan kerja yang aman dan sehat. Undang-undang tersebut berlaku sejak 30 April 2026.

Jadi, menjadi ART bukan berarti harus menerima semua perlakuan majikan begitu saja.

4. Perempuan Bisa Bekerja Keras untuk Keluarga, tetapi Tetap Punya Mimpi Sendiri

Ada satu hal yang menarik dari para perempuan dalam film ini.

Mereka memang bekerja untuk mendapatkan penghasilan, tetapi kehidupan mereka tidak berhenti pada urusan mencari uang.

Mereka punya keluarga yang ingin dipenuhi kebutuhannya, tetapi juga punya keinginan, kemampuan, dan keputusan masing-masing.

Katia misalnya. Ia tidak sekadar ingin kembali mendapatkan pekerjaan setelah PHK. Ia ingin membuktikan bahwa pilihan yang dibuatnya juga bisa membawa dirinya ke masa depan yang ia inginkan.

Karena itu, perjuangan perempuan tidak selalu berbentuk perjuangan besar yang dramatis. Kadang bentuknya sederhana: tetap bekerja ketika keadaan sulit, mencoba pekerjaan baru, atau berani mengambil keputusan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

5. Membuat Orang Tua Memahami Pilihan Kita Memang Butuh Waktu

Hubungan Katia dan ibunya mungkin menjadi bagian yang paling dekat dengan kehidupan banyak anak.

Orang tua sering kali punya definisi sendiri mengenai kehidupan yang aman. Bagi Titin, menjadi PNS adalah pilihan yang masuk akal karena dianggap lebih stabil dan tidak mudah terkena PHK.

Sementara Katia punya definisi berbeda tentang kehidupan yang ingin dijalani.

Pada akhirnya, film ini tidak sekadar menempatkan salah satu pihak sebagai benar dan pihak lain sebagai salah. Ada proses bagi Katia untuk membuktikan pilihannya, sekaligus proses bagi sang ibu untuk memahami bahwa anaknya sudah memiliki keputusan sendiri.

Sebab, menjadi perempuan dewasa juga berarti belajar menentukan hidup sendiri.

Agensi Rumah Tangga memang dibungkus sebagai film drama komedi, tetapi cerita Katia dan para perempuan di dalamnya menunjukkan persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana bekerja ketika kebutuhan keluarga menunggu, bagaimana menghadapi pekerjaan yang tidak selalu mudah, dan bagaimana tetap mempertahankan pilihan hidup di tengah harapan orang lain.

Pada akhirnya, setiap perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.

Entah memilih pekerjaan yang dianggap aman, membangun usaha dari nol, bekerja untuk keluarga, atau mengejar sesuatu yang memang menjadi passion-nya, yang penting adalah pilihan tersebut tetap menjadi miliknya.

Editor : Inayah Choirunisa
Agensi Rumah Tangga Katia art film perempuan