Mengenal Dreampop, Genre Musik dengan Nuansa Mengawang serta Vokalnya yang Lembut

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:14 WIB
Beberapa Band dengan gendre Dreampop (DOK: Instagram)
Beberapa Band dengan gendre Dreampop (Instagram)

SOLOBALAPAN.COM - Perkembangan musik membuat berbagai genre terus mengalami perubahan dan melahirkan warna baru.

Salah satunya adalah dream pop, genre musik yang menawarkan suasana lembut, mengawang, dan seolah membawa pendengarnya masuk ke dalam sebuah ruang mimpi.

Tidak hanya berkembang di luar negeri, genre ini juga mulai mendapat tempat di skena musik Indonesia.

Dream pop merupakan subgenre dari alternative rock dan neo-psychedelia yang lebih menonjolkan suasana serta tekstur suara selain melodi.

Baca Juga: On This Day : Ada Apa di Tanggal 1 Oktober? Kumpulan Momen Historis Yang Bikin Kamu Geleng Geleng

Karakter musiknya sering ditandai dengan vokal yang lembut, permainan gitar dengan efek reverb dan echo, serta penggunaan synthesizer yang menciptakan kesan luas dan atmosferik.

Istilah dream pop mulai dikenal pada akhir 1980-an. Salah satu kelompok yang sering dikaitkan dengan perkembangan genre ini adalah Cocteau Twins dari Skotlandia.

Selain itu, A.R. Kane juga menjadi salah satu nama penting dalam sejarah dream pop. Istilah tersebut sendiri digunakan oleh Alex Ayuli dari A.R. Kane untuk menggambarkan karakter musik duo tersebut.

Baca Juga: Unik! Puik-Puik Makassar Hasilkan Suara dari Daun Lontar

Jika didengarkan, dream pop memiliki karakter yang cukup mudah dikenali. Suara gitar biasanya dibuat lebih berlapis dengan efek gema, sementara vokal cenderung lembut dan menyatu dengan keseluruhan musik.

Berbeda dengan musik yang menempatkan vokal dan lirik sebagai pusat perhatian, dream pop memberikan ruang yang cukup besar pada atmosfer dan tekstur suara.

Karakter tersebut membuat dream pop sering dikaitkan dengan suasana tenang, melankolis, introspektif, hingga seperti berada di alam mimpi.

Baca Juga: Filosofi Senjata Cakra Manggilingan yang Menjadi Salah Satu Motif Batik Khas Blitar

Namun, dream pop tidak selalu memiliki satu suasana tertentu. Penggunaan instrumen, tempo, efek suara, dan gaya vokal dapat membuat setiap musisi menghadirkan warna dream pop yang berbeda. Genre ini juga memiliki hubungan yang cukup dekat dengan shoegaze

Keduanya sama-sama banyak menggunakan efek gitar dan lapisan suara yang tebal sehingga terkadang sulit untuk membedakannya.

Meski demikian, dream pop lebih banyak memberikan perhatian pada atmosfer dan melodi, sedangkan shoegaze dikenal dengan penggunaan distorsi, feedback, dan dinding suara gitar yang lebih kuat.

Dream Pop di Indonesia

Di Indonesia, perkembangan dream pop dapat ditemukan dalam skena musik independen. Salah satu nama yang cukup dikenal adalah Themilo, band asal Bandung yang telah aktif sejak 1996. Themilo kerap disebut sebagai salah satu pelopor shoegaze dan dream pop di Indonesia.

Musik mereka dikenal melalui lapisan gitar yang atmosferik, vokal yang terasa mengambang, dan melodi yang memberikan kesan luas.

Selain Themilo, terdapat Grrrl Gang, grup musik asal Yogyakarta yang memasukkan dream pop dalam karakter musiknya bersama indie pop dan rock alternatif.

Baca Juga: Eksplorasi Gending Jula-Juli: Wajah Ganda Kesenian Karawitan Khas Jawa Timur

Band yang dibentuk pada 2016 ini beranggotakan Angeeta Sentana, Edo Alventa, dan Akbar Rumandung.

Nama lainnya adalah Daisea, unit dream pop asal Jakarta yang terbentuk pada 2019. Daisea terdiri dari Made Candra pada vokal, Rinaldi Barita dan Lucky Rifaldi pada gitar, Diaz Pahlevi pada bass, serta Noor M.

Reza pada drum. Mereka memadukan pengaruh alternative, dream pop, dan punk dalam musiknya. Pada 2024, Daisea merilis album debut berjudul Cycles yang berisi delapan lagu. Sementara itu, dari Sidoarjo terdapat Drizzly, band yang juga dikenal dengan warna dream pop.

Baca Juga: Di Balik Gemulainya Jathil Obyok, Dulunya Ditarikan oleh Penari Laki-Laki

Band ini beranggotakan Manda pada vokal, Moza pada bass, Faye pada gitar, dan Cilo pada drum. Pada 2024, Drizzly membawakan ulang lagu “I Would Never” milik Mocca dengan pendekatan dream pop dan menghadirkan aransemen dengan gitar elektrik serta lapisan reverb yang lebih tebal.

Tidak hanya band yang sudah lebih dahulu dikenal, skena dream pop Indonesia juga terus diisi oleh musisi baru.

Seraphic Shades, misalnya, merupakan unit dream pop dari Cilegon yang terbentuk pada akhir 2025. Mereka memperkenalkan single debut berjudul “All I Do” pada 2026 dengan karakter musik yang membawa nuansa dream pop dan atmosfer emosional.

Ada pula Pineline, band asal Bogor yang berada di antara shoegaze dan dream pop. Pada Agustus 2026, Pineline merilis mini album Pressure.

Menurut penjelasan personelnya, karakter shoegaze dan dream pop justru berkembang selama proses pengerjaan materi, bukan menjadi arah yang sudah ditentukan sejak awal. (adhima aulia)

 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
band lokal adhima aulia dreampop musik