SOLOBALAPAN.COM – Pernah melihat seseorang mendadak viral gara-gara video bernyanyi di media sosial? Dari yang awalnya cuma iseng, tiba-tiba bisa mendapat jutaan penonton dan bahkan membuka jalan menuju dunia hiburan.
Situasi semacam itu menjadi awal cerita film Cidro Asmoro, drama komedi musikal yang membawa dunia musik Jawa ke layar lebar. Film yang dibintangi Ndarboy dan Happy Asmara ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Namun, ada satu hal yang membuat film ini menarik untuk diperhatikan. Campursari bukan sekadar musik yang terdengar di dalam film, tetapi menjadi bagian dari cerita.
Baca Juga: Melestarikan Jaranan Turonggo Yakso lewat Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026
Berawal dari Video yang Viral
Cerita Cidro Asmoro berpusat pada Prita Anjarsari, seorang penjaga kafe yang mendadak dikenal setelah video dirinya bernyanyi dan berjoget viral di media sosial.
Lagu yang dinyanyikan Prita adalah “Koyo Jogja Istimewa” milik Ndarboy Genk. Video tersebut bahkan disebut menembus jutaan views.
Keviralan itu kemudian membawa Prita ke lingkungan yang sebelumnya tidak ia kenal, yakni industri musik. Ia mendapat kesempatan untuk mengejar impiannya menjadi penyanyi, tetapi perjalanan tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan.
Baca Juga: Sanggul Grudo pada Pengantin Jawa: Simbol Keanggunan, Kemegahan, dan Filosofi Kehidupan
Prita harus berhadapan dengan persaingan, kepentingan, persahabatan, hingga perubahan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Kenapa Campursari Jadi Penting?
Di sinilah campursari punya posisi lebih dari sekadar pengiring adegan.
Daru Jaya atau Ndarboy, yang memerankan karakter Daru dalam film, mengatakan campursari merupakan bagian dari perjalanan hidup dan pertemanannya bersama Ndarboy Genk.
Karena itu, ketika cerita kelompok musik tersebut dibawa ke layar lebar, campursari ikut menjadi pengikat antara karakter, musik, dan perjalanan yang mereka jalani.
Baca Juga: Micin Bikin Bodoh? Mitos dari Amerika yang Masih Dipercaya sampai Sekarang
Cerita film juga memperlihatkan Ndarboy Genk yang sedang mempersiapkan penampilan anniversary. Di tengah persiapan tersebut, muncul perbedaan pilihan dan pendapat yang kemudian menguji kekompakan mereka.
Jadi, musik Jawa dalam Cidro Asmoro tidak ditempatkan hanya sebagai tempelan supaya film terlihat memiliki identitas lokal.
Campursari Bertemu Cerita Anak Muda
Menariknya, film ini juga membawa persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan sekarang: popularitas bisa datang dalam waktu sangat singkat karena media sosial.
Prita awalnya hanya seorang penjaga kafe. Setelah videonya viral, ia tiba-tiba mendapat kesempatan untuk masuk ke dunia musik.
Perubahan tersebut kemudian memengaruhi hubungan Prita dengan orang-orang di sekitarnya sekaligus dinamika proyek musik Daru dan Happy.
Karena itu, Cidro Asmoro tidak hanya berbicara tentang campursari. Ada pula cerita mengenai mimpi, persahabatan, ambisi, romansa, dan bagaimana seseorang menghadapi perubahan ketika namanya mulai dikenal banyak orang.
Bukan Sekadar Film tentang Musik Jawa
Pihak produksi juga menyebut salah satu tantangan Cidro Asmoro adalah menyatukan musik, komedi, drama, dan warna Jawa agar tidak terasa seperti unsur yang ditempelkan begitu saja.
Identitas Jawa tetap dipertahankan, tetapi dikemas dalam cerita yang diharapkan dapat dinikmati penonton yang lebih luas, termasuk generasi muda.
Film ini disutradarai Senoaji Julius dan diproduksi oleh VISION+, Adglow Pictures, Hompimpa Sinema, serta Kreator Visual Indonesia. Selain Ndarboy dan Happy Asmara, ada pula Erick Estrada, Jodilee Warwick, dan Andra Bagindas dalam jajaran pemain.
Dengan durasi 106 menit, Cidro Asmoro dijadwalkan hadir di bioskop mulai 8 Oktober 2026.
Jadi, kalau biasanya campursari hanya kita dengarkan lewat playlist atau panggung musik, kali ini genre tersebut dibawa menjadi bagian dari sebuah cerita layar lebar.
Dan mungkin itu yang membuat Cidro Asmoro menarik: bukan cuma soal bagaimana sebuah lagu bisa viral, tetapi apa yang terjadi setelah popularitas datang dan mengubah kehidupan orang-orang di balik musik tersebut.
Editor : Inayah Choirunisa