SOLOBALAPAN.COM – Pernah kepikiran kenapa drama penuh konflik dan air mata dalam bahasa Inggris disebut soap opera atau “opera sabun”? Padahal, kalau dipikir-pikir, ceritanya tidak ada hubungannya dengan sabun.
Istilah tersebut ternyata punya sejarah yang cukup unik. Jauh sebelum drama televisi hadir seperti sekarang, cerita bersambung semacam itu lebih dulu berkembang melalui radio di Amerika Serikat pada 1930-an.
Saat itu, radio menjadi salah satu hiburan utama di rumah. Program drama bersambung kemudian disiarkan pada siang hari dan banyak menyasar pendengar perempuan yang berada di rumah. Dari sinilah industri iklan melihat peluang yang menarik.
Berawal dari Drama di Radio
Salah satu program yang sering disebut sebagai cikal bakal soap opera adalah “Painted Dreams”, karya Irna Phillips yang pertama kali mengudara di WGN Chicago pada 1930.
Formatnya berupa drama bersambung yang menghadirkan kehidupan sehari-hari dan konflik antarkarakter. Ceritanya dibuat berkelanjutan sehingga pendengar punya alasan untuk kembali mendengarkan episode berikutnya.
Format tersebut kemudian berkembang dan semakin populer pada jam siang.
Bukan cuma karena pendengar menyukai ceritanya, tetapi juga karena program semacam ini ternyata menjadi media yang menarik bagi pengiklan. Produsen barang-barang rumah tangga melihat radio sebagai cara untuk menjangkau konsumen yang banyak menghabiskan waktu di rumah.
Baca Juga: Film "Memburu Pemangsa" Tayang, 4 Jurnalis Jadi Tokoh Utama
Kenapa Ada Kata “Soap”?
Nah, bagian ini yang membuat namanya unik.
Sejumlah drama radio siang hari saat itu mendapatkan sponsor dari perusahaan yang menjual sabun, deterjen, dan produk kebutuhan rumah tangga.
Salah satu perusahaan yang kemudian sangat identik dengan perkembangan genre tersebut adalah Procter & Gamble. Perusahaan itu mensponsori berbagai serial radio, termasuk Ma Perkins. Ada pula perusahaan seperti Colgate-Palmolive dan Lever Brothers yang menjadi sponsor program drama radio.
Karena begitu banyak drama siang hari didukung produsen sabun dan produk pembersih, masyarakat dan media kemudian mengaitkannya dengan kata soap.
Jadi, “soap” dalam soap opera bukan karena ceritanya membahas sabun, melainkan karena industri sabun menjadi salah satu sponsor penting program tersebut.
Sementara itu, kata “opera” merujuk pada bentuk drama yang dianggap melodramatis. Ceritanya bisa berisi konflik keluarga, percintaan, pengkhianatan, masalah rumah tangga, sampai persoalan yang terus berlanjut dari satu episode ke episode berikutnya.
Baca Juga: Episode SpongeBob Jualan Cokelat Ini Ternyata Punya Sindiran tentang Cara Orang Berjualan
Strategi Iklan yang Ternyata Berhasil
Hubungan antara drama dan produk juga bukan kebetulan.
Pada masa awal radio komersial, penyiar dan pengiklan memang sedang mencari cara untuk menjangkau pendengar pada siang hari. Program drama bersambung menjadi salah satu format yang berhasil menarik perhatian audiens.
Bahkan, data sejarah penyiaran menunjukkan pendapatan iklan radio siang hari meningkat tajam pada pertengahan 1930-an ketika soap opera mulai berkembang.
Dengan cerita yang membuat orang ingin terus mengikuti episode berikutnya, pendengar juga akan tetap berada di sekitar program yang menjadi tempat iklan produk sponsor disiarkan.
Tak heran kalau selama bertahun-tahun istilah soap opera semakin melekat dengan drama bersambung.
Dari Radio, Pindah ke Televisi
Ketika televisi mulai berkembang, format drama bersambung tersebut ikut berpindah dari radio ke layar kaca.
Beberapa serial bahkan memiliki perjalanan panjang dari radio ke televisi. “The Guiding Light”, misalnya, bermula sebagai serial radio pada 1930-an sebelum kemudian hadir di televisi.
Konsepnya pun tetap sama: cerita berkelanjutan, konflik antartokoh, dan episode yang membuat penonton penasaran dengan kelanjutannya.
Bedanya, kalau dulu penonton hanya mengandalkan suara dan imajinasi, televisi memberikan gambar, ekspresi pemain, lokasi, kostum, dan berbagai unsur visual lainnya.
Lalu, Kenapa di Indonesia Disebut Sinetron?
Indonesia punya istilah sendiri untuk tayangan drama televisi, yaitu sinetron.
Kata ini merupakan singkatan dari sinema elektronik. Istilah tersebut digunakan untuk karya drama atau film yang diproduksi secara elektronik dan ditayangkan melalui televisi.
Istilah sinetron kemudian menjadi sangat umum di Indonesia dan digunakan untuk menyebut berbagai tayangan drama televisi, terutama yang memiliki cerita bersambung.
Jadi, meskipun sinetron dan soap opera tidak secara harfiah berarti hal yang sama, keduanya sama-sama berkembang dari tradisi drama yang hadir melalui media elektronik.
Lucunya, sebuah istilah yang awalnya berkaitan dengan sabun dan iklan produk rumah tangga akhirnya menjadi sebutan untuk salah satu genre drama paling populer di dunia.
Jadi, kalau lain kali mendengar istilah soap opera, jangan bayangkan tokohnya sedang rebutan sabun.
Yang sedang “berbusa” justru dramanya.
Editor : Inayah Choirunisa