Dari After Hours hingga Dawn, Kenapa The Weeknd Selalu Identik dengan Dunia Malam?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 14:28 WIB
The Weeknd tampil dalam rangkaian After Hours Til Dawn Stadium Tour di Jakarta International Stadium pada 26–27 September 2026.(Pinterest)
The Weeknd tampil dalam rangkaian After Hours Til Dawn Stadium Tour di Jakarta International Stadium pada 26–27 September 2026.(Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - The Weeknd akhirnya tiba di Jakarta. Penyanyi asal Kanada itu dijadwalkan tampil di Jakarta International Stadium (JIS) pada 26 dan 27 September 2026 dalam rangkaian After Hours Til Dawn Stadium Tour. Jadwal tersebut juga tercantum di situs resmi The Weeknd.

Namun, ada satu hal menarik dari nama tur tersebut. After Hours Til Dawn bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar keren untuk sebuah konser.

Baca Juga: Bungkam 10 Pemain Singapura 2-0, Timnas Indonesia Tempel Ketat Malaysia di Klasemen Grup A

Nama itu seperti merangkum perjalanan musik The Weeknd dalam beberapa tahun terakhir, dari suasana malam yang gelap hingga munculnya fajar.

Kalau melihat tiga album yang menjadi bagian utama perjalanan ini, benang merahnya semakin terlihat. Ada After Hours yang dirilis pada 2020, Dawn FM pada 2022, kemudian Hurry Up Tomorrow pada 2025.

Album terakhir tersebut secara resmi disebut sebagai bagian penutup dari trilogi yang dimulai dari After Hours dan dilanjutkan dengan Dawn FM.

Nama After Hours sendiri langsung membawa kita ke suasana yang biasanya muncul setelah malam semakin larut.

Album tersebut banyak bermain dengan atmosfer kota yang gelap, kesendirian, hubungan yang rumit, penyesalan, serta kehidupan seorang tokoh yang seolah terus berjalan ketika orang lain sudah pulang dan tidur.

Baca Juga: Bukan Sekadar Angka, Earth-10005 di Avengers: Endgame Encore Punya Jejak X-Men dan Deadpool

Hal itu juga terlihat dari visual era After Hours. The Weeknd tampil dengan wajah penuh luka dan jas merah yang kemudian menjadi salah satu penampilan paling ikonik dalam periode tersebut.

Sosok tersebut bukan sekadar kostum panggung, tetapi bagian dari karakter yang dibangun untuk mengiringi cerita albumnya.

Kemudian datang Dawn FM. Kalau After Hours terasa seperti berada di tengah malam, album ini membawa pendengarnya menuju sesuatu yang berbeda: sebuah perjalanan menuju fajar.

Konsep Dawn FM bahkan dibuat seperti sedang mendengarkan sebuah stasiun radio. Ada suara penyiar yang menghubungkan satu lagu dengan lagu lainnya, sehingga album terasa seperti sebuah perjalanan yang memiliki titik awal dan tujuan.

Baca Juga: Kedengarannya Seperti Lagu Anak, Ini Makna di Balik Lagu Jepang dalam Masha and the Bear

Musiknya masih membawa tema gelap dan reflektif, tetapi atmosfernya mulai bergerak menuju sesuatu yang lebih terang.

Di sinilah nama After Hours Til Dawn terasa semakin masuk akal. “After hours” dapat dibayangkan sebagai waktu setelah malam larut, sementara “dawn” berarti fajar. Jadi, nama tur tersebut seperti menggambarkan perjalanan dari satu ujung malam menuju pagi.

Perjalanan itu kemudian dilanjutkan melalui Hurry Up Tomorrow, album keenam The Weeknd yang menjadi bagian terakhir dari trilogi tersebut. Situs resmi The Weeknd juga mencantumkan album ini dengan rangkaian lagu seperti “Without a Warning”, “Cry For Me”, “The Abyss”, “Open Hearts”, hingga “Runaway”.

Artinya, ketika penonton datang ke konser After Hours Til Dawn, mereka sebenarnya tidak hanya melihat pertunjukan dari satu album.

Konsep turnya membawa materi dari beberapa fase sekaligus. Lagu-lagu dari After Hours, Dawn FM, dan Hurry Up Tomorrow berada dalam satu perjalanan besar yang sudah dibangun The Weeknd selama beberapa tahun.

Itulah yang membuat istilah “malam” begitu kuat dalam identitas musik The Weeknd. Malam dalam karya-karyanya bukan hanya soal waktu. Ia sering digunakan sebagai ruang untuk menggambarkan kesepian, hubungan yang kacau, godaan, penyesalan, hingga pergulatan dengan diri sendiri.

Sementara itu, “dawn” atau fajar memberikan kesan adanya perpindahan. Setelah melewati malam, akhirnya ada titik ketika semuanya mulai terang.

Menariknya, Jakarta menjadi salah satu kota dalam fase terakhir tur tersebut. Setelah rangkaian pertunjukan di Asia dimulai dari Jepang, The Weeknd dijadwalkan tampil dua malam di JIS sebelum melanjutkan perjalanan ke Singapura, Korea Selatan, Thailand, Hong Kong, dan Malaysia.

Jadi, kalau selama ini After Hours Til Dawn terdengar seperti sekadar nama tur konser, sebenarnya ada cerita yang lebih panjang di baliknya.

Dari After Hours, pendengar diajak masuk ke dunia malam. Lewat Dawn FM, perjalanan mulai bergerak menuju fajar. Kemudian Hurry Up Tomorrow menjadi bagian penutup trilogi yang membawa perjalanan tersebut ke bab berikutnya.

Dan malam ini di Jakarta, perjalanan itu kembali dibawa ke atas panggung.(Lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : The Weeknd
the weeknd After hours til dawn konser