SOLOBALAPAN.COM – “Mereka kena batu!” Kalau kamu pernah menonton SpongeBob SquarePants, mungkin masih ingat adegan ketika SpongeBob dan Squidward tersesat saat mengantarkan pizza. Di tengah perjalanan, keduanya justru menemukan sesuatu yang cukup aneh: sebuah batu yang seolah-olah bisa berjalan sendiri.
Adegan tersebut muncul dalam episode “Pizza Delivery”, ketika SpongeBob dan Squidward mendapat tugas mengantarkan pizza dari Krusty Krab. Perjalanan mereka berubah kacau setelah kendaraan yang digunakan mengalami masalah dan keduanya tersesat.
Dalam kondisi itu, SpongeBob menemukan sebuah batu dan menggunakannya sebagai kendaraan. Tentu saja, batu berjalan seperti itu terdengar seperti sesuatu yang hanya mungkin terjadi di Bikini Bottom.
Tapi tunggu dulu. Fenomena batu yang dapat berpindah sendiri ternyata memang ada di dunia nyata.
Baca Juga: Masih Ingat Chibi Maruko-chan? Kartun Ini Masih Eksis dan Kini Masuk Koleksi Pop Mart
Fenomena Batu Berjalan di California
Fenomena tersebut dikenal sebagai sailing stones atau sliding rocks. Salah satu lokasi paling terkenal untuk melihatnya berada di Racetrack Playa, sebuah kawasan datar di Taman Nasional Death Valley, California, Amerika Serikat.
Di tempat ini, sejumlah batu dapat meninggalkan jejak panjang di permukaan tanah seolah-olah baru saja bergerak sendiri.
Hal tersebut sempat membuat fenomena sailing stones terlihat misterius. Bagaimana mungkin batu dengan bobot cukup berat bisa berpindah tanpa ada manusia atau hewan yang mendorongnya?
Jawabannya ternyata tidak berkaitan dengan hal mistis.
Baca Juga: Masih Ingat Hachi? Kartun Lebah yang Ternyata Punya Cerita Sedih tentang Mencari Ibu
Batu Bisa Bergerak karena Kombinasi Es dan Angin
Fenomena tersebut terjadi dalam kondisi lingkungan yang cukup spesifik.
Ketika hujan turun, air dapat menggenang di permukaan Racetrack Playa. Pada malam hari dengan suhu yang cukup rendah, air tersebut dapat membentuk lapisan es tipis.
Saat matahari terbit dan suhu mulai meningkat, es perlahan pecah dan mencair. Dalam kondisi tertentu, pecahan atau lembaran es yang masih berada di sekitar batu dapat terdorong oleh angin.
Dorongan tersebut kemudian membuat batu ikut bergerak perlahan di atas permukaan lumpur yang basah.
Baca Juga: Ingat Si Komo? Ternyata Boneka Ini Sudah Ada Sejak 1975 Sebelum Tampil di TPI
Jadi, bukan batunya yang tiba-tiba memiliki “kaki” seperti dalam kartun. Ada rangkaian kondisi alam yang memungkinkan batu berpindah dan meninggalkan jejak di belakangnya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam PLOS ONE juga berhasil mengamati secara langsung pergerakan batu di Racetrack Playa. Para peneliti menemukan bahwa batu dapat bergerak ketika lapisan es tipis terdorong angin, terutama setelah kondisi air dan suhu memungkinkan terbentuknya es.
Kenapa Kelihatannya Seperti Batu Berjalan?
Salah satu hal yang membuat fenomena ini menarik adalah jejak yang ditinggalkan batu.
Permukaan Racetrack Playa relatif datar dan luas. Ketika sebuah batu bergerak, pergeserannya dapat meninggalkan garis panjang di permukaan lumpur.
Jika seseorang datang setelah batu berhenti, yang terlihat hanyalah batu di satu tempat dan jejak yang memanjang di belakangnya.
Tanpa melihat prosesnya secara langsung, wajar kalau fenomena tersebut terlihat seperti batu yang tiba-tiba berpindah sendiri.
Inilah yang membuat sailing stones selama bertahun-tahun menjadi salah satu fenomena alam yang menarik perhatian.
SpongeBob Ternyata Punya “Versi Kartun”-nya
Kalau dipikir-pikir, adegan SpongeBob dan Squidward memang tidak terlalu jauh dari konsep tersebut.
Bedanya, batu dalam “Pizza Delivery” tentu saja merupakan bagian dari dunia fiksi SpongeBob SquarePants. SpongeBob bahkan memperlakukannya seperti kendaraan ketika mereka sedang tersesat.
Sementara di dunia nyata, batu di Death Valley tidak berjalan seperti makhluk hidup. Pergerakannya terjadi dalam kondisi alam tertentu yang melibatkan air, es, dan angin.
Jadi, kalau suatu hari kamu melihat garis panjang di belakang sebuah batu di tempat yang tepat, jangan buru-buru mengira batunya sedang jalan-jalan.
Bisa jadi, kamu baru saja melihat jejak dari salah satu fenomena alam yang selama ini terasa seperti adegan kartun.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : National Park Service, PLOS ONE