Pernah Memutar Satu Lagu Berulang-ulang? Ternyata Otak Menyukai Pola yang Sudah Dikenalnya

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 10:17 WIB
Satu lagu diputar berkali-kali sampai hafal lirik dan melodinya, tetapi tetap saja kembali masuk playlist. Fenomena ini ternyata berkaitan dengan efek familiaritas dan cara otak merespons pola musik yang sudah dikenalnya. (Pinterest)
Satu lagu diputar berkali-kali sampai hafal lirik dan melodinya, tetapi tetap saja kembali masuk playlist. Fenomena ini ternyata berkaitan dengan efek familiaritas dan cara otak merespons pola musik yang sudah dikenalnya. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah menemukan satu lagu yang rasanya enak banget didengar sampai akhirnya diputar berkali-kali dalam sehari? Bahkan setelah hafal bagian intro, lirik, sampai nada reff-nya, tangan masih saja memilih lagu yang sama ketika membuka aplikasi musik.

Menariknya, kebiasaan tersebut tidak selalu berhenti ketika rasa bosan muncul. Beberapa waktu kemudian, lagu yang sama bisa kembali terdengar menyenangkan dan akhirnya masuk lagi ke daftar putar.

Baca Juga: Rekam Jejak Pemeran 'A Day In My Life' Bogor, Dari Akun Zalfier Hingga Temuan Puluhan File Asusila

Fenomena sederhana ini ternyata berkaitan dengan cara otak mengenali sesuatu yang sudah familiar.

Dalam psikologi, ada istilah “mere exposure effect”, yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih menyukai sesuatu setelah berulang kali terpapar oleh hal tersebut. Konsep ini tidak hanya berlaku pada benda atau wajah, tetapi juga ditemukan dalam penelitian mengenai musik.

Semakin Familiar, Semakin Mudah Dikenali

Saat pertama kali mendengar lagu baru, otak masih berusaha mengenali berbagai unsur di dalamnya. Mulai dari melodi, ritme, suara penyanyi, sampai pola yang muncul dari satu bagian lagu ke bagian lainnya.

Baca Juga: Pernah Nonton Binekon? Ternyata Jabo, Sumi hingga Papu Dibuat Mewakili Budaya Indonesia

Setelah lagu diputar berulang, pola tersebut menjadi semakin familiar. Penelitian tentang musik menunjukkan bahwa pengulangan dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengenali melodi sekaligus meningkatkan ketertarikan terhadap musik yang sebelumnya belum familiar.

Hal ini juga membuat lagu yang sudah sering didengar terasa lebih mudah diikuti. Pendengar bisa mengetahui kapan bagian reff akan muncul, bagaimana melodi berikutnya berjalan, bahkan dapat memperkirakan bagian tertentu sebelum benar-benar terdengar.

Dengan kata lain, lagu tersebut tidak lagi sepenuhnya menjadi sesuatu yang baru bagi otak.

Baca Juga: Bukan Sekadar Datang dan Mengundang, Ijeman Ternyata Punya Aturan dalam Bertutur

Otak Mulai Bisa “Menebak” Bagian Berikutnya

Salah satu hal menarik dari musik adalah adanya pola. Lagu biasanya memiliki struktur yang berulang, baik dari melodi, ritme, progresi nada, maupun lirik.

Ketika seseorang sudah familiar dengan sebuah lagu, otak memiliki lebih banyak informasi untuk mengenali pola tersebut. Kajian mengenai musik familiar menemukan bahwa pendengar dapat mengantisipasi perkembangan melodi, harmoni, ritme, timbre, hingga bagian lirik tertentu.

Itulah sebabnya terkadang kita bisa ikut menyanyikan satu baris lagu bahkan sebelum penyanyi sampai pada bagian tersebut.

Bukan karena lagunya berubah, tetapi karena otak pendengar sudah memiliki gambaran tentang apa yang kemungkinan akan muncul berikutnya.

Pengulangan Bisa Membuat Lagu Makin Disukai

Penelitian lain yang mengamati efek pengulangan terhadap musik menemukan bahwa semakin sering peserta mendengarkan melodi tertentu, semakin tinggi pula penilaian mereka terhadap musik tersebut. Dalam salah satu eksperimen, peserta mendengarkan 40 potongan musik sebanyak 28 kali selama sekitar empat minggu. Tingkat kesukaan terhadap musik meningkat seiring pengulangan.

Penelitian mengenai aktivitas otak juga menemukan hubungan antara paparan sebelumnya dengan rasa suka terhadap melodi. Melodi yang lebih sering didengar dalam eksperimen cenderung lebih disukai dan lebih mudah dikenali.

Artinya, rasa suka terhadap sebuah lagu tidak selalu muncul sejak pendengaran pertama. Ada kalanya sebuah lagu justru terasa semakin enak setelah beberapa kali diputar.

Tapi Tetap Ada Titik Bosannya

Meski begitu, bukan berarti semakin sering sebuah lagu didengar maka seseorang akan selamanya semakin menyukainya.

Beberapa penelitian menemukan bahwa efek pengulangan dapat berbeda tergantung cara seseorang mendengarkan musik, jenis musik, dan seberapa banyak paparan yang diterima. Pada kondisi tertentu, terlalu banyak pengulangan justru dapat membuat ketertarikan menurun setelah sebelumnya meningkat.

Makanya pengalaman “aku suka banget lagu ini” bisa berubah menjadi “aku nggak mau dengar lagu ini lagi” setelah diputar puluhan kali dalam waktu singkat.

Namun beberapa hari atau minggu kemudian, lagu tersebut bisa kembali terasa menyenangkan.

Jadi, Bukan Cuma Soal Lagu yang Enak

Kebiasaan memutar lagu yang sama berkali-kali ternyata tidak selalu berarti seseorang tidak punya lagu lain untuk didengarkan.

Ada proses familiaritas yang ikut berperan. Semakin sering sebuah lagu didengar, semakin kuat pula jejak pengenalan terhadap lagu tersebut. Otak menjadi semakin akrab dengan pola yang sebelumnya terdengar asing.

Itulah sebabnya sebuah lagu bisa melewati beberapa tahap sekaligus: awalnya terdengar biasa saja, kemudian mulai terasa enak setelah beberapa kali didengar, diputar terus sampai bosan, lalu beberapa waktu kemudian kembali dicari.

Jadi kalau akhir-akhir ini ada satu lagu yang terus-terusan masuk playlist, mungkin bukan karena kita kehabisan lagu baru. Bisa jadi otak memang sedang menikmati sesuatu yang sudah dikenalnya.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
repeat song lagu