SOLOBALAPAN.COM - Sebelum BTS, EXO, atau Stray Kids membawa budaya boy group ke berbagai penjuru dunia, industri musik Barat sudah lebih dulu mengalami masa ketika boyband menjadi fenomena global. Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, nama seperti Backstreet Boys, NSYNC, Westlife, dan 98 Degrees hampir selalu muncul di televisi, radio, majalah, hingga tangga lagu.
Era tersebut bahkan sering dianggap sebagai salah satu masa kejayaan boyband. Di Amerika Utara, popularitas grup pop seperti Backstreet Boys dan *NSYNC melonjak pada paruh kedua 1990-an dan terus berlanjut hingga awal 2000-an.
Baca Juga: Awalnya Bikin Geregetan, Hoho di Ibra Berkisah Malah Jadi Karakter Paling Relate
Salah satu nama terbesar tentu saja Backstreet Boys. Grup yang beranggotakan Nick Carter, Howie Dorough, Brian Littrell, AJ McLean, dan Kevin Richardson itu mulai dikenal luas sejak 1990-an.
Musik mereka mengandalkan harmoni vokal, lagu pop yang mudah diingat, serta penampilan yang dirancang untuk menarik perhatian penggemar muda.
Kesuksesan mereka kemudian terlihat dari penjualan album. Menurut data Recording Industry Association of America (RIAA), album Backstreet Boys mendapat sertifikasi 14× platinum di Amerika Serikat, sementara Millennium mendapatkan 13× platinum.
Baca Juga: Lahir di Solo, Begini Perjuangan Mgr. Soegijapranata Membela Kemerdekaan Indonesia Tanpa Senjata
Di sisi lain, ada *NSYNC yang beranggotakan Justin Timberlake, JC Chasez, Chris Kirkpatrick, Joey Fatone, dan Lance Bass. Persaingan antara *NSYNC dan Backstreet Boys menjadi salah satu cerita paling ikonik dari era tersebut.
Persaingan itu bukan hanya terjadi di tangga lagu. Penggemar juga ikut menentukan grup mana yang lebih populer, terutama melalui program musik seperti MTV Total Request Live (TRL).
Acara tersebut menampilkan video musik berdasarkan permintaan dan suara penonton sehingga penggemar memiliki kesempatan untuk menunjukkan dukungan kepada grup favorit mereka.
Bagi penggemar masa itu, posisi sebuah video di TRL bisa menjadi sesuatu yang sangat penting. Anggota *NSYNC dan Backstreet Boys bahkan pernah menceritakan bagaimana mereka memperhatikan posisi video masing-masing dalam daftar tersebut.
Persaingan antarfandom pun semakin terasa karena penggemar dapat melihat secara langsung grup mana yang berada di posisi teratas setiap hari.
Fenomena boyband juga tidak berhenti di Amerika Serikat. Di Inggris dan Eropa, grup seperti Westlife dan Five ikut meramaikan pasar musik. Sementara itu, nama seperti Boyzone sudah lebih dulu membangun popularitas sejak awal hingga pertengahan 1990-an.
Yang membuat era ini menarik adalah bagaimana boyband tidak hanya menjual lagu. Mereka juga menjual identitas dan karakter setiap anggota. Ada anggota yang dikenal sebagai vokalis utama, sosok yang lebih pendiam, anggota yang dianggap lucu, hingga anggota yang memiliki penampilan paling mencolok.
Konsep tersebut kemudian diperkuat melalui video musik, majalah, poster, merchandise, dan penampilan televisi.
Fashion mereka pun menjadi bagian dari identitas grup. Pada era 1990-an dan awal 2000-an, pakaian yang seragam atau sengaja dibuat senada menjadi salah satu ciri visual boyband.
Namun, ada satu perbedaan besar antara era tersebut dengan popularitas boy group saat ini: internet belum seperti sekarang.
Spotify bahkan belum ada ketika Backstreet Boys dan *NSYNC berada di puncak popularitas. YouTube juga belum menjadi tempat utama untuk menonton video musik. Karena itu, televisi, radio, CD, majalah, dan program seperti TRL memiliki peran yang sangat besar dalam mempertemukan artis dengan penggemarnya.
Penggemar yang ingin mengetahui kabar terbaru idolanya harus menunggu majalah terbit atau menyaksikan acara televisi. Jika ingin mendengarkan album, mereka harus membeli CD. Bahkan untuk mengetahui apakah grup favorit mereka berada di posisi pertama, mereka harus menunggu acara musik atau membaca tangga lagu.
Karena itulah, popularitas boyband pada masa tersebut terasa sangat berbeda. Mereka tetap bisa menjadi fenomena global meskipun belum memiliki media sosial yang memungkinkan penggemar berinteraksi secara langsung dengan artis.
Baca Juga: Krisdayanti Tak Kuasa Tahan Air Mata Lihat Sang Putra Jadi Paskibra
Menariknya, beberapa elemen dari era boyband tersebut masih terasa dalam industri K-Pop sekarang. Konsep beberapa anggota dengan karakter berbeda, koreografi kelompok, penampilan yang terkoordinasi, fandom, merchandise, hingga hubungan erat antara grup dan penggemarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru.
Bahkan AJ McLean dari Backstreet Boys pernah membahas BTS ketika berbicara mengenai perubahan cara musik menembus batas negara.
Menurutnya, jika dulu Backstreet Boys harus berusaha membangun penggemar di berbagai negara tanpa media sosial, BTS justru menunjukkan bagaimana sebuah grup dari Korea Selatan bisa melakukan hal serupa di Amerika.
Menariknya lagi, nostalgia terhadap era tersebut masih kuat sampai sekarang. Lagu-lagu lama bahkan dapat kembali populer ketika muncul dalam budaya pop baru. Contohnya, “Bye Bye Bye” milik *NSYNC kembali mendapatkan perhatian setelah digunakan dalam Deadpool & Wolverine pada 2024. Lagu tersebut kembali masuk Billboard Hot 100 dan jumlah pendengar NSYNC di Spotify ikut meningkat.
Jadi, jauh sebelum istilah K-Pop global menjadi sesuatu yang biasa kita dengar, boyband Barat sudah lebih dulu menunjukkan bahwa sebuah grup berisi beberapa laki-laki dapat berkembang menjadi fenomena budaya.
Mereka tidak hanya menjual musik, tetapi juga karakter, penampilan, fandom, dan pengalaman menjadi penggemar. Dan meskipun teknologi serta cara menikmati musik telah berubah drastis, formula tersebut masih dapat ditemukan dalam industri boy group hingga hari ini.
Bedanya, jika dulu penggemar menunggu TRL untuk melihat grup favoritnya berada di posisi pertama, sekarang mereka bisa langsung melakukan streaming, voting, membuat konten, hingga mengikuti idolanya lewat media sosial.
Boyband mungkin berganti generasi, tetapi budaya fandom yang mereka bantu bentuk ternyata masih bertahan. (Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber