SOLOBALAPAN.COM - Pernah membayangkan seperti apa isi kepala manusia jika setiap perasaan memiliki wujud dan bisa berbicara? Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi salah satu daya tarik utama Inside Out, film animasi Disney dan Pixar yang membawa penonton masuk ke dalam pikiran seorang anak bernama Riley.
Alih-alih hanya menceritakan kehidupan Riley dari luar, film ini memperlihatkan apa yang terjadi di dalam kepalanya. Di sana terdapat lima emosi utama, yaitu Joy, Sadness, Anger, Fear, dan Disgust.
Mereka bekerja di sebuah pusat kendali yang bertugas memengaruhi bagaimana Riley merespons berbagai kejadian dalam hidupnya.
Menariknya, kelima karakter tersebut tidak dibuat hanya untuk menjadi karakter lucu. Masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan Riley.
Joy berusaha membuat Riley tetap bahagia, Fear menjaga Riley dari bahaya, Disgust membantunya menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan, sementara Anger muncul ketika Riley merasa diperlakukan tidak adil.
Baca Juga: Dari Hustle Culture ke Soft Life, Anak Muda Mulai Memilih Hidup Yang Lebih Tenang
Lalu ada Sadness.
Sejak awal, Sadness justru terlihat seperti emosi yang paling ingin dihindari Joy. Joy berusaha memastikan agar Riley selalu bahagia dan bahkan menganggap Sadness dapat mengganggu tugasnya.
Namun, seiring cerita berjalan, film justru menunjukkan bahwa kesedihan bukanlah sesuatu yang harus selalu disingkirkan.
Dalam wawancara mengenai film tersebut, sutradara Pete Docter dan produser Jonas Rivera menjelaskan bahwa mereka melihat kesedihan sebagai sesuatu yang memiliki fungsi sosial.
Ketika seseorang menunjukkan kesedihan, orang lain dapat menangkap sinyal tersebut dan memberikan bantuan atau kenyamanan. Karena itulah Sadness akhirnya menjadi karakter penting dalam cerita.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan menarik dari Inside Out. Manusia tidak hanya membutuhkan emosi yang menyenangkan. Sedih, takut, marah, atau jijik juga mempunyai fungsi masing-masing.
Konsep ini kemudian diperluas melalui cara film menggambarkan memori. Dalam dunia Riley, kenangan divisualisasikan sebagai bola-bola berwarna yang dapat dipengaruhi oleh emosi.
Baca Juga: Bukan Setting Buatan, “Operasi Pesta Copet” Syuting di Tengah 30.000 Penonton Pestapora
Film kemudian menunjukkan bahwa sebuah pengalaman tidak selalu memiliki satu perasaan saja. Sebuah kenangan yang awalnya terasa bahagia dapat berubah ketika Riley mengalami sesuatu yang menyedihkan.
Penelitian dan tulisan akademis mengenai Inside Out juga melihat film tersebut sebagai gambaran sinematik mengenai hubungan antara emosi, memori, dan cara seseorang memahami dirinya sendiri.
Dengan kata lain, dunia di dalam kepala Riley bukan hanya dekorasi untuk membuat film terlihat menarik, tetapi menjadi cara Pixar menerjemahkan proses mental yang sulit divisualisasikan.
Menariknya, konsep emosi dalam Inside Out tidak berhenti pada lima karakter. Hal tersebut justru terlihat jelas ketika Riley mulai beranjak remaja dalam Inside Out 2.
Ketika Riley berusia 13 tahun, muncul sejumlah emosi baru seperti Anxiety, Envy, Ennui, dan Embarrassment. Pixar menjelaskan bahwa sejak awal penelitian untuk film pertama, tim kreatif sebenarnya mengetahui bahwa manusia memiliki lebih banyak emosi daripada lima karakter yang akhirnya dipilih. Namun, cerita pertama dianggap sudah cukup kompleks sehingga mereka menyederhanakannya.
Kehadiran Anxiety menjadi salah satu perubahan terbesar. Jika Joy ingin menjaga Riley tetap bahagia, Anxiety lebih sibuk memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan.
Ia membuat berbagai rencana, memikirkan kemungkinan buruk, dan berusaha memastikan Riley dapat diterima oleh lingkungan barunya.
Di sinilah Inside Out 2 terasa seperti perkembangan alami dari film pertamanya. Ketika masih kecil, Riley mungkin lebih banyak menghadapi emosi yang sederhana.
Baca Juga: Feminine Intuition, Benarkah Perempuan Punya Insting Lebih Kuat?
Namun, ketika memasuki masa remaja, perasaan menjadi lebih rumit. Seseorang bisa bahagia sekaligus cemas, bangga tetapi juga iri, atau ingin terlihat percaya diri sambil sebenarnya merasa takut.
Pixar bahkan menggambarkan perubahan tersebut melalui “Sense of Self” Riley, yaitu bagian yang berkaitan dengan bagaimana ia melihat dan memahami dirinya sendiri.
Karena itu, kekuatan Inside Out sebenarnya bukan hanya terletak pada karakter-karakter berwarna yang tinggal di dalam kepala Riley. Film ini membuat sesuatu yang abstrak menjadi mudah dipahami: perasaan manusia tidak selalu bisa dibagi menjadi baik dan buruk.
Joy tidak bisa selalu memimpin. Sadness tidak selalu menjadi masalah. Fear terkadang menyelamatkan kita, Anger dapat menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan Anxiety pun tidak selalu hadir untuk menghancurkan keadaan.
Pada akhirnya, Inside Out mengajak penonton melihat emosi dengan cara yang berbeda. Kita tidak harus selalu merasa bahagia untuk bisa baik-baik saja.
Terkadang, merasa sedih, takut, marah, atau cemas juga merupakan bagian dari proses memahami diri sendiri.
Mungkin itulah alasan cerita Riley terasa dekat dengan banyak orang. Karena meskipun tidak benar-benar ada karakter kecil yang berlari-lari di dalam kepala kita, kekacauan emosi yang dialami Riley sebenarnya adalah sesuatu yang juga kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber