SOLOBALAPAN.COM - Popularitas KPop Demon Hunters ternyata membawa persoalan baru. Film animasi Netflix tersebut kini menghadapi gugatan dari band metal asal Amerika Serikat bernama Demon Hunter.
Band tersebut menggugat Netflix dan promotor konser AEG Presents karena menganggap penggunaan nama KPop Demon Hunters dapat menimbulkan kebingungan dengan identitas mereka.
Gugatan tersebut diajukan di pengadilan federal California pada 18 Agustus 2026. Demon Hunter, yang telah aktif sejak 2000, menilai penggunaan nama tersebut untuk film, musik, merchandise, hingga pertunjukan langsung berpotensi membuat publik mengira adanya hubungan antara mereka dengan proyek Netflix.
Band tersebut juga menyebut telah mengalami beberapa contoh kebingungan akibat kemunculan KPop Demon Hunters.
Salah satu contoh yang disebut dalam gugatan adalah adanya orang yang salah membeli tiket pertunjukan karena mengira acara tersebut berkaitan dengan KPop Demon Hunters.
Baca Juga: Neurofitness, Cara Baru Melatih Otak Agar Tetap Aktif dan Produktif
Band tersebut juga mengatakan mereka menerima pertanyaan media yang sebenarnya ditujukan kepada pihak film. Bagi Demon Hunter, situasi tersebut menunjukkan bahwa kemiripan nama bukan sekadar persoalan kecil.
Demon Hunter sendiri bukan grup baru. Band tersebut telah menggunakan nama tersebut selama lebih dari dua dekade dan memiliki aktivitas di industri musik, termasuk merilis album, melakukan tur, serta menjual merchandise.
Mereka juga memiliki pendaftaran merek untuk nama Demon Hunter yang mencakup kategori musik dan merchandise sejak 2022.
Sementara itu, KPop Demon Hunters memiliki skala yang jauh lebih besar setelah dirilis Netflix pada 2025. Film animasi tersebut bercerita tentang grup K-Pop fiktif HUNTR/X yang menjalani kehidupan sebagai idol sekaligus pemburu iblis. Kesuksesannya kemudian berkembang menjadi musik, merchandise, hingga rencana tur konser.
Baca Juga: Mathilde Favier, Sosok Penting di Balik Hubungan Dior dengan Para Selebritas, Meninggal Dunia
Besarnya kesuksesan film inilah yang membuat persoalan nama tersebut semakin menarik. KPop Demon Hunters telah menjadi film paling banyak ditonton dalam sejarah Netflix dan bahkan mendapatkan penghargaan Oscar untuk Film Animasi Terbaik serta Lagu Orisinal Terbaik melalui “Golden”. Popularitas tersebut membuat nama KPop Demon Hunters semakin dikenal oleh publik global.
Demon Hunter kemudian meminta pengadilan menghentikan penggunaan nama KPop Demon Hunters untuk musik, merchandise, dan pertunjukan langsung. Mereka juga meminta ganti rugi, meskipun jumlahnya tidak disebutkan dalam laporan Reuters.
Kasus ini menunjukkan bahwa di industri hiburan, nama bukan sekadar identitas. Nama sebuah film, grup musik, karakter, atau produk dapat menjadi bagian dari merek yang memiliki nilai ekonomi.
Baca Juga: Madrid Atocha, Stasiun dengan Hutan Tropis di Dalamnya
Ketika dua pihak memiliki nama yang dianggap terlalu mirip, persoalannya bisa berkembang menjadi sengketa hukum, terutama jika keduanya bergerak dalam bidang yang beririsan seperti musik dan merchandise.
Untuk saat ini, gugatan tersebut masih dalam proses dan belum menentukan bahwa salah satu pihak terbukti melakukan pelanggaran. Netflix juga belum memberikan tanggapan resmi terhadap gugatan tersebut.
Kesuksesan KPop Demon Hunters memang membuat nama tersebut semakin besar. Namun, kasus dengan Demon Hunter memperlihatkan sisi lain dari popularitas sebuah karya: semakin besar sebuah franchise, semakin penting pula persoalan mengenai merek, nama, dan hak penggunaannya.(Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber