SOLOBALAPAN.COM – Band rock asal Surabaya The People Of The Sun (POTS) kembali lewat karya terbaru mereka berjudul Sebak, yang dirilis 12 Agustus 2026.
Lagu tersebut lahir dari kesedihan terhadap tragedi kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, April 2026 lalu.
Bagi POTS, peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam dan memunculkan berbagai emosi, mulai dari kesedihan hingga kekecewaan.
“Sebak” hadir menjadi perantara untuk menerjemahkan perasaan ke dalam sebuah karya musik.
Judul “Sebak” merujuk pada kondisi sesuatu yang telah terisi penuh, tergenang, hingga mencapai kondisi seperti banjir.
Baca Juga: Reaksi Spontan Ria Ricis Soal Isu Kehamilan Oki Setiana Dewi: Hah Sama Siapa? Bikin Netizen Heboh
Dalam konteks lagu, penggunaan istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan perasaan sedih yang sulit dibendung ketika seseorang dihadapkan dengan kehilangan.
“Sebak” bukan sedekar respons POTS terhadap tragedi tersebut, tetapi juga merepresentasikan kekecewaan terhadap sejumlah respons atas peristiwa itu yang dinilai kurang menunjukkan empati.
Gagasan tersebut kemudian dituangkan ke dalam tema dan lirik yang menjadi dasar pembentukan lagu.
Secara lirik, “Sebak” bergerak diantara perasaan sesak, penyangkalan, hingga kemarahan.
Lagu ini muncul ketika para personel mengetahui tragedi tersebut, sekaligus menjadi ruang untuk menerjemahkan berbagai emosi yang sulit disampaikan secara langsung.
Dari sisi musikal, POTS membangun “Sebak” melalui aransemen yang berkembang secara perlahan.
Lagu diawali dengan atmosfer muram sebelum karakter rock mereka semakin terasa kuat.
Instrumen gesek turut disisipkan di antara permainan musik band, sementara vokal emosional Raditya Mahendra mempertebal suasana sendu yang dibangun sepanjang lagu.
Proses penciptaan “Sebak” melewati pendekatan yang berbeda dari kebiasaan POTS.
Jika biasanya penulisan lagu mereka berangkat dari notasi atau lirik, kali ini proses justru dimulai dari pola drum.
Baca Juga: Jason Ranti Dan Mice Misrad Kolab, Rilis Buku "Mana Dokter, Mana Pasien?"
Pola tersebut kemudian dikembangkan bersama oleh para personel hingga membentuk komposisi yang utuh.
Dalam waktu sekitar satu bulan, potongan awal tersebut berkembang menjadi lagu melalui proses kolaboratif.
Para personel saling bertukar file untuk mengembangkan bagian-bagian lagu hingga menemukan bentuk akhir yang sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.
Melalui “Sebak”, The People Of The Sun berharap lagu tersebut dapat menjadi teman bagi siapa pun yang sedang menghadapi masa sulit.
Bagi mereka, setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengelola emosi, terutama ketika berhadapan dengan kehilangan.
Musik kemudian menjadi salah satu ruang untuk menjalani sekaligus menyalurkan berbagai perasaan tersebut.
“Sebak” menjadi dokumentasi musikal POTS atas kesedihan, kekalutan dan kemarahan yang muncul dari sebuah peristiwa tragis, sekaligus karya yang diharapkan dapat menemani pendengarnya melewati masa-masa sulit. (ramadhan pujo kusumo)
Editor : Ferry Ardi Susanto