Flashback: Ketika K-Pop Generasi Pertama Baru Mulai Membentuk Era Idol

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:59 WIB
Sebelum BTS dan BLACKPINK membawa K-Pop ke panggung dunia, ada H.O.T., S.E.S., Sechs Kies, Fin.K.L, dan para pelopor lainnya. Yuk, flashback ke masa ketika era idol K-Pop baru dimulai. (Pinterest)
Sebelum BTS dan BLACKPINK membawa K-Pop ke panggung dunia, ada H.O.T., S.E.S., Sechs Kies, Fin.K.L, dan para pelopor lainnya. Yuk, flashback ke masa ketika era idol K-Pop baru dimulai. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Sebelum ada BTS, BLACKPINK, SEVENTEEN, atau aespa, K-Pop memiliki masa ketika konsep idol group masih menjadi sesuatu yang relatif baru.

Jika ingin melihat awal mula K-Pop modern, salah satu titik yang paling sering disebut adalah 11 April 1992. Pada hari tersebut, Seo Taiji and Boys tampil di televisi Korea Selatan dengan lagu “Nan Arayo (I Know)”. Musik mereka membawa pengaruh hip-hop, New Jack Swing, dan rock ke dalam musik Korea yang saat itu masih banyak didominasi genre seperti trot dan balada.

Penampilan tersebut kemudian dianggap sebagai salah satu momen penting yang mengubah arah musik populer Korea. Seo Taiji and Boys bukanlah idol group dengan sistem trainee seperti yang dikenal sekarang, tetapi mereka menunjukkan bahwa anak muda Korea memiliki pasar musik yang besar dan menginginkan sesuatu yang berbeda.

Beberapa tahun kemudian, sistem idol mulai terbentuk dengan lebih jelas.

Baca Juga: On This Day: 10 Hal yang Terjadi pada 20 Agustus, dari Kemerdekaan Senegal hingga Penemuan Galaksi

Pada 1996, H.O.T. debut di bawah SM Entertainment. Grup ini sering dianggap sebagai salah satu grup idol generasi pertama yang membentuk cetak biru industri K-Pop modern. Para anggotanya dipersiapkan melalui sistem pelatihan yang mencakup kemampuan menyanyi dan menari sebelum akhirnya debut sebagai grup. 

H.O.T. kemudian diikuti oleh grup-grup lain seperti Sechs Kies, S.E.S., Fin.K.L, Baby V.O.X., Shinhwa, dan g.o.d. Industri mulai melihat bahwa sebuah grup dapat memiliki anggota dengan peran berbeda, konsep tertentu, koreografi yang mudah dikenali, serta fandom yang terorganisasi.

Pada masa itu, pembagian posisi juga mulai berkembang. Ada anggota yang lebih fokus pada vokal, rap, atau dance. Koreografi kelompok yang dilakukan secara sinkron menjadi salah satu ciri yang kemudian terus digunakan oleh generasi-generasi K-Pop berikutnya. 

Sistem fandom juga mulai terlihat berbeda dibandingkan musisi pop sebelumnya. Penggemar memiliki klub resmi, warna khusus, merchandise, hingga budaya mendukung idol secara berkelompok. Rivalitas antara fandom H.O.T. dan Sechs Kies, misalnya, menjadi salah satu contoh bagaimana fandom mulai menjadi bagian penting dari kehidupan seorang idol. 

Menariknya, teknologi pada masa itu tentu sangat berbeda dengan sekarang.

Baca Juga: Bukan Kereta Biasa, Hospital Train Bisa Jadi Rumah Sakit di Atas Rel

Belum ada TikTok, Instagram, YouTube, atau platform streaming yang memungkinkan lagu baru langsung didengar oleh penggemar di seluruh dunia. Promosi lebih banyak dilakukan melalui televisi, radio, majalah, acara musik, dan penjualan album fisik.

Karena itu, hubungan antara idol dan penggemar juga terbentuk melalui cara yang berbeda. Penggemar harus menunggu penampilan idol di televisi atau membeli album dan majalah untuk mendapatkan informasi terbaru.

Namun, banyak hal yang dibangun pada era tersebut masih bisa ditemukan dalam K-Pop saat ini.

Konsep trainee, pembagian posisi, koreografi grup, point choreography, fandom resmi, merchandise, hingga promosi melalui lagu utama semuanya berkembang menjadi bagian dari sistem idol yang jauh lebih besar pada generasi berikutnya. 

Perbedaannya adalah skala.

Jika idol generasi pertama terutama membangun popularitas di Korea dan Asia, idol generasi sekarang dapat memiliki penggemar dari berbagai negara bahkan sebelum melakukan debut. Musik juga dapat dirilis secara bersamaan ke seluruh dunia.

Tetapi fondasinya tetap memiliki hubungan dengan masa lalu.

Apa yang dilakukan H.O.T., S.E.S., Sechs Kies, Fin.K.L, dan grup generasi pertama lainnya membantu membentuk gambaran tentang seperti apa sebuah grup idol. Sementara Seo Taiji and Boys menunjukkan bahwa musik Korea dapat berubah dan mengadopsi berbagai pengaruh untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Jadi, ketika melihat K-Pop hari ini dengan konser stadion, jutaan streaming, album dengan berbagai versi, photocard, lightstick, hingga fandom global, sebenarnya ada sejarah panjang di belakangnya.

Sebelum K-Pop menjadi fenomena global, ada generasi pertama yang lebih dulu membangun dasar industri tersebut. (Luthfiana Sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar kpop old korea Entertainment kpop