55 Jam di Balik Kue Batik Jumbo Tasyi Athasyia yang Pecahkan Rekor MURI

Adi Pras • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:16 WIB
Tasyi Athasyia menunjukkan kue bermotif batik yang berhasil tercatat dalam rekor MURI. (instagram/@tasyiiathasyia)
Tasyi Athasyia menunjukkan kue bermotif batik yang berhasil tercatat dalam rekor MURI. (instagram/@tasyiiathasyia)

SOLOBALAPAN.COM – Tasyi Athasyia kembali membuat kreasi kuliner berukuran jumbo. Kali ini, bukan hanya ukurannya yang mencuri perhatian.

Permukaan kue tersebut dipenuhi motif batik. Karya itu dibuat Tasyi untuk menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.

Kue bermotif batik tersebut kemudian tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Kue Terbesar Bermotif Batik pada 14 Agustus 2026.

Pencapaian itu dibagikan Tasyi melalui akun Instagram pribadinya.

Dari kejauhan, kue tersebut tampak seperti satu bidang besar yang dipenuhi corak. Padahal, bentuknya tersusun dari sejumlah loyang bolu yang digabungkan menjadi satu.

Baca Juga: Suara Anna Kembali, Kristen Bell Bersiap Membuka Babak Baru Frozen

Tasyi dan tim menyiapkan 12 loyang dengan panjang sekitar satu meter. Potongan-potongan itu kemudian dirangkai hingga membentuk sebuah kue berukuran jumbo.

Ukuran besar tersebut bukan satu-satunya bagian yang membutuhkan perhatian. Permukaan kue juga harus disiapkan sebagai bidang untuk mengerjakan motif batik.

Ada tiga motif yang digunakan, yakni buketan khas Pekalongan, tumpal pucuk rebung, dan motif ulas.

Ketiganya menghiasi permukaan bolu dengan pola yang dibuat secara detail. Corak tersebut menjadi bagian yang paling mudah terlihat setelah seluruh loyang disusun menjadi satu.

Tasyi pun ikut mengerjakan motif tersebut.

Baca Juga: Nadine Chandrawinata Ungkap Cara Asuh Dua Putrinya, Terapkan Prinsip “Dengar dan Didengar”

Ia tidak hanya berada di balik proses pembuatan, tetapi turun langsung mengerjakan sejumlah detail bersama timnya.

Pengerjaannya membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dari tahap awal hingga seluruh kue selesai disusun, prosesnya menghabiskan sekitar 55 jam.

Waktu tersebut digunakan untuk beberapa tahap, mulai dari menyiapkan adonan, mencampur warna, mengerjakan motif hingga menyusun seluruh bagian kue.

Pencampuran warna menjadi salah satu tahap yang memakan waktu. Proses tersebut membutuhkan sekitar enam jam.

Setelah warna siap, pekerjaan berlanjut pada permukaan bolu.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Iblis, "Munafik: Melawan Iblis” Angkat Luka dan Pergulatan Batin

Motif batik dikerjakan satu per satu. Detailnya harus dibuat dengan teliti agar corak tetap terlihat jelas pada kue yang ukurannya jauh lebih besar dari bolu biasa.

Pekerjaan belum selesai setelah motif dibuat.

Bagian-bagian bolu yang sudah dihias masih harus disusun kembali menjadi satu. Penempatannya perlu diperhatikan supaya corak yang ada di setiap bagian tetap terlihat menyatu ketika seluruh loyang digabungkan.

Dari proses tersebut, terlihat bahwa kue jumbo itu tidak dibuat dalam satu tahap. Ada pekerjaan yang harus dilakukan berulang sebelum seluruh bagiannya bisa berdiri sebagai satu karya.

Batik dipilih karena kreasi tersebut memang disiapkan dalam rangka menyambut HUT ke-81 RI.

Baca Juga: Quiet Luxury Makin Populer, Kenapa Gaya Timeless Jadi Pilihan Banyak Orang?

Motif buketan khas Pekalongan, tumpal pucuk rebung, dan ulas kemudian menjadi corak yang mengisi permukaan kue.

Pilihan itu juga membuat kue tersebut tampil berbeda dari kreasi jumbo yang hanya mengandalkan bentuk atau ukuran. Ada pola yang harus dijaga, warna yang harus disiapkan, serta detail yang perlu dikerjakan di permukaan bolu.

Namun, setelah pencatatan rekor selesai, kue tersebut tidak hanya menjadi pajangan.

Tasyi memotongnya menjadi sekitar 1.000 bagian. Potongan-potongan itu kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Pembagian dilakukan menggunakan truk yang membawa kue tersebut ke jalanan. Tasyi datang bersama keluarga dan timnya untuk ikut membagikan kue.

Baca Juga: Dan Bandung Ingatkan pada AADC, Rudi Soedjarwo Punya Tantangan Baru

Karya yang sebelumnya tersusun sebagai satu kue besar pun berubah menjadi ratusan hingga ribuan potongan yang dibawa untuk dibagikan.

Bagi Tasyi, pencapaian ini juga bukan kali pertama namanya tercatat di MURI pada 2026.

Pada Juni, ia memperoleh rekor melalui sebuah lukisan yang dibuat menggunakan cokelat putih.

Jika sebelumnya cokelat putih digunakan sebagai media untuk membuat lukisan, kali ini bolu menjadi bidang untuk mengerjakan motif batik.

Dua karya tersebut sama-sama berangkat dari bahan yang dekat dengan dunia kuliner, tetapi dibuat dalam bentuk yang tidak biasa.

Baca Juga: Bukan Cuma Penyanyi, Agnez Mo Terus Memperluas Panggungnya

Kue bermotif batik ini juga mempertemukan dua hal dalam satu karya: kreasi makanan berukuran jumbo dan corak yang lekat dengan budaya Indonesia.

Setelah sekitar 55 jam dikerjakan, kue tersebut akhirnya tidak lagi berdiri sebagai satu karya utuh.

Potongan-potongannya dibawa keluar untuk dibagikan kepada masyarakat. Rekor MURI pun menjadi bagian dari perjalanan kue jumbo tersebut, sebelum akhirnya dinikmati bersama. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
HUT RI 81 Rahma Azra Calista Kue Batik rekor muri Tasyi Athasyia