Merdeka Secara Politik, Berdaulat Secara Ekonomi: Seberapa Jauh Indonesia Menentukan Nasibnya Sendiri?

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:24 WIB
Fenomena Merdeka secara Politik dan Berdaulat Secara Ekonomi. (AI Generated)
Fenomena Merdeka secara Politik dan Berdaulat Secara Ekonomi. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Pagi itu, kursi-kursi terdepan di lokasi upacara biasanya menjadi tempat yang mudah ditebak siapa penghuninya.

Pejabat, tokoh masyarakat, tamu undangan, hingga orang-orang yang memiliki posisi penting dalam pemerintahan lazim menempati area tersebut.

Namun, ada pemandangan yang berbeda dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Jawa Barat.

Di antara pakaian resmi dan seragam kedinasan yang memenuhi deretan tamu kehormatan, terlihat sosok yang sehari-hari lebih akrab dengan sawah dan lingkungan sekitar.

Mereka adalah petani dan petugas kebersihan yang mendapat kesempatan duduk di area VIP.

Kehadiran mereka bukan sebuah kebetulan.

Baca Juga: Tetangga Adrian Khalif Bagikan Momennya Bernyanyi di Acara 17-an RT

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memilih menempatkan masyarakat dari kalangan tersebut di kursi VIP sebagai bagian dari peringatan kemerdekaan.

Bagi sebagian orang, kursi mungkin hanya sekadar tempat untuk duduk.

Tetapi dalam sebuah acara resmi pemerintahan, lokasi tempat seseorang duduk dapat memiliki makna tersendiri.

Kursi VIP selama ini identik dengan penghormatan. Ia menjadi penanda bahwa seseorang dianggap memiliki posisi atau peran tertentu dalam sebuah acara.

Karena itu, ketika kursi tersebut diberikan kepada petani dan tukang sapu, pesan yang muncul menjadi berbeda.

Tidak ada jas mahal yang menjadi alasan mereka berada di sana. Tidak pula pangkat atau jabatan yang membuat nama mereka masuk dalam daftar tamu kehormatan.

Ada pekerjaan sehari-hari yang menjadi alasan.

Baca Juga: Geger Ruang Kerja Seskab Teddy Disulap Bak Bioskop, Netizen Keras Pertanyakan Sumber Anggarannya!

Petani bekerja dari tanah. Mereka menanam, merawat, dan memanen berbagai komoditas yang kemudian menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat. Pekerjaan tersebut berlangsung jauh dari ruang-ruang pemerintahan dan jarang mendapat perhatian ketika hasilnya tersedia di pasar.

Begitu pula dengan petugas kebersihan.

Sebelum sebagian besar masyarakat memulai aktivitas, mereka telah lebih dulu bergerak membersihkan jalan, mengangkut sampah, atau memastikan ruang publik tetap nyaman digunakan. Ketika lingkungan terlihat bersih, keberadaan mereka sering kali justru tidak terlihat.

Pekerjaan mereka baru terasa penting ketika tidak dilakukan.

Karena itulah, menempatkan petani dan petugas kebersihan di kursi VIP dapat dibaca sebagai bentuk penghargaan kepada profesi yang selama ini berada dekat dengan kehidupan masyarakat, tetapi tidak selalu mendapatkan panggung.

Dedi Mulyadi menghadirkan mereka bukan sekadar sebagai pelengkap suasana upacara. Kehadiran tersebut seperti memindahkan pusat perhatian: dari mereka yang biasa menerima penghormatan karena jabatan, kepada mereka yang bekerja tanpa banyak dikenal.

Ada pesan sosial yang ikut dibawa dalam keputusan tersebut.

Kemerdekaan tidak hanya dirayakan oleh orang-orang yang berdiri di balik podium atau mereka yang mengenakan pakaian kebesaran. Kemerdekaan juga dirasakan oleh petani yang menggarap lahan, pedagang yang membuka lapak, petugas kebersihan yang membersihkan jalan, serta jutaan masyarakat yang menjalani pekerjaan masing-masing.

Jika negara berbicara tentang pembangunan, maka mereka adalah bagian dari orang-orang yang membuat pembangunan itu dapat berjalan dalam kehidupan sehari-hari.

Petani menyediakan pangan. Petugas kebersihan menjaga lingkungan. Dua pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Kabar Duka Hollywood! Aktris Hayden Panettiere Meninggal Dunia di Usia 36 Tahun, Polisi Temukan Obat Ini

Pemandangan tersebut juga membuat suasana peringatan HUT RI terasa lebih membumi. Upacara tidak berhenti pada pengibaran Sang Merah Putih dan rangkaian seremoni, tetapi menghadirkan cerita tentang siapa saja yang sebenarnya ikut menjaga kehidupan di tengah masyarakat.

Ada sesuatu yang menarik dari posisi mereka di antara para pejabat.

Mereka tidak lagi berdiri sebagai orang yang dilayani. Pada hari itu, mereka justru menjadi tamu yang dihormati.

Bagi petani, kesempatan duduk di kursi VIP mungkin hanya berlangsung selama upacara. Begitu acara selesai, mereka dapat kembali ke sawah dan menjalani rutinitas seperti biasa.

Petugas kebersihan pun kemungkinan akan kembali pada pekerjaannya. Menyapu, mengangkut sampah, dan memastikan lingkungan kembali rapi ketika aktivitas masyarakat berlangsung.

Tetapi momen tersebut menyampaikan pesan yang jauh lebih panjang daripada durasi upacara.

Bahwa penghormatan tidak selalu harus diberikan berdasarkan jabatan.

Bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana tetap memiliki nilai ketika pekerjaan itu memberikan manfaat bagi banyak orang.

Dan bahwa perayaan kemerdekaan dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali siapa saja yang selama ini bekerja dalam diam.

Di tengah suasana HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kursi VIP itu akhirnya tidak hanya menjadi tempat duduk. Ia berubah menjadi simbol kecil tentang siapa yang dianggap penting dalam sebuah masyarakat.

Petani dan tukang sapu mungkin tidak setiap hari masuk ke ruang rapat pemerintahan. Mereka mungkin tidak memiliki jabatan untuk membuat keputusan besar.

Namun, ketika bendera Merah Putih berkibar dalam perayaan kemerdekaan, mereka juga memiliki alasan yang sama untuk berdiri tegak sebagai bagian dari bangsa ini.

Baca Juga: Jokowi Tiba di Istana Merdeka, Kenakan Baju Adat Bali Saat Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI

Sebab kemerdekaan bukan milik mereka yang namanya tercetak dalam daftar pejabat saja.

Kemerdekaan juga milik mereka yang setiap pagi berangkat ke sawah, mereka yang memungut sampah ketika orang lain baru memulai hari, dan semua orang yang bekerja agar kehidupan tetap berjalan.

Pada akhirnya, pemandangan petani dan tukang sapu duduk di kursi VIP mungkin terlihat sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul pertanyaan yang lebih besar yaitu Siapa sebenarnya yang layak disebut sebagai orang penting dalam sebuah negara?

Jawabannya mungkin tidak selalu berada di balik meja pemerintahan.

Kadang, jawabannya sedang berdiri di pinggir jalan dengan sapu di tangan. Atau sedang berada di tengah sawah, menunggu tanaman tumbuh dan menghasilkan sesuatu untuk orang lain.

Dan pada hari kemerdekaan itu, mereka mendapat tempat di barisan terdepan. (Siti Putri Lestari)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
HUT RI 81 Siti putri lestari pahlawan kemerdekaan indonesia