SOLOBALAPAN.COM – Hompimpa dan petak umpet pernah menjadi bagian dari permainan sehari-hari. Sebelum berlari atau mencari tempat persembunyian, dua permainan itu sering menjadi awal keseruan bersama teman.
Kini, keduanya muncul lagi dalam bentuk yang berbeda lewat karya MARBLES.
Setelah memperkenalkan diri melalui HOMPIMPA, girl group tersebut kembali membawa permainan masa kecil ke musik. Kali ini, petak umpet menjadi inspirasi untuk single Catch Me yang dirilis 12 Agustus 2026.
Namun, Catch Me tidak bercerita tentang permainan petak umpet secara harfiah.
Baca Juga: Putri Anne Blak-blakan Ungkap Alasan Lepas Hijab Usai Cerai dari Arya Saloka: Cuma Demi Suami
Konsepnya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang menyukai orang lain, tetapi masih malu untuk mengungkapkan perasaannya. Alih-alih mengatakan secara langsung, ia seperti memberi tanda dan berharap orang yang disukai mau mendekat lebih dulu.
Petak umpet ternyata cocok dengan cerita tersebut.
Ada yang bersembunyi, ada yang mencari. Ada yang ingin ditemukan, tetapi tetap berusaha tidak terlalu mudah ditangkap.
Dari permainan sederhana itu, MARBLES menemukan cara untuk menggambarkan perasaan yang sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Siapa yang tidak pernah pura-pura tidak peduli saat menyukai seseorang? Atau sengaja menunggu pesan masuk tanpa mau mengirim lebih dulu?
Hal-hal seperti itu mungkin terdengar sepele. Namun, ketika dipadukan dengan permainan yang sudah dikenal sejak kecil, ceritanya menjadi lebih ringan dan mudah dibayangkan.
Inilah yang membuat pilihan MARBLES menarik.
Mereka tidak mengambil konsep yang jauh dari keseharian. Permainan yang dulu dilakukan di halaman rumah, sekolah, atau lingkungan tempat tinggal justru dibawa ke dalam musik pop.
Hompimpa pun punya cerita serupa.
Dulu, permainan itu mungkin hanya dipakai untuk menentukan siapa yang harus berjaga atau mendapat giliran lebih dulu. Tidak ada yang memikirkan makna khusus di baliknya.
Sekarang, kata “hompimpa” justru menjadi judul lagu dan bagian dari identitas MARBLES.
Ada sesuatu yang familiar dari pilihan tersebut.
Mendengar “hompimpa” bisa mengingatkan pada telapak tangan yang diadu, teman-teman yang menunggu giliran, atau permainan yang baru selesai ketika hari sudah mulai sore.
Hal yang sama berlaku pada petak umpet.
Mungkin ada yang langsung teringat tempat persembunyian favorit. Ada pula yang ingat bagaimana rasanya menahan tawa ketika teman hampir menemukan tempat bersembunyi.
Kenangan seperti itu tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Satu kata atau satu permainan saja kadang sudah cukup untuk memunculkannya kembali.
Karena itu, langkah MARBLES dari HOMPIMPA ke Catch Me terasa seperti mengambil dua hal yang sudah akrab, lalu memberi keduanya cerita baru.
Di luar musik, hal serupa juga mudah ditemukan.
Lagu lama yang tiba-tiba muncul lagi di TikTok. Kamera digital yang kembali dipakai karena hasil fotonya dianggap lebih menarik. Atau jajanan sekolah yang mendadak dicari setelah seseorang membagikan kenangan tentangnya.
Tidak semuanya benar-benar kembali seperti dulu.
Yang berubah adalah cara menikmatinya.
Baca Juga: Arya Wedakarna Buka Suara Usai Dikritik Sudutkan Korban Rasisme di Bali, Tegaskan Kasus Sudah Damai
Musik lama bisa terdengar baru ketika ditemukan oleh pendengar yang berbeda. Barang lama bisa terlihat menarik ketika dipadukan dengan gaya sekarang. Begitu juga permainan masa kecil ketika ditempatkan dalam cerita sebuah lagu.
MARBLES tampaknya mengambil jalur itu.
Mereka tidak mengajak pendengar kembali bermain petak umpet. Mereka mengambil suasananya, lalu mengubahnya menjadi cerita tentang rasa suka dan keinginan untuk didekati.
Dari HOMPIMPA hingga Catch Me, permainan masa kecil menjadi salah satu warna yang muncul dalam karya mereka.
Hompimpa yang dulu dipakai untuk menentukan giliran kini menjadi judul lagu. Petak umpet yang dulu berakhir ketika semua teman ditemukan kini berubah menjadi gambaran seseorang yang berharap ditemukan oleh orang yang disukainya.
Permainannya memang sudah lama berlalu.
Tetapi di tangan MARBLES, kenangannya mendapat bentuk baru lewat musik. (Rahma Azra Calista)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com