SOLOBALAPAN.COM – Ivan Gunawan membawa batik Sekar Jagat Madura ke ruang pamer yang berbeda. Melalui NUSANOVA 2.0 “Sekar Jagat”, ia tidak hanya menampilkan koleksi busana, tetapi juga menghadirkan batik sebagai bagian dari instalasi mode.
Pameran tersebut kini mendapat penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). NUSANOVA 2.0 tercatat sebagai Pameran Busana Imersif Pertama Berbasis Corak Batik Sekar Jagat Madura.
Kabar itu disampaikan Ivan melalui akun Instagram pribadinya. Ia menyebut pameran tersebut dikunjungi 2.253 orang selama tujuh hari penyelenggaraan.
Baca Juga: Saat Belanja Jadi Cara Memanjakan Diri, Kenali Bedanya Self Reward dan Self Sabotage
Penghargaan MURI itu menjadi pencapaian baru bagi NUSANOVA 2.0. Sebelumnya, pameran ini memang dibuat dengan konsep yang tidak sekadar menempatkan busana sebagai koleksi untuk dilihat.
Batik Madura Jadi Pilihan Utama
Pada NUSANOVA edisi pertama, Ivan menggunakan beberapa jenis wastra, mulai dari tenun, songket hingga batik. Untuk edisi kedua, ia memilih satu wastra sebagai pusat eksplorasi, yakni batik Madura.
Pilihan itu kemudian mengarah pada motif Sekar Jagat khas Pamekasan, Madura.
Ivan menyebut batik Madura memiliki karakter yang kuat. Motifnya beragam, warnanya cerah, dan tampilannya cukup berani.
Baca Juga: Tiga Bulan Jadi Mama, Alyssa Daguise Ingin Waktu Berjalan Lebih Lambat
Karakter tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam koleksi NUSANOVA 2.0. Ivan memecah susunan motif dalam satu helai kain untuk diterapkan ke berbagai bagian busana. Beberapa detail juga diberi aplikasi payet.
Tidak semua rancangan dibuat dalam bentuk yang sama. Ivan menghadirkan busana dengan pendekatan avant-garde, sekaligus koleksi ready-to-wear yang lebih mudah dikenakan.
Dengan cara itu, batik Madura tidak hanya ditempatkan sebagai bahan untuk busana formal. Motifnya dibawa ke bentuk fashion yang lebih modern.
Busana Tidak Hanya Dipajang
Konsep imersif menjadi bagian penting dalam NUSANOVA 2.0. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat hasil akhir sebuah rancangan.
Baca Juga: Saat “Harus Bisa” Mulai Terasa Menekan, Ini yang Harus Dilakukan
Pameran ini juga memperlihatkan proses kreatif yang ada di balik busana. Ruang pamer dirancang agar perjalanan sebuah karya dapat dinikmati lebih dekat, dari proses penciptaan hingga hasil akhirnya.
Bagi Ivan, pameran tersebut juga ditujukan untuk masyarakat yang memiliki ketertarikan pada fashion. Ia secara khusus menyebut pencinta kain dan wastra serta pelajar sekolah mode sebagai bagian dari publik yang ingin ia ajak melihat koleksinya secara langsung.
Karena itu, NUSANOVA 2.0 tidak hanya menjadi tempat untuk memamerkan pakaian. Fashion ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa dilihat, dipelajari, sekaligus dinikmati sebagai karya seni.
Pameran tersebut juga mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan dan dibuka oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Saat menghadiri pameran, Fadli menilai perancang busana memiliki peran dalam membawa wastra Indonesia, termasuk batik, ke panggung internasional.
Berujung pada Rekor MURI
Setelah tujuh hari penyelenggaraan, NUSANOVA 2.0 mencatat 2.253 pengunjung. Angka tersebut menjadi bagian dari pencapaian yang kemudian mendapat pengakuan MURI.
Penghargaan dengan nomor 12844/R.MURI/VIII/2026 diserahkan di Jakarta pada 9 Agustus 2026.
Bagi Ivan, penghargaan tersebut bukan hanya soal rekor. Dalam unggahannya, ia menyampaikan terima kasih kepada tim, artisan, kolaborator, keluarga, sahabat, tamu, media, dan pihak lain yang terlibat dalam NUSANOVA 2.0.
Baca Juga: Wajahnya Disebut Mirip Zendaya, Ini Sosok Azizah Atlet Pencak Silat Asal Lombok
Pencapaian itu sekaligus menambah catatan perjalanan NUSANOVA sebagai lini fashion yang membawa wastra Nusantara ke bentuk penyajian yang berbeda.
Kali ini, batik Sekar Jagat Madura tidak hanya hadir sebagai motif pada busana. Motif tersebut menjadi dasar sebuah pameran yang mempertemukan fashion, instalasi, dan pengalaman ruang hingga akhirnya tercatat dalam rekor MURI. (Rahma Azra Calista)
Editor : Adi Pras