SOLOBALAPAN.COM - Ada satu lagu yang sudah menemani perjalanan Nadin Amizah sejak dirinya belum menjadi Nadin yang dikenal seperti sekarang.
Lagu itu bukan “Rumpang”, bukan “Sorai”, melainkan “Moonlight”, sebuah lagu berbahasa Inggris yang akhirnya resmi dirilis pada 7 Agustus 2026.
Menariknya, “Moonlight” bukan lagu yang baru dibuat Nadin untuk menyambut album terbarunya.
Lagu tersebut justru sudah ditulisnya ketika masih duduk di bangku SMA.
Bertahun-tahun kemudian, lagu itu masih disimpan. Nadin bahkan beberapa kali membawakan “Moonlight” dalam penampilannya sejak masa awal karier.
Namun, lagu tersebut belum pernah mendapatkan perilisan resmi seperti karya-karya Nadin lainnya.
Baca Juga: Social Withdrawal di Era Digital: Ketika Terhubung Justru Melelahkan
Kini, setelah melewati perjalanan musik yang cukup panjang, Nadin akhirnya memutuskan melepas “Moonlight” kepada publik.
Bukan tanpa alasan, lagu yang berasal dari masa remajanya tersebut justru dipilih menjadi pembuka menuju album ketiganya, Laika, Yang Ditinggalkan.
Pilihan ini membuat “Moonlight” terasa seperti titik temu antara Nadin yang dulu dengan Nadin yang sekarang.
Sebuah karya yang lahir dari seorang remaja kemudian kembali dibawa oleh dirinya yang sudah jauh berkembang sebagai musisi.
Bagi pendengar lama, perilisan ini juga seperti membuka kembali sebuah bagian dari perjalanan Nadin yang sebelumnya hanya bisa ditemukan lewat penampilan panggung.
Sementara bagi pendengar yang baru mengenalnya, “Moonlight” menjadi perkenalan menuju dunia baru yang sedang disiapkan Nadin melalui Laika, Yang Ditinggalkan.
Ada hal lain yang membuat lagu ini cukup berbeda.
“Moonlight” menggunakan bahasa Inggris, sedangkan Nadin selama ini lebih identik dengan karya-karya berbahasa Indonesia yang dikenal melalui pilihan kata dan liriknya yang khas.
Namun, keputusan menggunakan lagu lama sebagai pembuka album baru justru memperlihatkan bahwa Nadin tidak selalu harus memulai sesuatu dari nol.
Baca Juga: Tantri Kotak Rayakan Usia 37 Tahun, Arda Naff Tulis Pesan Menyentuh
Sebuah karya yang pernah dibuat bertahun-tahun lalu masih bisa menemukan tempat ketika waktunya sudah tepat.
Setelah video lirik resmi “Moonlight” dirilis, respons pendengar pun mulai bermunculan di YouTube.
Banyak yang menyambut lagu tersebut sekaligus mengungkapkan antusiasme terhadap karya Nadin berikutnya.
“Aku selalu excited ketika Nadin mengeluarkan album baru. Semoga panjang umur yaa Nadin, suaramu sangat indah untuk didengar,” tulis seorang pendengar.
Komentar lainnya datang singkat dalam bahasa Inggris, “Beautiful song, as always. Thanks Nadin!”
Antusiasme tersebut menjadi menarik karena “Moonlight” bukan hanya diperlakukan sebagai sebuah single baru.
Bagi sebagian pendengar, lagu ini seperti tanda bahwa Nadin sedang membuka kembali pintu menuju fase musik berikutnya.
Dan ada sesuatu yang cukup manis dari perjalanan lagu ini.
Saat pertama kali menulis “Moonlight”, Nadin masih seorang anak SMA yang mungkin belum mengetahui sejauh apa lagu tersebut akan membawanya.
Baca Juga: Dari Panggung Musik ke Istana, Ghea Indrawari Bernyanyi Bersama PM Thailand
Bertahun-tahun kemudian, lagu yang sama justru berada di posisi penting dalam karya terbarunya.
Dari lagu yang dulu hanya tersimpan dan sesekali terdengar di atas panggung, “Moonlight” kini menjadi bagian resmi dari katalog musik Nadin.
Lebih dari itu, lagu tersebut menjadi gerbang pertama menuju Laika, Yang Ditinggalkan.
Seolah-olah Nadin sedang membuka album barunya dengan membawa sesuatu dari masa lalu, lalu mengajaknya berjalan bersama menuju cerita yang baru.
“Moonlight” akhirnya tidak lagi hanya menjadi lagu yang pernah Nadin tulis. Kini, lagu itu punya rumah. (Rastri Rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto