Kadam Sidik dan Perdebatan tentang Standar Perempuan di Media Sosial

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 20:25 WIB
Kadam Sidik. (instagram/@basyasman)
Kadam Sidik. (instagram/@basyasman)

SOLOBALAPAN.COM - Media sosial kembali ramai memperdebatkan cara pandang tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga.

Kali ini, sorotan mengarah pada pernyataan Kadam Sidik mengenai posisi laki-laki yang menurutnya harus menjadi “raja” di dalam keluarga.

“Kalau di rumah tangga laki-laki harus jadi raja, harus dihormati.

Kalau kalian bilang aku gila hormat, iya aku gila,” kata Kadam dalam pernyataannya yang kemudian ramai dibicarakan.

Baca Juga: Abdel & Sang Anak Nyanyikan Lagu Favorit Mendiang Temon, Jadi Momen Penuh Kenangan

Pernyataan itu semakin menjadi sorotan ketika Kadam juga menyebut perempuan yang nanti bersamanya adalah sosok yang harus “membuang banyak sekali mimpi-mimpinya”.

Dua pernyataan tersebut lantas memunculkan tafsir berbeda.

Sebagian warganet menilai pandangan itu dekat dengan pola pikir patriarkis karena menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas dalam rumah tangga. 

Kalimat mengenai perempuan yang meninggalkan mimpi juga dipandang berpotensi menguatkan anggapan bahwa pernikahan menuntut perempuan lebih banyak berkorban.

Namun, ada pula yang justru menganggap pernyataan tersebut tidak sepenuhnya keliru.

Dalam tafsir ini, istilah “raja” tidak dimaknai sebagai laki-laki yang bebas memerintah istrinya. Sebaliknya, menjadi raja berarti mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga.

Laki-laki dituntut hadir ketika keluarga membutuhkan perlindungan, mengambil keputusan, serta menjalankan kewajibannya terhadap rumah tangga.

Kekhawatiran muncul ketika bagian tentang tanggung jawab tersebut dipisahkan dari tuntutan untuk menghormati pasangan.

Sebab, keinginan untuk dihormati tidak otomatis memberikan seseorang hak untuk mengatur seluruh kehidupan pasangannya.

Karena itu, sebagian orang kemudian menggunakan perumpamaan yang sama: jika laki-laki ingin menjadi raja, maka perempuan di sampingnya juga harus diperlakukan sebagai ratu.

Perumpamaan tersebut mengubah makna “raja” dari sekadar posisi menjadi hubungan timbal balik.

Baca Juga: Yura Yunita, Idgitaf & Feby Putri Nyanyikan “Tutur Batin”, Kolaborasi Tiga Vokal yang Memukau

Laki-laki boleh memimpin, tetapi perempuan tetap memiliki suara. 

Suami dapat mengambil tanggung jawab, tetapi istri bukan berarti kehilangan hak untuk menentukan pilihan dalam hidupnya.

Persoalan lain muncul dari kalimat tentang perempuan yang meninggalkan mimpi-mimpinya.

Pernikahan memang sering membuat seseorang mengubah prioritas. 

Ada pasangan yang memilih salah satu pihak fokus pada keluarga, ada yang tetap bekerja, dan ada pula yang membagi tanggung jawab secara bersama.

Tidak ada satu pola yang mutlak berlaku bagi semua rumah tangga.

Yang perlu dibedakan adalah antara pengorbanan yang dipilih dengan pengorbanan yang dianggap sebagai kewajiban berdasarkan gender.

Seorang perempuan dapat memilih meninggalkan karier karena kesepakatan bersama.

Namun, keputusan tersebut tidak semestinya dianggap sebagai harga yang harus dibayar setiap perempuan setelah menikah.

Di sinilah perdebatan mengenai pernyataan Kadam menjadi lebih luas daripada persoalan satu figur.

Baca Juga: Sempat Diremehkan, Rafly Febian Kini Justru Dipuji karena Dinilai Family Man dan Pandai Mengasuh Anak

Media sosial sedang memperlihatkan perubahan cara generasi sekarang memandang rumah tangga.

Peran suami dan istri tidak lagi selalu dibicarakan dalam pola hitam-putih tentang siapa yang memimpin dan siapa yang mengikuti.

Banyak pasangan memilih membagi peran berdasarkan kemampuan, kondisi ekonomi, maupun kesepakatan pribadi.

Karena itu, istilah “raja” dan “ratu” mungkin tidak perlu dipertentangkan sebagai soal siapa yang lebih tinggi. Jika keduanya digunakan untuk menggambarkan hubungan yang sehat, maka keduanya semestinya membawa konsekuensi yang sama: saling menghormati.

Sebab, menjadi raja bukan sekadar tentang mendapatkan penghormatan. Ada tanggung jawab yang harus dipikul bersamanya.

Begitu pula menjadi ratu bukan berarti harus menyerahkan seluruh mimpi kepada rumah tangga. Ia tetap memiliki kehidupan, pilihan, dan cita-cita yang layak dihargai.

Pada akhirnya, perdebatan tentang Kadam Sidik memperlihatkan satu hal sederhana: persoalan rumah tangga bukan hanya tentang siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu dijalankan tanpa menghilangkan suara pasangan. (Rastri Rafiarum)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Kadam Sidik patriarki rumah tangga perempuan