Komentar Adem Dr. Gia, Tanggapi Nakes Yang Dirujak Netizen Gara-Gara Komentar Miring Kepada Yurizal, Pasien BPJS Yang Meninggal Dunia

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:41 WIB
dr. Gia Pratama. (instagram/@giapratamamd)
dr. Gia Pratama. (instagram/@giapratamamd)

SOLOBALAPAN.COM - Unggahan sederhana di Threads mendadak kembali menjadi sorotan setelah kabar duka datang beberapa hari kemudian.

Seorang pengguna bernama Yurizal, sebelumnya menuliskan keluhannya karena sudah delapan jam belum mendapatkan ruangan di rumah sakit.

Dalam unggahan tersebut, Yurizal (@yurizaltrich) juga menyinggung soal BPJS.

Ia mengatakan tidak ingin menyebut nama rumah sakit tempatnya dirawat, karena khawatir persoalan tersebut justru melebar karena dirinya menggunakan BPJS Kesehatan.

Baca Juga: Viral! Lansia Di Wonogiri Disebut Telantar, Dinas Sosial: Sering Dapat Bansos Dari Pemerintah

Keluhan itu awalnya hanya menjadi bagian dari percakapan di media sosial.

Namun, setelah Yurizal dikabarkan meninggal pada 31 Juli, unggahan tersebut kembali muncul dan mendapat perhatian lebih luas.

Pihak keluarga kemudian menjelaskan, bahwa akun tersebut merupakan milik sepupu mereka.

Dalam unggahan lanjutan, keluarga menyebut Yurizal meninggal setelah sebelumnya berada dalam kondisi yang sudah darurat. Menurut keluarga, dia terlambat mendapatkan penanganan rumah sakit.

Keluarga juga meminta warganet tidak melanjutkan hujatan. Mereka menjelaskan bahwa Yurizal selama ini bukan seseorang yang banyak bercerita mengenai kondisi sakitnya kepada keluarga.

Di tengah unggahan yang kembali ramai itu, salah satu komentar lama turut menjadi sorotan.

Komentar tersebut mempertanyakan keluhan Yurizal mengenai keterbatasan ruang rumah sakit.

Alih-alih memberikan empati, komentar itu justru menyampaikan kalimat yang dianggap menyakitkan, termasuk menyebut ruang jenazah selalu kosong.

Komentar tersebut kemudian memicu kemarahan warganet.

Perdebatan pun bergeser dari persoalan keluhan seorang pasien menjadi pembicaraan yang lebih luas mengenai sikap tenaga kesehatan terhadap pasien dan keluarganya.

Ketika kemarahan publik mulai mengarah kepada tenaga kesehatan, dokter Gia Pratama memilih untuk tidak ikut memperpanjang pertikaian.

Ia justru menyampaikan pesan kepada sesama dokter dan tenaga kesehatan agar kembali mengingat tanggung jawab yang melekat ketika mengenakan seragam profesi.

Baca Juga: Reaksi Puncak Akumulasi Kecewa! Kuasa Hukum Sarwendah Beberkan Alasan Kliennya Marah Besar dalam Video CCTV

“Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi,” tulis Dr. Gia.

Menurutnya, tenaga kesehatan memang menghadapi pekerjaan yang tidak ringan.

Kelelahan, tekanan, keterbatasan fasilitas, kepadatan IGD, persoalan rawat inap hingga rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS merupakan hal-hal yang setiap hari dihadapi.

Namun, Dr. Gia kemudian mengajak para tenaga kesehatan melihat persoalan tersebut dari sisi yang berbeda.

Pasien tidak selalu memahami semua kerumitan itu.

Mereka tidak mengetahui bagaimana rumah sakit mengatur kamar, bagaimana proses pemindahan pasien berlangsung, atau berapa banyak pasien lain yang sedang membutuhkan pertolongan pada waktu yang sama.

Yang mereka rasakan adalah sakit, cemas, takut, dan ketidakpastian ketika harus menunggu.

“Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien,” tulisnya.

Bagi Dr. Gia, menjadi pasien bahkan bisa menjadi pengalaman yang menakutkan.

Tubuh terasa asing, pikiran dipenuhi kekhawatiran, sementara waktu seolah berjalan lebih lambat. Kondisi itu, menurutnya, dapat dirasakan siapa pun, bahkan oleh orang yang setiap hari bekerja di rumah sakit.

Baca Juga: Tak Hanya Cepat, Ini Keunggulan CR400 Fuxing, Kereta Andalan China yang Menginspirasi Whoosh

Di situlah pesan Dr. Gia tidak sekadar menjadi pembelaan terhadap pasien maupun tenaga kesehatan. Ia seperti berusaha menarik kedua pihak untuk melihat posisi masing-masing.

Tenaga kesehatan tetap manusia yang bisa lelah dan berada di bawah tekanan. Tetapi ketika mengenakan seragam profesinya, ada tanggung jawab untuk tetap menjaga sikap dan mengendalikan emosi.

Sementara itu, pasien juga bukan sekadar nama dalam antrean atau bagian dari sistem pelayanan kesehatan. Mereka adalah manusia yang sedang berada dalam kondisi paling rentan dan membutuhkan rasa aman.

Polemik yang muncul dari unggahan Yurizal akhirnya membawa pembicaraan lebih jauh dari sekadar persoalan satu komentar.

Ada pertanyaan tentang bagaimana tenaga kesehatan seharusnya merespons keluhan pasien, terutama ketika keluhan tersebut disampaikan di ruang publik.

Di tengah perdebatan itu, Dr. Gia memilih tidak memperbesar jarak antara pasien dan nakes. Ia justru mengingatkan bahwa keduanya sama-sama manusia, hanya sedang berada di sisi yang berbeda.

Tenaga kesehatan berhadapan dengan lelahnya pekerjaan. Pasien berhadapan dengan takutnya sakit.

Dan di antara dua kondisi tersebut, profesionalitas dan empati seharusnya tetap berjalan beriringan. (rastri rafiarum)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Yurizal dr. gia dokter bpjs nakes