SOLOBALAPAN.COM – Seorang influencer Endang Yustika kembali menjadi sorotan publik, setelah melontarkan pernyataan yang menyebut Threads sebagai "tempat paling toxic di muka bumi".
Ucapan tersebut viral di berbagai media sosial, karena disampaikan di tengah ramainya kritik yang ditujukan kepadanya, akibat unggahan yang dianggap kontroversial.
Perdebatan bermula ketika Endang mengunggah sebuah pernyataan yang berbunyi, "Terima fakta kalau lo gapunya uang lo gapunya nilai. Pahit tapi fakta".
Kalimat singkat tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memancing ribuan komentar dari warganet.
Banyak pengguna internet membagikan ulang unggahan tersebut disertai tanggapan yang beragam, mulai dari kritik hingga pembelaan.
Sebagian besar warganet menilai pernyataan itu tidak sensitif atau Tone deaf.
Menurut mereka, kalimat tersebut seolah mengukur nilai seseorang hanya berdasarkan kondisi ekonomi atau jumlah harta yang dimiliki.
Kritik pun bermunculan karena banyak yang berpendapat bahwa setiap manusia memiliki nilai yang sama tanpa memandang latar belakang ekonomi, pekerjaan, maupun status sosial.
Baca Juga: Dulu Dianggap Norak, Kini Gaya Biduan Jadi Inspirasi Outfit Hipdut Gen Z
Tidak sedikit pula pengguna media sosial yang menganggap pernyataan tersebut berpotensi melukai perasaan masyarakat yang sedang berjuang menghadapi kondisi ekonomi yang sulit.
Mereka menilai, di tengah tingginya biaya hidup dan tantangan mencari pekerjaan, narasi seperti itu justru dapat memperburuk stigma terhadap kelompok masyarakat dengan penghasilan rendah.
Meski demikian, sebagian pengguna internet mencoba melihat konteks yang lebih luas dari pernyataan Endang.
Ada yang menilai bahwa unggahan tersebut merupakan gambaran mengenai realitas sosial yang masih terjadi di masyarakat, di mana seseorang sering kali diperlakukan berbeda berdasarkan kondisi finansialnya.
Kelompok ini beranggapan bahwa Endang sedang menyampaikan kritik terhadap kenyataan sosial, meskipun pilihan kata yang digunakan dianggap terlalu keras dan mudah menimbulkan multitafsir.
Kontroversi yang terus berkembang membuat nama Endang menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan di Threads maupun platform media sosial lainnya.
Berbagai tangkapan layar unggahan, video tanggapan kreator konten, hingga diskusi panjang mengenai makna kalimat tersebut bermunculan.
Perdebatan bahkan meluas menjadi pembahasan mengenai hubungan antara kekayaan, status sosial, dan cara masyarakat memandang seseorang.
Di tengah derasnya kritik, Endang akhirnya memberikan respons melalui unggahan lain. Ia mengaku tidak menyimpan dendam kepada siapa pun, tetapi secara khusus menyebut komunitas pengguna Threads sebagai yang paling toxic menurut pengalamannya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Hobi, Kolektor Ini Rela Rogoh Ratusan Ribu demi Tape Deck Tetap Hidup
"Aku tuh gak pernah dendam sama siapapun, kecuali warga Threads. Tempat paling toxic di muka bumi ini menurut aku Threads," tulis Endang dalam unggahannya yang kembali ramai dibagikan oleh warganet.
Pernyataan tersebut justru memicu gelombang diskusi baru.
Sebagian pengguna Threads menganggap ucapan Endang sebagai bentuk kekecewaan setelah menerima banyak kritik dari pengguna platform tersebut.
Namun, tidak sedikit pula yang menilai komentar itu sebagai bentuk generalisasi terhadap seluruh pengguna Threads, sehingga kembali mengundang perdebatan.
Di sisi lain, ada pula warganet yang mendukung pendapat Endang.
Mereka menilai Threads memang dikenal sebagai platform yang dipenuhi diskusi tajam, kritik terbuka, hingga perdebatan panjang mengenai berbagai isu.
Menurut mereka, karakter pengguna Threads memang cenderung lebih aktif dalam menyampaikan opini secara langsung dibandingkan platform media sosial lainnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah unggahan di media sosial dapat berkembang menjadi diskusi nasional dalam waktu singkat.
Pernyataan seorang figur publik tidak lagi hanya menjadi konsumsi para pengikutnya, tetapi dapat menyebar luas ke berbagai platform dan memunculkan beragam interpretasi dari masyarakat.
Kasus yang dialami Endang Yustika juga menjadi gambaran bahwa ruang digital saat ini tidak hanya menjadi tempat berbagi pendapat, tetapi juga arena diskusi publik yang sangat dinamis.
Setiap unggahan dapat memicu respons positif maupun negatif, terutama ketika menyentuh isu yang berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Baca Juga: Sentuhan Kreatif dalam Pembelajaran Agama, SkeNU Hadirkan Buku Panduan Salat Anak Skena
Hingga kini, perdebatan mengenai unggahan Endang Yustika maupun komentarnya terhadap Threads masih terus berlangsung.
Sebagian pihak menilai kritik yang diterimanya merupakan bagian dari kebebasan berpendapat di ruang digital, sementara pihak lain menganggap respons warganet sudah berlebihan.
Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya memilih diksi yang tepat dalam menyampaikan opini di media sosial agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun polemik yang berkepanjangan. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto