SOLOBALAPAN.COM – Aktor muda Ari Irham mengaku sempat diliputi keraguan saat dipercaya menjadi pemeran utama dalam film Seni Merayu Tuhan. Bukan karena tuntutan akting semata, melainkan karena karakter yang diperankannya terasa begitu dekat dengan pengalaman hidupnya sendiri.
Dalam konferensi pers di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (15/7), Ari mengungkapkan bahwa dirinya mengikuti proses casting tanpa ekspektasi tinggi. Bahkan, saat itu ia merasa kondisi mental dan spiritualnya belum berada dalam situasi terbaik.
"Pas casting, saya lagi ada sesuatu. Saya merasa belum fit secara spiritual maupun mental. Saya ikut casting tanpa berharap akan mendapatkan peran itu," ujar Ari.
Baca Juga: 110 Tahun PSM Makassar: Dari Klub Tertua Indonesia hingga Ikon Identitas Masyarakat Sulsel
Tak Menyangka Terpilih Jadi Pemeran Utama
Saat mengikuti proses audisi, Ari hanya mendapatkan dua adegan, termasuk satu adegan adzan yang kemudian muncul dalam trailer film. Tanpa mengetahui keseluruhan cerita, ia menjalani casting apa adanya.
Seminggu kemudian, Ari mendapat kabar bahwa dirinya terpilih sebagai pemeran utama.
Kabar tersebut justru membuatnya terkejut sekaligus khawatir.
"Saya jujur takut memerankan Hikmah karena ceritanya terlalu dekat dengan kehidupan saya sendiri," ungkap aktor berusia 24 tahun itu.
Menurut Ari, kemiripan tersebut justru membantunya membangun emosi saat memerankan karakter Hikmah.
Karakter Hikmah Jadi Cerminan Gen Z
Dalam film garapan sutradara Cesa David Luckmansyah, Hikmah digambarkan sebagai seorang pemuda yang tengah berduka setelah kehilangan ibunya.
Rasa kehilangan itu membuat Hikmah mengalami kebingungan, kemarahan, sekaligus pencarian makna hidup. Di tengah pergolakan batin tersebut, ia perlahan menemukan ketenangan melalui perjalanan spiritualnya.
Ari mengaku banyak sisi dalam diri Hikmah yang terasa sangat dekat dengannya.
"Saya merasa Hikmah adalah gambaran Gen Z zaman sekarang. Setelah menonton filmnya, saya merasa kisah ini sangat reflektif dan banyak bagian yang saya rasakan sendiri," katanya.
Adegan yang Paling Menguras Emosi
Salah satu adegan yang paling membekas bagi Ari adalah ketika karakter Khoir—yang diperankan Teuku Ryzki—menegur Hikmah.
Dalam adegan itu, Hikmah dipaksa menghadapi kenyataan bahwa dirinya terlalu merasa paling benar dan enggan mendengarkan orang lain.
"Saat adegan itu saya benar-benar menangis. Saya merasa seperti sedang bercermin pada diri sendiri," tutur Ari.
Ia menilai momen tersebut menjadi titik emosional yang sangat kuat dalam perjalanan karakter Hikmah.
Proses Pendalaman Karakter
Ari juga mengapresiasi pendekatan sutradara Cesa David Luckmansyah yang tidak hanya mengarahkan pemain melalui pembacaan naskah (reading), tetapi juga membuka ruang diskusi dari hati ke hati.
Menurutnya, proses tersebut membuat seluruh pemain lebih memahami sisi psikologis karakter yang mereka perankan.
Film Seni Merayu Tuhan sendiri diadaptasi dari buku karya Habib Jafar dengan judul yang sama. Berbeda dengan buku yang lebih bersifat reflektif, film ini menghadirkan kisah yang lebih naratif tanpa meninggalkan pesan spiritual yang menjadi inti ceritanya.
Melalui perjalanan Hikmah, film ini mengajak penonton untuk merenungkan kehilangan, pencarian makna hidup, dan pentingnya berdamai dengan diri sendiri. (an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com