Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Jerome Polin Ngaku Kena Senggol Buzzer Usai Komentari Kasus Nadiem Makarim: Bingung Cari Keadilan!

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 1 Juli 2026 | 16:11 WIB
Jerome Polin.
Jerome Polin.

SOLOBALAPAN, VIRAL — Ketukan palu hakim Tipikor yang menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, memicu gelombang respons masif.

Tidak hanya menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sipil, putusan hukum tersebut juga memantik reaksi emosional dari sejumlah figur publik, salah satunya influencer dan YouTuber ternama, Jerome Polin.

Kreator konten yang dikenal lewat kemampuan matematika dan konten edukasinya tersebut secara terbuka meluapkan rasa kecewa mendalam sekaligus pesimisme personal terkait arah masa depan penegakan hukum dan keadilan sosial di tanah air.

Ungkapan Sakit Hati dan Hilangnya Optimisme Bangsa

Melalui unggahan di fitur cerita Instagram (Instagram Story) pribadinya pada Rabu (1/7/2026), pria yang memiliki lebih dari 10,7 juta pelanggan di YouTube tersebut merefleksikan keprihatinannya pasca-sidang putusan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook bergulir.

Baca Juga: Jerome Polin hingga Bunga Jelitha Kecam Aksi Julia Prastini alias Jule, Sindir Lemahnya Cancel Culture di Indonesia

Bagi Jerome, dinamika hukum yang menimpa mantan menteri tersebut seolah menjadi titik balik berkurangnya rasa optimisme dalam dirinya terhadap ekosistem keadilan di Indonesia.

"Sakit. Kayaknya udah ga ada harapan buat negara ini," tulis Jerome Polin singkat namun sarat akan kekecewaan mendalam melalui akun media sosialnya.

Tabel Analisis Keresahan Publik dan Kritik Sosial ala Jerome Polin

Guna memetakan poin-poin kegelisahan sosiologis yang disampaikan oleh Jerome Polin terkait terbatasnya ruang aspirasi masyarakat saat ini, berikut adalah resume komparatifnya:

Bentuk Aspirasi Rakyat Hambatan / Kontra-Narasi Lapangan Refleksi & Dampak Psikologis
Vokal di Media Sosial Dilawan oleh pergerakan pasukan bising (Buzzer). Hak bersuara digital tersumbat dan menciptakan kebingungan publik.
Aksi Demonstrasi Fisik Dipecah dan dihadapi oleh massa aksi tandingan bayaran. Perubahan struktural di tingkat kebijakan menjadi nihil dan stagnan.
Pemberian Kontribusi Nyata Dianggap berakhir pada indikasi kriminalisasi oleh sistem. Mematikan motivasi generasi muda untuk berinovasi demi negara.

Soroti Fenomena Kontra-Narasi Buzzer dan Ironi Kriminalisasi

Lebih lanjut, Jerome menguliti realitas mengenai betapa sulitnya ruang bagi masyarakat umum untuk menyuarakan kritik konstruktif di era digital.

Ia mempertanyakan jalan keluar apa lagi yang bisa ditempuh oleh rakyat jika jalur diplomasi digital maupun aksi turun ke jalan selalu dipatahkan oleh narasi-narasi buatan yang melemahkan gerakan murni masyarakat.

"Jujur at this point aku bingung, kita sebagai rakyat tuh bisa apa sih? Speak up di sosmed udah, nggak didengar. Dilawan pakai buzzer lagi. Demo udah, nggak ada perubahan. Dilawan pakai demo bayaran. Ada cara apalagi? Se nggak bisa ngapa-ngapain itu kah? Asli bingung dan bertanya-tanya, apa masih ada harapan?" lanjutnya meluapkan kekesalan.

Di akhir pernyataannya, Jerome mengaitkan situasi ini dengan sosok Nadiem Makarim yang dinilainya memiliki rekam jejak kontribusi besar sebelum masuk ke lingkaran birokrasi.

Ia merasa ironis ketika seseorang yang dianggap membawa pembaruan teknologi dan pendidikan justru harus berakhir di balik jeruji besi atas kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp2,18 triliun tersebut.

Pernyataan berani Jerome ini langsung membelah opini netizen di media sosial.

Sebagian besar mendukung karena merasa aspirasinya terwakili, sementara sebagian lain mengingatkan Jerome agar tetap objektif melihat fakta persidangan yang diputuskan oleh Majelis Hakim berdasarkan bukti korupsi pengadaan Chromebook yang sah secara hukum.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#nadiem makarim #buzzer #Jerome Polin